SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
76. Bukan Pria Biasa Biasa Saja


__ADS_3

"Aku?"


"Hm-mh. Kau itulah. Wanita yang kuinginkan untuk mendampingiku.


Bukan salah satu dari sekian banyak wanita yang selama ini dekat denganku, tapi kau orangnya.


Aku kembali merasakan jatuh cinta padamu begitu kuperhatikan di akunmu kau sedang mencari kabar tentangku..."


Pandangan mata Leona  mulai menyayu, menyendu. Disergap haru.


Bukannya tersipu atau tersenyum geli mendengar Lionel menyinggung lagi tentang 'usaha' pencariannya itu, manik bola mata wanita itu perlahan berpendaran berkaca-kaca.


Lionel melihat semua itu diwajah sang kekasih bagaimana kemudian kekasihnya itu perlahan bergerak, berlutut dihadapan duduk pria itu...


Keeleganan seorang Chleonavita Jasmine berasal pula dari kontur tubuh atau punggungnya yang tidak membentuk bungkuk tapi tegak, definisi tegap kalau untuk pria.


Juga dari setiap sikap gerakan atau gerak gerik dan bahasa tubuh yang seolah dihasilkan dari sebuah sekolah kepribadian saja

__ADS_1


Elegan, anggun, berkelas, berkharisma, itulah seorang Cleonavita Jasmine. 34 tahun kemarin malam, terakhir itu 20 menit yang lalu.


Dan saat ini Cleonavita masih berposisikan berlutut, meletakkan kedua telapak diatas paha dengan ujung kedua sisi jemari bertemu ke sisi dalam. Masih bisa terlihat oleh Lionel yang sedemikian saat pria itu menautkan pandangannya memandang wajah dan mata Leona.


"Tak peduli aku belum yakin dengan apa sebenarnya yang ada dalam perasaanmu terhadapku dalam upayamu mencari tau kabarku itu, akhirnya kuputuskan untuk mecoba dulu saja peruntunganku. Siapa tau saat ini aku akan bisa bernasib mujur, biarpun ada benda ini yang tetap saja sempat kuanggap sebagai kendala."


Lionel bertutur pada kalimat terakhir bernada penyesalan mendalam, mendapat decak singkat dan geleng-gelengan kepala Leona di hadapan matanya,


"Ck, jangan anggap kursi rodamu ini kendala. Kalau tak ada kursi roda ini bersamamu dan juga cerita dibaliknya, aku kemungkinan di sekarang ini akan punya perasaan berbeda terhadapmu.


Berbeda yang bisa kupastikan itu tak akan sedalam sekarang ini...


Suka sih tetap suka, tapi mungkin belum cukup untuk yang lebih dari itu...Aku yakin itu.


Karena aku bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta pada seorang pria yang hanya biasa-biasa saja. Aku alergi pada jenis pria semacam itu untuk kuseriusi..."


Saling diam sesaat...

__ADS_1


"Apa aku bukan termasuk ke yang biasa-biasa saja?" Celetuk Lionel bertanya, menyela jeda, mengukir senyum simpul dibibirnya.


Kepala Leona tegas mengangguk dua kali sambil melihat kekedalaman kedua mata Lionel lalu turun kebawahnya, memandangi pada bagian yang namanya bibir itu dengan disadari betul oleh yang empunya.


Sejak dari dalam heli wanita itu sudah begitu ingin mencium Lionel.


Kurang tepat.


Sejak Lionel menyeletuk ingin menelanjangi dan menidurinya dikursi belakang mobil, sedari saat itulah Leona memendam hasrat. Ingin paling tidak pada suatu waktu suatu kesempatan dilumat atau mel*mat bibir tipis lembut Lionel.


Tidak mungkin tidak merasakan keinginan itu saat sedang bersama Lionel. Mana bisa untuk tidak mendapatkan efek dari kebersamaan atau kebersinggungan tubuhnya dengan pria itu.


Dan efek berkontak fisik dalam bentuk apapun dengan pria itu, pasti akan selalu menjuruskan ke satu hal itu saja, Terbangkitkan pada hasrat.


Sebentar keinginan itu hilang, sebentar timbul lagi. Sebentar ia mendambakan Lionel menyentuh menggerayanginya, sebentar lain ia ingin Lionel jangan dulu gegabah kebablasan melakukan itu.


"Lionel...aku ingin menciummu." Leona secara polos dan blak-blakan membisikkan kalimat itu. Meraih telapak tangan kiri Lionel lalu ditempatkan dibukit pay*daranya. Menggerakkan sendiri telapak tangan pria itu menekan dan mengusapi bentuk buah dadanya, ditelusurkannya keberbagai arah.

__ADS_1


Maka Lionel menyambut hasrat itu...


__ADS_2