
"Hm?" Lionel berpaling dari layar laptop ke arah wajah Leona disisi kanan duduknya, menemukan sinaran menyendu mata kekasihnya itu dalam melihat padanya. Ada pancaran rasa bersimpati disana, lantas Lionel mengulas senyum bermaksud ingin menenangkan sang kekasih.
Ia menggelengkan kepala, menyahut jujur dan tulus,
"Sedikitpun itu tak pernah. Aku tidak sedang berbohong. Aku justru akan merasa sangat kehilangan dan kepikiran jika sehari saja aku tak menyentuh E Technos. Jelasnya, karena aku sebenarnya seorang workaholic. Maniak kerja. Ambisius dan nyaris serakah. Dalam tanda kutip."
Oh ya ampunnn...sudah sampai pada taraf sebegitunya rupanya.
Sesuai cerita pak Randu tempo hari.
Semakin ia memahami pria kekasihnya ini, semakin Leona dirambahi perasaan lebih bangga lagi.
Lionel tak pernah berhenti membuat wanita itu terkagum padanya, terutama akan hal yang berhubungan dengan perusahaan. Keren. Makin mendambakannya saja rasanya.
__ADS_1
"Aku akan menemanimu di sana, workaholiker, mulai dari saat ini. Bolehkah?"
"Hahaha...kenapa harus kau tanyakan lagi? Sudah dari berminggu-minggu...atau mungkin berbulan-bulan? sejak berbulan-bulan lalu aku lebih dulu meminta itu padamu, Leona."
"Lioneeell.."
"Just come with me, be there for me no matter what. Dampingi aku, temani aku, cuma kau Leona yang kupercaya bisa melakukan itu dengan baik untukku."
"Aaaahh...ngga tau. Tapi semoga saja kau tidak salah dalam mempercayai aku."
Ujung-ujungnya berakhir ke keromansaan.
Begitu Lionel memajukan wajah untuk mengecup cepat bibir Leona, serta merta wanita itu menyambarkan gigitan kecilnya ke bibir bawah Lionel yang membuat pria itu akhirnya mengajak Leona berciuman.
__ADS_1
Berciuman, bermesraan dan bercengkrama, amat sangat mengasyikkan. Menjadi candu.
Sambil merogohkan telapak tangan kebalik kaus t-shirt merah yang dikenakan Lionel, mencari kepuasan disitu diantara adegan berciuman yang akhirnya mereka berdua lakukan seperti biasa dengan penuh semangat...tangan Leona merabai kulit kencang seputar perut rata kekasihnya itu. Senang saat merasai reaksi geliat samar dari kulit dibawah sentuhannya itu.
Menuntun hasrat, Lionel berdiri diikuti gadisnya, untuk memberi keleluasaan bagi tangan Leona mengeksplori tubuh pria itu.
Pada akhirnya Lionel sudah membawa diri mereka berdua berjalan sambil terus berciuman lalu berhenti tepat di dinding ruang makan itu, Lionel menyudutkan diri Leona diantara satu sisi dinding dan satu sisi lemari rak buku setinggi hampir 2 meter, berpikir sudut ini terasa lebih menantang untuk dijadikan tempatnya mencumbui Leona, ingin tau akan seperti apa reaksi sang kekasih bila diposisikan dikurung begini.
Setelah berminggu-minggu ini Lionel hanya cuma bisa membayangkan, mengkhayalkan seperti apa rasanya berdiri dihadapan Leona lalu meraih tubuh wanita itu dan membawanya masuk kedalam pelukan...kini Lionel sedang berusaha mewujudkan impian demi impiannya itu menjadi kenyataan.
Memperhatikan Leona pasrah tak bisa kemana mana menghindari percumbuannya, hanya bisa mengandalkan pegangan tangannya pada Lionel atau pegangan tangan pria itu yang setengah menopang Leona agar tidak perlu benar-benar terkulai melorot menanggung reaksi menggeliat menggelinjangnya, itu sangat memancing sekali gairah dalam diri Lionel.
Terpojok di sana, dengan ganti tangan-tangan lincah sang kekasih merabai dan meremas bagian atas tubuhnya, bahkan masih menyusul menurun kebawah sebelum menempelkan bagian bawah mereka berdua, Leona tersadarkan pada satu hal:
__ADS_1
Kemarin-kemarin rasanya tidak se-'mengintimidasi' seperti di saat ini.
Malah mungkin Leona yang terkesan melakukan hal seperti itu terhadap Lionel, wanita itu sangat menyadarinya, karena kekasihnya itu sekian waktu mereka bersama hanya bisa duduk saja dikursi roda.