SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
30. Pertemuan Ke Dua


__ADS_3

----------#####----------


Sangat mudah mengenali dari kejauhan seperti ini seorang wanita bernama dan berprofil diri indah Chleonavita Jasmine.


Leona, dalam pandangan Lionel sangat mirip sosok artis Bunga Citra Lestari, memiliki tinggi tubuh lebih banyak dari 160 dan kurang sedikit dari 170, ukuran tinggi yang dimiliki Lionel.


Berpostur langsing semampai namun padat di bagian-bagian tertentu, sudah seperti itu sejak di SMA dulu, tak terlihat lebih gemuk atau lebih kurus di 15 tahun kemudian.

__ADS_1


Dia ideal, proposional, yang diinginkan para wanita dimuka bumi ini. Lionel tau betul tentang itu.


Apalagi dengan High Heels creamnya yang mencolok penambah tinggi lagi, Lionel akan semakin mudah menemukan keberadaan Leona.


Ya, itu dia. Sedang berdiri bersidekap dekat bangku panjang ruang tunggu Bandara. Nampak tenang dan sabar dalam menanti sambil melihat sesekali ke sana ke sini sekitar ia berada.


Maka Lionel mengisyaratkan pada asisten dibelakangnya untuk mendorong kursi mendekati tempat berdiri Leona, dipatuhi sang asisten secara perlahan-lahan mendorong kursi roda tersebut, diikuti arah pandang Leona tanpa lepas melihati justru sebuah pemandangan baru di depan mata wanita itu...

__ADS_1


Dari jarak jauh yang semakin mendekat pun Lionel sudah bisa menangkap kesan keterkejutan samar dari Leona dalam melihati dirinya.


Tentu-tentu. Sebelum berangkat puluhan jam lalu Lionel telah lebih dulu merubah penampilannya terutama pada rambut. Telah dipangkas bermodelkan cepak dan sudah kembali dihitamkan. Berpakaian lebih kekinian dengan jas abu-abu melapisi kaus hitam polos pada baliknya, dipadukan ke celana jins sewarna bermerek dan berharga lumayan tanpa melupakan menyemprotkan parfum beraroma lembut khas pria tak terlalu tajam...keseluruhan tampilan Lionel di hari ini pria itu yakini tak akan sama dengan tampilan dirinya tempo hari di kali pertama bertemu Leona. Dan yang dikali ini, Lionel sangat berkeyakinan Leona akan sedikit terpanglingkan. Ditambah si kursi roda, pria itu sengaja ganti menggunakan kursi roda biasa supaya lebih simple, ringan diurus alias praktis saja karena selama di Indonesia ia akan kesana kemari beberapa tempat termasuk ke tempat terapi dan Rumah Sakit. Serta satu lagi yang baru dilihat Leona, Lionel datang ditemani sang asisten pribadi seorang pria pertengahan 50 an berkacamata minus cukup tebal. Bukan seorang bule Amerika. Berwajah dan profil asli Indonesia.


Mungkin kerabat dekat Lionel, pikir Leona, memberi perhatian secara terang-terangan meski sepintas-sepintas lalu pada sosok Lionel yang sudah tiba kehadapannya dan berhenti, lalu ke si asisten dibelakang kursi roda, ke si kursi roda, pada Lionel lagi, pada si asisten lagi... terakhir ia berpusat pada Lionel.


Keekspresifan wanita itu, ciri khasnya sejak remaja. Bukan jenis wanita pendiam pemalu, kaku atau datar-datar saja. Bukan jenis wanita cantik tapi membosankan. Melainkan enerjik dan sangat hidup. Cerdas dan berwawasan, tertuangkan dalam isi status demi status medsosnya. Itu sebab Leona si berjiwa pemimpin ini sangat tipe Lionel sekali. Yang bahkan tidak akan membuat Lionel merasa berkeberatan andai Leona 'memimpin'nya. Terhadap wanita ini, Lionel rela menjadi 'anak buah'nya sekalipun. Apalagi pria itu kebetulan pula berusia lebih muda 2 tahun dari Leona...kalau hal ini berpengaruh dalam mendukung ketidak-berkeberatan Lionel.

__ADS_1


__ADS_2