SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
75. 5 Tahun Terakhir Ini


__ADS_3

Tapi untuk melakukan yang satu ini, wanita itu tak sedikitpun merasa segan melakukan...


"Atau apa kau mau mandi dulu saja? Tiap kamar mandi disini menyediakan air pan --"


Kata-kata Lionel otomatis menggantung diudara karena ia dikejutkan oleh hamburan pelukan kedua tangan Leona dari belakang, menerpa memeluki seputar atas bahunya, menyebarkan aroma khas tubuh dan samar parfum, hingga terasakannya kekasihnya itu menempelkan bawah dagu ke puncak belakang kepalanya, "Leona?"


Ubun-ubun pada puncak kepala pun tak kalah beruntung mendapat kecupan cepat dari sang kekasih.


"Aku cinta kamu, Lionel. Sayang banget sama kamu. Banget-banget sayangnya. Senang tak terkira kamu itu sekarang adalah pacar aku. Milik aku. Jangan saja ada wanita lain yang coba-coba mau merebut kamu dari aku. Karena kalau ada yang sampai berani sekadar berkata sedang mengincarmu, dia akan segera berhadapan dengan tinju dan tendangan mautku disini."


Ooo...


"Aman, sayang." Lionel pun berujar menimpali sambil menahan senyum. "Aku sendiri sudah lebih dulu tak mengijinkan hal itu terjadi. Sudah sejak beberapa tahun terakhir..."


"5 tahun terakhir ini?"

__ADS_1


Leona melepaskan pelukan kedua tangan pada seputar leher Lionel lalu bergerak kedepan, kehadapan kursi roda dan duduk pria itu dengan diikuti arah pandang pria itu tak lepas mengikuti arah pergerakannya.


Berakhir dengan Lionel mengangkat kepala sedikit, sebaliknya Leona menunduk melihat padanya. Keduanya saling bertatapan. Tanpa suara.


Lionel menanti dengan sabar pada apa yang hendak dilakukan Leona dihadapannya ini. Namun akhirnya memutuskan untuk menyahuti saja lebih dulu kata pertanyaan Leona terakhir tadi,


"Hm-mh." Angguk Lionel takjim, "5 tahun terakhir ini aku terlalu sibuk bekerja.


Mungkin ada 100x lipat lebih sibuk dibanding sebelumnya, biasanya.


"Dan kenapa akhirnya kau memunculkan diri kedalam kehidupanku, Lionel?" Nada suara Leona yang menyela saat Lionel terlihat berdiam sejenak, terdengar serius dan ditekan dalam-dalam. "Jelaskan lagi lebih perinci sekarang, setelah sebelumnya kau dengan belum kepingin saja mu itu, kenapa akhirnya kau memutuskan untuk memulai mengkontekku? Menanyakan nomorku pada Viona, memunculkan dirimu lebih dulu ke dia? Bukannya langsung kepadaku walau kau tau betul akun medsosku Publik semua?


Jadi kenapa?"


Pancaran mata kedua anak manusia itu sama bersiratkan lelah oleh kelelahan dari aktivitas padat seharian kemarin.

__ADS_1


Sama sarat emosi terpendam sesudah memaparkan perkataan masing-masing barusan dan akhirnya Leona detik ini telah mendapatkan kesempatan menanyakan kembali pertanyaannya ini. Setelah sebelumnya ia belum bisa benar-benar dipuaskan mendengar penjelasan singkat Lionel saat tempo hari Leona sempat menanyakan hal yang sama.


"Leona, aku ingin menikah.


Itulah jawab untuk pertanyaan kenapamu ini.


Aku telah sampai dititik dimana akhirnya aku merasa sangat menginginkannya. Menikah dan hidup berumah tangga.


Memang usiaku cuma baru 32 tahun, tapi aku ingin memulainya. Di mulai disaat ini juga, ditemani oleh wanita yang kucintai dan juga mencintaiku, aku ingin memulai hidup berumah-tangga bersamanya.


Aku membutuhkannya untuk mendampingiku, menjalani kehidupan baruku sebagai pemimpin di E Technos.


Lalu akupun menyadarinya.


Aku melihat pencarianku berlabuh hanya pada satu orang wanita saja. Beberapa lama mencoba menimbang dan memilah-milah perasaanku padanya, hasilnya tetap 1 poin hanya pada satu nama."

__ADS_1


__ADS_2