SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
85. Trima Kasih Sudah Menyelamatkanku (kejutan...)


__ADS_3

Kembali Leona beruraian airmata dalam dekapan erat tubuh Lionel pada tubuhnya. Meletakkan sisi wajah rapat disisi wajah Lionel. Membiarkan telapak tangan pria itu mengusap sepanjang punggung dan sesekali kerambut belakangnya.


"Makasih, Lionel. Makasih sudah menyelamatkan nyawaku. Makasih kamu...tepat waktu nolong aku."


Airmata wanita itu berderaian tak tercegahkan. Teringat dirinya tak akan lagi ada disini bersama Lionel andai pria itu tak datang menyelamatkannya.


Membikin merinding secara terlambat sekarang disekujur tubuh wanita itu, berikut debaran yang juga tercipta belakangan...


"Sudah jalan Tuhan, sayang, kau masih bisa selamat. Aku juga berterima kasih padamu, kau sudah selamat."


"Lioooonn...kamu malah bikin aku jadi makin sedih dan terharuu..."


"Jangan. Jangan jadi seperti itu. Maafkan, lupakan. Apa kau sekarang baik-baik saja? Ada yang tak enak kau rasakan? Apa kita perlu memanggil Dokter untuk memeriksa kondisimu ini?"


"Ngga. Tak usah. Aku baik-baik saja. Aku sudah selamat begini, aku tak butuh apapun yang lain."


Suara parau dan isak tertahan Leona menularkan kesenduan itu kedalam perasaan Lionel.


Ada berapa banyak tubuh perempuan yang pernah ia peluki?

__ADS_1


Apakah pernah ada yang selembut dan senyaman ini terasakan olehnya?


Bagaimana tubuh molek semolek wajah yang empunya ini meluruh pasrah dalam buaiannya, semakin erat lagi mendekap manakala Lionel mencoba hendak memberi kecupan pada sisi wajah namun sang kekasih enggan merenggangkan diri mereka...Lionel tertawa singkat.


Tidak, belum pernah ada.


Belum pernah ada yang lain yang terasakan begitu berarti penuh makna dibandingkan pada keberadaan Leona ini didalam pelukannya.


Tidak pernah ada sebelumnya.


Memeluk tubuh wanita ini serasa membuat pikiran Lionel menemui kebuntuan. Selalunya. Buntu dengan ingin segera saja mencengkramai diri wanita ini.


"Kau mau sarapan sekarang, Leona? Sudah jam 7. Waktunya kita sarapan. Kau mau menu apa?"


"Tentu, sayang. Apapun yang kau inginkan, aku akan selalu ikut kau."


"Kalau begitu, temani aku disini. Tidur lagi denganku. Aku masih butuh kamu menemani aku disini.'


"Baiklah. Kita disini saja dulu sampai mud mu kembali. Tapi tunggu sebentar, ada yang harus kulakukan diluar sana."

__ADS_1


Mematikan mesin cuci pakaian dibelakang, sekaligus memberi kejutan kehadapan sang kekasih.


Lionel sudah tak tahan lagi, sudah ingin sesegera mungkin kembali menjahili dan menggodai perasaan wanita itu.


Pria itu mengurai pelukan mereka berdua, membantu Leona membaringkan diri kembali. Bisa merasakan keengganannya memisahkan diri ini.


"Tidurlah lagi kalau masih mengantuk, sayang. Aku tak kan lama."


"Hm-mh. Memang. Aku masih ngantuk banget. Ngantuk dan capek banget. Kalau bisa pulas, kepingin tidur sampe sore saja rasanya untuk menebus hutang tidur sambil menenangkan diri."


Menunggu Leona memejamkan mata, wanita kekasihnya ini rupanya masih juga belum ngeh dengan situasi mereka berdua disini, ia pun mulai memejamkan matanya.


Senyum simpul Lionel merekah. This is the time, the show time.


Pria itu memberi jarak waktu beberapa saat.


Mau akan terjadi seperti apapun nanti, ia hanya ingin melakukannya seperti ini dulu, seperti yang sedang terpikirkannya di sekarang ini. Namun tetap akan melakukannya penuh kehati-hatian hanya supaya hati sang kekasih tidak perlu menjadi terguncang ke kedua kali karenanya.


Gadisnya masih memejam, ia memastikan.

__ADS_1


Menyengajakan diri secara perlahan sekali beringsut, beranjak dari tepi ranjang untuk kemudian berdiri tegak sambil memastikan sekali lagi, lalu Lionel bergerak mengayun langkah...


Satu langkah, dua langkah, tiga langkah menjauhi ranjang...pria itu pun dikejutkan oleh suara pekikan tertahan dari belakangnya...


__ADS_2