SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
22. Si Pembikin N'jlimet


__ADS_3

Dan murah senyum...dan telah meminta Leona untuk jadi pacarnya.


Sudah, begitu saja.


Sesederhana itu saja.


Leona tak mau dipusingkan pertanyaan apa ia sebenarnya sungguh-sungguh cinta Lionel atau tidak. Terserah itu mau di bilang apa atau ditafsirkan bagaimana. Pokoknya ia mau Lionel. Titik.


Kursi rodanya?


Apa itu masalah?


Tidak sama sekali.


Jadi, yeahh... Leona menginginkan Lionel.


"Hellooow...are you still heeeere?"

__ADS_1


Tangan Anita melambai didepan wajah Leona.


Leona segera kembali mendarat ke bumi sambil mencoba tersenyum pada Anita. Malah dapat respon geleng-gelengan kepala dari wanita itu. Membuat Leona jadi tak enak hati juga.


"Sorry, Nit. Ngelamun sebentar tadi." Leona malah makin menjadi-jadi kepinginin curhat pada sang sahabat demi melihat wanita itu merayapi wajah Leona, meneliti bersungguh-sungguh bias wajah Leona yang masih saja tak enak dilihat Anita sejak dari rumah sejam lalu sampai di sekarang ini manakala Leona  lebih dulu menyelesaikan makannya yang tak habis.


Dalam kalimat lembut dan serius Anita berujar, "Mungkin orang yang sudah melarangmu cerita itu ngga paham kau itu susah kalo mau nutupin perasaanmu dariku, Leona. Larangannya bikin kau jadi njlimet gini dimataku. Aku bisa baca."


Balik menekuri wajah Anita, Leona menahan nafas sedetik dua detik untuk kemudian membebaskannya perlahan sembari sedikit memelorotkan pundak. Ngga tau saja Anita kalau orang itu bukan siapa-siapa tapi Lionel.


"Iya sih Nita, kau sahabatku sejak 17 18 tahun lalu. Sudah dalem banget bisa ngertiin akunya. Sedangkan orang itu -"


"Ha?"


"Ada sesuatu yang sudah terjadi diantara kalian berdua. Sesuatu yang justru bikin kau jadi njlimet. Itu dugaanku. Aku sangat yakin ngeduga begitu. Walau belum ada keyakinan apa sebenarnya sesuatu itu. Hanya ku anggap seperti itu saja mengingat kau tiba-tiba stop bicara tentang dia ke aku.


Dan jangan berkilah kau itu lagi dipusingin hal lain.

__ADS_1


Kau ngga mungkin lagi dipusingin hal dalam keluarga. Orangtua dan kakak adikmu sedang baik-baik saja... Tak mungkin tentang keuangan, kau dan keluargamu bukan orang yang berkekurangan.


Pekerjaan? Ngga mungkin. Pekerjaanmu sudah bertekuk lutut padamu. Dan ngga mungkin juga tentang cowok lain. Belum ada cowok lain itu yang bisa membuatmu bertekuk lutut padanya, sepanjang yang kutau selama ini tentang dirimu dan hidupmu."


Seketika terperangah demi mendengar ketepatan pernyataan panjang lebar Anita, Leona menahan diri agar tidak menambah reaksi lain secara berlebih agar tak semakin terbaca Anita, sambil ia segera berpikir keras didalam benak mencari cara berkelit dari sang sahabat yang duduk dibagian seberang meja makan mereka itu.


Jangan jadi gugup, Leona. Rileks saja. Jangan jadi salah tingkah. Terutama sekali, jangan jadi paniiiik!


"Lionel?" Leona berlagak memasang ekspresi dan bicara sebiasa mungkin. Dilengkapi kerucut bibir dan gelengan kepalanya, "Negatip. Bukan. Aku udah ngga pernah lagi komunikasi sama dia."


Itu ada benarnya dan ada juga unsur bohongnya.


Tapi nah lho, kenapa Anita malah tertawa?


Anita menderaikan tawa. Tawa geli. Tawa yang malah bikin Leona...sontak deg-degan.


Kuatir sebenarnya Anita mengetahui sesuatu. Misalnya tentang Lionel yang mengajak dirinya berpacaran?

__ADS_1


"Yakin nih bukan tentang Lionel yang ada dalam keenjlimetanmu ini tapi ada hal lain? Kutantang kau untuk membuktikannya dengan aku langsung menelpon dia sekarang juga. Berani? Berani kau bantah kalo kau sudah dengar apa kata Lionel nanti begitu dia ku investigasi?"


__ADS_2