
Pria itu menukas sambil meremas salah satu bukit pay*dara Leona dibawah telapak tangannya yang masih ditangkup wanita itu.
Remasan yang tepat betul pada pusat sang buah dada kiri, menciptakan sensasi geliat kecil ke yang empunya.
"Kekamar sekarang juga. Ayo. Tapi tunda dulu bercintanya. Kita hanya akan bermain sebentar lalu tidur. Istirahat. Kau setuju?"
Segera Leona menganggukkan kepala, "He eh. Setuju. Memang itu yang aku mau," ia mengakui sejujurnya dalam suara bagai tercekik, "Haku sebenarnya memang sudah cape bangeeeet.."
-----&&&&&-----
__ADS_1
Telusuran elusan yang terkesan malas-malasan saja...namun sesungguhnya mengandung pesan sarat akan rasa kasih dan menyayang dirasakan Lionel terhadap seorang Leona, dinikmati dan diresapi oleh wanita itu dengan mata memejam seadanya.
Meniduri punggung telapak tangan kiri pada sisi kanan wajah diatas kasur sementara telapak tangan kanan terulur telah menjadi alas sisi kiri wajah Lionel diatas kasur bagiannya, wanita itu membiarkan telapak tangan kanan sang kekasih terus memberi belaian perlahan, mengeksplor leluasa permukaan telanjang bukit kembar pay*daranya.
Sesekali menyebabkan juga wanita itu menyuarakan gumaman samar lenguhan memanja apabila terasakannya suatu waktu telapak tangan berpermukaan setengah kasar Lionel menekan, atau merangkum penuh untuk meremas keras, mengalirkan sensasi kedalam diri wanita itu yang justru lebih memacu adrenalinnya dibanding saat berheli tadi.
Tapi kalau Lionel terus saja memanjainya seperti ini hingga keduanya merasakan hasrat terbangkitkan sedikit demi sedikit lewat adegan demi adegan yang sedang mereka lakukan, Leona pikir mungkin bisa saja mereka akan segera berakhir melakukan bercintaan yang sebenarnya itu di detik ini juga.
Belum ingin berhenti saat ia sesaat lalu membisik supaya pria itu mulai tidur saja, Lionel enggan untuk berhenti. Diisyaratkan lewat gelengan kepala tanpa suara itu. Akhirnya Leona pun menyerah.
__ADS_1
Dari menahan diri sewaktu sedang berada didalam rumah lamanya dan kini pria itu akhirnya berhasil juga mendapatkan apa yang dimaui, sepenuh dan sepuas hati pria itu berkesempatan memainkan tangan kanan pada bongkah membukit pay*dara Leona.
Dari yang semula saling berpandang-pandangan dalam diam pada posisi wajah dan tubuh miring berhadapan dimasa pengeksploran dengan Lionel mengusap, memijat, merangkum dan meremas hingga mengulum...segera berhenti tepat dikuluman pertama itu juga karena Lionel sendiri yang memutuskan menghentikan dirinya untuk tidak mengikut-sertakan mulut sekadar demi untuk mencegah hasrat dan birah agar tidak semakin terbangkitkan dengan memuncak.
Dari guliran waktu yang tiada henti didalam ruang tidur berpendingin rata-rata itu saja... Leona sampai pada suatu pemikiran tertentu dalam benaknya, yang sebetulnya diakhir-akhir ini memang itu sudah masuk dalam pemikirannya.
Kalau saja Leona menemukan Lionel yang sekarang sebagai seorang pria pen-ja'im, kaku, konvensional atau bahkan cenderung menjaga jarak, mengingat dulu dia dikenal sebagai pelajar cowoq nan kalem tak banyak tingkah selama berada di sekolah dan kelas, mungkin saat ini Leona tidak akan pernah merasakan perasaannya kian hari kian terkesan dan mendalam terhadap pria itu.
Bertransformasi menjadi seorang Lionel yang mendewasa, terbuka, mengasyikkan, perhatian, mesra, romantis dan sejenisnya dan sejenisnya yang hebat lain dalam kedekatannya yang kedua kali dengan pria itu ini, Leona mendapati dirinya kian melebur kedalam diri pria itu.
__ADS_1