SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
9. Akun Oh Akun...


__ADS_3

Memakukan tatapan pada bibir rapat menyungging Lionel, Leona tidak tau harus menyahut apa. Tidak tau harus memulai dengan bicara apa demi menyadari situasi mereka berdua saat ini begitu membingungkan hatinya.


Leona akhirnya memilih mengabaikan saja senyum yang masih terbias di bibir agak tipis Lionel, sekadar mencari sela titik aman untuk dirinya sendiri agar ia tak perlu jadi salah tingkah akibat terus-terusan dihadiahi senyum royal Lionel. Karena biar bagaimanapun, Lionel itu seorang pria, bukan sesama jenis Leona seperti Anita,


"Iya. Oke. Daaan...ehm, aku ya ini."


Lionel tertawa kecil. Memandang wajah Leona dalam-dalam, penuh perasaan dan penghayatan, Lionel berujar lembut,


"Kau tidak banyak berubah. Masih terlihat seperti Leona dijaman kita sekolah dulu. Aku bisa langsung mengenalimu meski saat ini kau sedang... menggunakan make-up lengkap di wajahmu."


Alamaaakkk...


" Ohh...," Leona cair. Bukannya jadi gugup salah tingkah, sebaliknya ia malah jadi rileks begitu mendengar apa yang dikatakan Lionel.


Entah kenapa lah bisa begitu. Mungkin karena seketika ia segera merasakan nyaman dan 'jatuh cinta' pada apa kata-kata yang disebutkan Lionel barusan dalam mengomentarinya.


Wanita itu bahkan sudah bisa mulai nyengir. Tak tahan untuk tidak nyengir, "Ini riasan wajah sehari-hariku kalau sedang bekerja, Lioneel."


" Ooo... Ya-ya, kau bekerja di dalam Mall."

__ADS_1


" Iya"


" Oke. Duduklah, Leona. Kau masih berdiri disitu didekat pintu itu. Maaf, aku hanya bisa duduk menemanimu dari kursi roda ini."


Leona mengambil tempat disalah satu anak kursi sofa, "Trima kasih, dannn... ya ngga apa kita begini saja."


Dengan hanya menekan sebuah tombol mungil pada ujung lengan kiri kursi roda, Lionel menggulirkan benda berat itu perlahan mendekat pada sofa yang diduduki Leona lalu pria itu mengunci tuas kunciannya.


Dibawah pandangan penuh tanda tanya dari Leona yang tak lepas memberi perhatian, pria itu memulai pembicaraan resmi mereka.


Karena waktu berbasa basi telah selesai.


"Terserah kamu saja, Lionel. Gimana baiknya saja."


"Aku mengalami kecelakaan lalulintas setahun lalu. Beberapa tulangku remuk. Inilah hasil akhirnya, aku mengalami kelumpuhan."


"Ohhh..."


"Aku sedang berada disini untuk urusan pekerjaan. Aku sudah diwariskan usaha bisnis orangtua angkatku di New York. Setahun ini dengan terpaksa tugasku hanya bisa ku wakilkan pada asistenku di perusahaan."

__ADS_1


"Ooo...,"


"Bukan kelumpuhan yang permanen. Tapi tetap saja butuh keajaiban untuk membuatku bisa normal berjalan lagi.'


"Ohh...."


"Mengapa kau masih juga belum menikah hingga disaat ini?"


"Ha?"


"Aku rutin memantau secara diam-diam akun-akun media sosial beberapa teman seangkatan kita terutama teman sekelas. Dan dari situ bisa kusimpulkan sepertinya tersisa kau dan aku saja yang belum menikah. Belum pernah satu kali pun menikah.


Boleh aku tau alasanmu mengapa kau masih single?"


"Kau... memantau... akunku? Berarti kau tau betul kalau aku ... sedang berusaha mencari tau... kabar tentangmu."


"Ya tentu saja aku sangat tau."


"Kau tidak kepingin tau alasanku mencari tau kabar --"

__ADS_1


__ADS_2