SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
68. Bertemu Anita, Akhirnya...


__ADS_3

Sangat mengerti apa yang dimaksudkan oleh Leona ini, Lionel pun memperdengarkan tawa tertahan,


"Oke oke oke. Aku paham. Dan aku janji. Janji pramuka. Biarpun aku sudah begitu ingin menerkam dan menelanmu bulat-bulat dengan menelanj*ngimu lalu menidur*mu di sini dikursi mobil ini saat ini juga, aku janji...akan menjaga tanganku agar tidak bandel menggerayang dan mengacak-acakmu."


Leona segera saja mencicit tertahan menahan gemas, "Lioneeell..."


Hampir saja membuat Lionel menggelakkan tawa keras, "Okee....beautiful lady, i got you i got you. Just come inside. Hurry. I wanna kiss you before the time is too late. Come on, get inside."


Too late. Pak Randu keburu muncul membuka pintu kemudi, membuyarkan niat Lionel tadi yang sudah ingin memberi sekadar kecupan di pipi memerah muda Leona.


Pak Randu melangkah masuk kedalam mobil pada balik kemudi lalu menyalakan mesin mobil.


Sesudah Leona yang akhirnya berdehem lebih dulu lalu masuk dan beres mengambil tempat disisi kiri dudu Lionel, kendaraan sedan itu pun meluncur meninggalkan jalan besar di ujung gang rumah tantenya Leona...


Harum lembut parfum Leona...

__ADS_1


Memenuhi lagi penciuman Lionel. Memabukkan daya pikir waras pria itu...semakin dirasa ingin meluapkan energinya yang menginginkan Leona di saat itu juga kalau saja situasi sangat memungkinkan baginya melakukannya.


Kekasihnya ini tak pernah berhenti membuat hatinya merasa tertawan...terlebih pada saat ini begitu sudah berada disisi duduknya, tanpa merasa berdosa Leona sengaja menggoda perasaan Lionel dengan memberi pujian pada pria itu, dibisikkan seraya mengulum senyum penuh arti dekat ke telinga Lionel yang masih memandang padanya dengan aura dan bahasa tubuh masih bersiratkan hasrat dibalik keterpesonaan.


"Cakepnyaa..." Leona membisiki Lionel disusul guyonnya, "Kamu punya siapa? Ada yang punya gak? Boleh kenalan?"


Seperti biasa jahil menjahili, Lionel menyahut tak mau kalah mengguyonkan kata-katanya, balas membisik menyahuti Leona,


"Of course babe, tentu. Boleh. Kebetulan sedang tidak ada yang punya. Bagaimana kalau ku tunggu di Red Rose? Kita kenalan yang lebih berkenalan lagi disana? Hm?"


Ditanggapi Leona dengan kikik tanpa suara, wanita itu mendorong pelan bahu Lionel dengan bahunya dalam sikap tubuh memanja menggoda,


Lionel pura-pura melongok kedalam saku kemeja lengan panjang biru tuanya,


"Pokoknya ada lah." kerdip kedua mata pria itu dengan nakal pada Leona.

__ADS_1


"Hihihi...beres kalau begitu. Lanjut!" Leona pun balas mengerdip cepat pada kedua matanya.


Terus saling mencandai lewat kata-kata yang tetap dibisikkan sepelan mungkin dan gerakan tubuh samar saling disentuhkan sedemikian rupa, Lionel dan Leona melalui perjalanan mereka menuju Hotel Great Bigbang dengan aman dan selamat selama hampir satu setengah jam dengan tanpa terasakan.


------&&&&&-----


"Ya ampuuuunn...ini beneran kamu tho Lioneeeell... Aaaa, kangen bangeeeett...lama ngga ketemuaannn..."


Sang emak jadi heboh sendiri, segera mendapat sorot pandang nyinyir dari ketiga putra putri Anita.


Ryan suami Anita cukup maklum dengan membiarkan saja wanita istrinya itu maju untuk memeluk tubuh atas Lionel dan keduanyapun bercipika-cipiki.


Sementara Leona hanya menyenyumi momen temu kangen Anita dengan Lionel sembari bertukar pandang dan senyum sekilas dengan Ryan.


"Apa kabar, Anita?" Senyum Lionel.

__ADS_1


"Very good very fine. Tapi aku ngga ngerti English, kamu masih bisa bahasa Indo?" Sahut Anita pada Lionel dengan balik bertanya.


Tertawa kecil Lionel menjawab, "Barusan aku menyapamu dalam bahasa Indonesia, kau saja yang malah menyahut bahasa Inggris."


__ADS_2