
-----&&&&&-----
Bukannya merasa lega telah bisa bertemu lagi di hari sesi terapi kedua ini, Leona malah berkaca-kaca siap menangis melepas keberlaluan Lionel yang kali ini dimalam ini ganti pria itu yang mengantar Leona pulang sampai di ujung gang rumah. Gang depan rumah wanita itu tak muat lebar mobil jadi pak Randu akan berjalan mengawal wanita itu sampai masuk melewati gerbang.
Siap menangis karena belum lagi meninggalkan, ditinggalkan dan berjauhan, wanita itu sudah langsung merasakan merindu Lionel.
Jejak manis yang ditinggalkan pria itu di malam ini, entah kenapa tumben membuat Leona enggan berpisah karenanya.
Belum pula benar-benar berpisah, sudah langsung kangen saja rasanya.
Tapi kemarin-kemarin tidak pernah begini sih?
Lionel menciumnya terang-terangan dengan pak Randu masih dibalik kemudi sedetik usai memutar kunci kontak mematikan mesin mobil. Mencium tepat ditengah permukaan bibirnya. Sangat menyadari apa yang dirasakan dalam perasaan Leona.
Seperti yang sedang dirasakan kekasihnya inilah yang juga sedang dirasakan oleh Lionel.
Mungkin karena mereka berdua sudah sepakat janjian akan datang berduaan memenuhi undangan dari Anita, mungkin karena itu juga ikatan bathin diantara mereka mendadak sekali jadi lebih menguat lagi dengan tiba-tiba di malam ini. Sehingga untuk saling berpisah detik ini pun mereka berdua merasakan berat dihati.
"Aku akan menelponmu. Begitu sampai di kost. Video call. Hmh?" Ucap Lionel perlahan sekadar menghibur hati Leona.
__ADS_1
Achh... bikin Leona makin meluruh didalam dada, menumpahkan airmata.
Jangan pakai Hmh mu ituuu...
-----&&&&&-----
"Leona!"
Luar biasa terkejut mendengar seruan bernada menghardik dari belakangnya, Leona refleks berbalik cepat karena sudah bisa menebak suara siapa gerangan barusan. Diikuti pak Randu yang buru-buru menjauh dari sisi Leona yang semula tadi mereka berdua siap berjalan bersisian meninggalkan mobil Lionel.
"Bapaak..." Leona seolah bagai sedang tertangkap basah saja, dihampiri sang ayah dari arah kedatangan beliau pada belakang mobil Lionel.
Sang Bapak, Alfian, mengayun langkah cepat tapi membelok dari tujuannya semula yakni menghampiri Leona untuk kemudian mendatangi pintu penumpang belakang kiri mobil yang masih dalam keadaan membuka dan gelap dalamnya sehingga Al kurang melihat kearah keberadaan duduk Lionel.
Alfian hanya penasaran saja ingin melihat lebih dekat ke kedalaman mobil lewat pintu itu yang baru saja Al lihat mengeluarkan sosok sang putri dari dalam situ tapi beliau segera mengalihkan pandang menatapi pria di dekat berdiri Leona.
Di dalam mobil, Lionel menelan air ludah tercekat antara ingin bertahan 'sembunyi' dan ingin saja menghadirkan diri kehadapan berdirinya ayah Leona.
Pak Randu membungkukkan kepala sedikit penuh rasa hormat begitu Al memandang padanya dan bertanya dalam nada suara tandas,
__ADS_1
"Kamu siapa? Malam-malam dari mobil yang gelap-gelapan begini ini --"
"Paak --"
"Malam, pak Al --"
"Slamat malam, Om Al --"
3 asal suara yang terdengar membuat Alfian terbingungkan dan paling terkejut pada asal suara dari dalam mobil sehingga serta merta ayah Leona itu menoleh kembali lalu merunduk menengok ke dalam ruang belakang mobil.
Bertemu pandang dengan Lionel yang sudah berhasil bergerak susah payah kedepan untuk menyalakan lampu dalam mobil.
Laki-laki lagi? Alfian membelalak pada Lionel.
Yang berdiri itu sudah tua dan yang didalam sini sebaya putrinya.
Al segera berpaling kearah putrinya.
"Siapa mereka berdua ini, Leona?"
__ADS_1