SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
69. Bertemu Si Capung Raksasa Helikopter, Akhirnya...


__ADS_3

"Hehehe...." cengir Anita, "Kabarku baik, say. Seperti yang sedang kau lihat, aku sudah menikah dan pria jangkung berkacamata plus itu suamiku Ryan. Dan ketiga kurcaci itu ekor-ekorku. Dari yg paling gede David, Sally dan si bontot Dita. Ayo deh, kalian pada kenalan. Mas Ryan, kurcaci-kurcaci, ayoh di salim Om Lionel nya. Dipanggil Om saja ngga apa-apa ya, Lioon?"


"Oke."


"Ryanto."


"Lionel."


"David!...Sally hihi...Ditaaa..."


"Om Lionel Agustian..."


-----&&&&&-----


Beres sudah ronde pertamanya.


Selanjutnya ronde kedua, melayang terbang membelah malam di atas langit kota Jakarta menuju Bandung berdurasi kurang lebih 45 menit.


Tepat pukul 10 malam Lionel sudah berada dalam salah satu lift hotel bersama Leona dan pak Randu menuju lantai puncak dari bangunan hotel Great Bigbang.

__ADS_1


Hanya Lionel yang mampu menyediakan sebuah capung raksasa bertengger gagah di puncak sana pada lokasi helispot, menggigilkan sekujur tubuh Leona begitu melihat bentukan helikopter pribadi berwarna bodi hitam dan biru itu. Heli, lagi-lagi milik keluarga besar Everton.


Oh Tuhan, akhirnya bertemu muka juga dengan si capung raksasa itu, erang Leona didalam hati.


Dan kemewahan lain apalagi yang akan segera tersodorkan bagi Leona seiring makin berkembangnya hubungan dirinya ini dengan Lionel?


Kini dihadapannya sudah disodorkan sebuah benda asing baru, menghampar pada helipad berwujud sesuatu yang sesungguhnya teramat menakutkan dan mengerikan bagi wanita itu dalam membayangkan cara penggunaannya, yang sesaat lagi pasti akan segera mengguncangkann...kehidupannya.


Mamaa...doakan putrimu ini sanggup kuat lahir bathin. Aku mau terbang naik helikopteeer...!


-----&&&&&-----


Sesaat tadi begitu sudah tiba diatas puncak gedung hotel, Leona bisa melihat sebuah helikopter terparkir pada helipad itu sudah dalam keadaan mesin menyala siap lepas landas.


Dua orang berada di dalam heli, salah seorang bergegas turun dengan membungkukkan diri selandai mungkin menghindari terpaan kencangnya angin, menyambut dengan menghampiri baik Leona maupun Lionel yang masih berada diatas kursi rodanya,


Pria gagah jangkung itu menyapa Lionel dengan volume suara ditinggikan guna mengimbangi bunyi suara keras dari heli,


"Slamat malam, pak Lionel!"

__ADS_1


"Malam mas Guntur! Siap berangkat??" Lionel juga menaikkan volume suara.


"Siap, pak! Silahkan!"


"Oke! Trima kasih!"


"Sama sama, pak Lionel! Slamat malam, bu Leona! Saya Guntur yang akan menjadi copilot pak Randu dalam penerbangan malam ini. Dan rekan saya didalam itu adalah Budi."


"Ha? Co-co pilot...copilot-pak-Randu?"


Lionel yang memberi penjelasan pada Leona,


"Leona, pak Randu yang akan mempiloti heli ini, sayang. Beliau sudah biasa menerbangkan helii."


"Haaa?"


"Mari, silahkan naik bu Leona. Saya akan mengantar ibu lebih dulu ke kursi belakang.


Heli ini memuat 4 kursi penumpang dan 2 kursi di cockpit, bu Leona. Kita akan terbang di ketinggian maksimum 6000 meter dari permukaan tanah dengan kecepatan terbang 200km/ jam dan waktu tempuh kurang lebih 45 menit hingga tiba di Bandung nanti. Mari bu, silahkan."

__ADS_1


Jadi Leona akan dinaikkan lebih dulu sesudah wanita itu melihat pak Randu pamit pada Lionel lalu pak Randu berjalan menghampiri heli, merunduk-runduk dibawah terpaan angin diatas kepala hasil dari putaran baling-baling heli.


Pak Randu terlihat begitu percaya diri masuk ke dalam kabin sisi kanan cockpit untuk segera mengambil alih pengoperasian capung raksasa biru hitam itu.


__ADS_2