
"Ya."
"Ya seperti kataku, aku melakukannya dengan spontan."
"Benturannya sangat keras --"
"Benar. Belum lagi pohon penghias di tepi jalan yang selanjutnya terhantam mobilku, di saat itulah yang paling membuatku remuk redam seluruh bagian tubuh."
"Tuhaaan..." bahu Leona memelorot dramatis.
"Untungnya, tidak membuatku menjadi trauma menaiki mobil."
"Untungnya?"
"Hehehe...ya, untungnya."
"Untungnya kamu masih bisa selamat dan hidup. Untungnya, kamu tidak harus merasa bersalah bila pria pemabuk itu yang mati yang untungnya dia hidup. Untungnya. Untungnya untungnya untungnya. Sudah fatal begitu masih bisa diomong untungnya."
Leona buang pandang kheki. Tawa miris Lionel tak lebih dari sekadar menertawai remeh fakta kontroversial itu.
"Ya Leona," ya sayangku, "Kadang aku memang memikirkannya, kenapa bisa pria itu tidak ikut ringsek bersama mobilnya sementara aku? Nyatanya dia hanya mengalami luka ringan, sama sekali tak berat, dibanding kelumpuhan yang kudapat."
Enggan tertawa juga menimpali, Leona berpikir sejenak...menerawang...lalu menoleh merayapi sisi wajah Lionel, melembutkan nada suara saat memanggil nama pria itu,
__ADS_1
"Lionel,"
Lionel menoleh sekilas pada Leona, "Hm?"
"Seberapa besar kemungkinannya kamu bisa berdiri dan berjalan lagi diluar adanya keajaiban itu?"
---------#####----------
"Jadi gimana? Gimana gimana gimana hasil pertemuan kalian di Bandara itu? Begitu sudah ketemu kalian berdua langsung saling berpelukan bahagia? Berpeluk-pelukan mesra? Bermesra-mesraan? Tertawa-tawa ria? Atau bagaimana?"
"Hahaha... Apa'kaah. Ngga ada tuh yang semacam itu. Suwer. Sepertinya baik aku ataupun dia sama-sama masih merasa segan, Nit. Sungkan nunjukin yang semacam itu. Aku atau dia bahkan ngga berjabatan tangan, salaman, begitu sudah bertemu. Ngga juga peluk-pelukan. Apalagiii..."
"Lhoooo...kenapa!? Kenapa bisa sampai begitu, Na? Koq sepi amat. Hambar amat. Lha trus begitu pertama sudah berhadap --"
"Cuma seperti ituuu? Owaladalaaahh...ya koq nggak seru yaa?"
"Ho-oh. Suer, ya cuma seperti itu yang terjadi.'
"Lalu, begitu sampai ke kost nya? Kalian ngapain lagi? Di mana rumah kost nya itu? Kau lama disitu?"
"Persiiis di dekat mulut gerbang masuk perumahan di bilangan Depok. Sebuah perumahan Perpajakan. Kost-kostan pak Sudrajat. Karena posisi huk, strategis dan praktis lah kalau Lionel butuh tempat menginap mengikuti kondisinya yang berkursi roda dan bakal sibuk kesana kemari selama disini. Ketimbang tinggal di Apartemen keluarga angkatnya katanya, ribet. Tempat terapinya di Depok juga, pinggiran Bogor dekat kerumah orangtuanya."
"Oo begitu tho."
__ADS_1
"Dia ngga ngijinin aku lama-lama disana walaupun aku sudah bilang ngga apa pulang agak malaman dan pagi-pagi sudah harus masuk kerja."
"Ooo."
"Nita,"
"Yees?"
"Akuu...naksir banget sama dia. Aku kemarin itu ngga tahan banget lihat dia yang sudah tampil beda."
"Hmm...kau pasti jadi terus-terusan deg-degan atau salah tingkah di depan dia."
"Ngga juga. Masih bisa bersikap biasa-biasa saja sih. Cumaa...sewaktu dia mau pulangin aku, nganter aku masuk ke dalam mobil yang kami pakai dari Bandara, diaaa..."
"Nah lho, dia ngapain? Kau di apakan? Di cium?"
"Hehehehe...ach kau itu mah ngeres melulu. Ngga di apa-apakan. Cuma diii..."
"DIAPAKEEEEUUN?!!"
"Hahaha...Anita sableng. Di elus-elus! Pipi kiriku di elus-elus telapak tangannya seolah belum rela kita pisahan secepat semalam. Begituu, Anita sableeeenggg..."
"Hihihii...kirain. Kirain langsung di kisseu."
__ADS_1