SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
35. Nyawa Yang Hampir Berakhir Di Jalanan


__ADS_3

Demi untuk menghadirkan kenyamanan situasi pada kursi belakang ini, Lionel membiarkan dirinya dan Leona berdiam sejenak dalam keheningan...memberi waktu bagi mereka berdua terlarut dalam alam pikiran masing-masing.


Nun masih di kejauhan sana...pak Randu nampak hanya mengkonsentrasikan diri pada kemudi dan jalanan saja tanpa berniat sesering mungkin melihat pada kaca spion diatas kepala, memperhatikan kearah sang majikan dibelakang duduknya. Meski sebenarnya pria 57 tahun itu cukup menyimak situasi di kursi belakang.


"Tadi itu sebenarnya...sangat menegangkan, Lionel." Gumaman Leona seolah menujukan bicara pada diri sendiri. Memecah kebisuan. "Biarpun kau bilang ada pak Randu berjaga-jaga, aku tetap tak bisa membayangkan kamu mungkin bisa saja jatuh lalu mengalami luka lagi atau bahkan keseleo yang fatal karena kamu kan...belum benar-benar kuat...me-mengangkat dirimu seperti tadi."


Kembali terjeda hening.


Tepat sesuai apa yang di duga Lionel, ternyata benar Leona mengkhawatirkan seperti apa yang direka Lionel dalam benak.


...............masih hening.


"Ini yang lebih menegangkan,"

__ADS_1


Lionel merogoh dan mengeluarkan HP dari dalam saku jas. Pandangan Leona mengikuti gerakan yang dilakukan pria itu menyalakan HP untuk mencari sebuah video dari Galery dan begitu didapat, pria itu memperlihatkan tayangan si video ke hadapan Leona.


"Video apa?" Leona menerima dan memegang HP yang diselipkan tangan Lionel sendiri ke dalam pegangan tangannya yang pria itu raih lembut. Sempat berakibatkan getaran feminin dalam desiran darah manakala persentuhan sekilas kedua kulit tangan mereka seolah di anggap lalu oleh Lionel tapi tidak bagi Leona...wanita itu merasakan bagai tersengat aliran listrik arus lemah disentuh dan di pegang tangan Lionel sedemikian. Untunglah suara Lionel yang terdengar bisa segera mencegah termunculkannya lebih jauh ke permukaan reaksi dari perasaan berdesir Leona.


Kata Lionel kalem, "Tontonlah sebentar. Itu video dari rekaman CCTV."


"Ohh..." Leona paham, melupakan persentuhan menggetarkan perasaan tadi. Tayangan dalam video edit di HP Lionel dalam pegangan tangan kiri kini mulai diamati Leona secara serius hingga akhirnya perlahan terperangahlah wanita itu...dengan mata membelalak tak percaya, memandangi ngeri ke dalam layar HP...


Ekspresi ngeri diwajah Leona bertahan beberapa detik kemudian hingga tayangan video berakhir tepat di menit ke 2 detik ke 12.


Untuk sesaat, wanita itu kesulitan mengalihkan pandang dari layar HP. Masih terpaku.


"Nyawaku hampir saja berakhir di jalanan itu." Bisik Lionel dekat di telinga Leona saat mengambil kembali HP dari pegangan Leona lalu mematikan dan menyakukannya.

__ADS_1


"Lioneeell..." Leona mengerutkan bibir secara dramatis kekanakan, menatapi sisi kanan wajah pria di sebelahnya tanpa tau harus berkomentar apa sekarang.


Tersenyum, Lionel mundur menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Tanpa menarik kepalanya itu, ia menoleh pada Leona, mencoba mencari lihat reaksi apa lagi darinya.


"Namaku sempat di eluk-elukkan sebagai pahlawan dalam tanda kutip di siaran berita lokal di sana. Anak kecil itu selamat dan pria yang hampir menabraknya di vonis penjara 4 tahun untuk kelalaian dalam mengemudi hingga mengakibatkan kecelakaan dan korban luka plus mengemudi dalam keadaan mabuk. Serta plat nomor mobil mati 2 tahun."


Menekuri Lionel prihatin, Leona bertanya lirih, "Maaf Lionel, mengapa ituu...harus kauu...ngg lakukan?"


"Spontan"


"Iya tapi setidaknya kauu..."


"Tindakan yang spontan tidak dihasilkan dari berpikir 2x, kalau kau memaksudkan aku setidaknya berfikir dulu sebelum melakukan tindakan itu. Berfikir tentang resikonya."

__ADS_1


__ADS_2