SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
86. The Angel The Hero


__ADS_3

-----&&&&&-----


"Leona, apa itu masih perlu?"


"Menurutmu? Kalau menurutku sendiri sih iya, iya masih diperlukan."


"Aku memang sudah waktunya sembuh. Akhir-akhir ini memang sudah mulai terasakan, rasa mati rasa dibagian bawahku sudah terasa makin berkurang. Apalagi kalau sudah bertemu bawahmu."


"Ishh...pikiran mesum ituuu, coba deh dikurangi, naaak."


"Oh jangan, bu. Jangan sampai pernah berkurang. Kalau aku tak semakin mesum, kau akan semakin merasakan bosan saat bersamaku."


"Hahaha...betul juga kau, kid."


"Tapi coba kudengar dulu kejujuranmu. Kau lebih suka aku yang lurus-lurus saja, datar-datar saja, atauu....aku yang sedikit memperlihatkan sisi kebrengsekanku?"


"Hihi...lurus-lurus saja dan datar-datar saja itu masuk dalam kategori yang bersifat biasa-biasa saja. Dan kau sudah tahu kalau aku...hehe, alergi pada yang seperti itu."


"Achh, iya benar juga. Aku lupa. Baru ingat. Ya-ya, aku masih ingat perkataanmu yang tentang itu. Dan oke, aku sudah paham sekarang."


"Jadi bagaimana, apa kita perlu pergi ke dokter memeriksakan recovery-mu ini? Sore nanti misalnya? Bagaimanapun juga kesimpulan akhirnya ada pada diagnosa dokter, Lion."


"Okeh. Baiklah. Tapi jangan nanti sore. Besok pagi saja. Kita sekalian mengecekmu juga."

__ADS_1


"Aku sih ngerasa baik-baik saja. Tapi terserah deh, kalau aku juga perlu di check-up, aku oke juga lah."


"Oke...begitu saja."


"Kau senang, Lion? Kau bahagia sudah bisa berjalan normal lagi?"


"Hm-mh! Tentunya, sayang. Pastinya. Akhirnya keajaiban itu datang juga. Berkatmu. Hehe..."


"Idiih...jangan dihubungkan ke aku. Kau akhirnya bisa sembuh itu, murni karena kemampuanmu sendiri. Bukan karena lewat caramu menolongku. Biarpun bukan lewat cara itu, ketelatenan upayamu itu tetap akan bisa menyembuhkanmu lewat cara apapun yang lain. Kebetulan saja saat ini aku sedikit banyak terlibat."


"Yeahh, apapun lah. Pokoknya buatku pribadi kau sejak awal memang benar-benar sudah menjadi bak malaikat bagi hidupku."


"Hehe...how sweeet."


"Hihihi... and i love you too....my Heee- mwahh -ro!"


"Thank you, babe. Jadi ngomong-ngomong tentangg...keinginanmu itu --"


"Hahaha...ini kau yang sudah baru yang mengatakan itu, kenapa ya malah bikin aku jadi deg-degan aneh gini mendengarnya? Rasanya jadi gimanaa gitu. Hihi..."


"Hehehe...yeahh, aku bisa paham."


"Terserahmu deh, Lion?"

__ADS_1


"Lho koq terserahku? Kenapa harus jadi terserahku?"


"Hehe...ngga tauuu...aku malah jadi bingung sekarang kalau diajak bicara tentang itu."


"Ooo...oke, aku rasa aku bisa menangkap apa maksudmu ini."


"Iya. Begitulah."


"Oke...mmm, bagusnya tetap ditunda saja. Aku benar-benar ingin meneruskan seperti apa yang pernah kukatakan padamu dari awal kemarin-kemarin itu."


"Ohh..."


"Jangan khawatir. Kita akan secepatnya menikah. Nanti akan kuhubungi keluargaku yang disini barulah yang disana. Bagaimana, apa kau ingin bertemu dan berbicara dengan beberapa dari mereka lewat Skype?"


"Oh astaga. Yang di New York juga? Apa itu harus?"


"Bukan suatu keharusan. Kalau kau memang tak ingin, tak perlu dipaksakan. Terserahmu juga."


"Ya ampuuunn...aku sebenarnya siap tak siap. Tapi baiklah, kalau tidak kumulai dari sekarang, ya tetap saja hal itu nantinya harus terjadi juga.'


"Exactly. Jadi, ku perantarakan kau dengan mereka, kau mau?"


"Oke, aku mau. Tapi bantu aku bicara. Temani aku jangan pergi kemana-mana. Kau harus stand by mengawalku selama aku sedang berbicara dengan mereka."

__ADS_1


"Haha...kau belum apa-apa sudah lebih dulu ketakutan begini. Lihat, rasakan sendiri, tanganmu gemetaran memegangi lenganku ini."


__ADS_2