SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
70. Bertemu Pengalaman Pertama Berhelikopter


__ADS_3

For God Sake...


Hanya Tuhan yang tau kegentaran didalam hati Leona, namun dihadapan Lionel, Leona berusaha keras tidak menunjukkan keciutan nyali saat Lionel menanyakannya,


"Sayang, kau sudah siap?


"Ohh, si-siap! Aku sudah siap. Ayoh, let's go!"


Oh Tuhaan, apa sih yang sedang aku lakukan iniiiii?


Pak Randu terlihat sudah selesai bersiap di kursi pilot pada kabin awak barulah Leona dipandu Guntur menuju kabin penumpang, ke kursi tepat dibelakang duduk pak Randu.


Diajari Guntur dalam memakaikan Helicopter-Headset kekepala dan juga Seatbelt atau sabuk pengaman heli, Guntur menjelaskan setengah berteriak bahwa headphone itu adalah juga sebagai alat komunikasi mengatasi suara keras baling-baling dan heli. Leona mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti sambil membetulkan letak headset di atas kepalanya itu.


Setelahnya 2 pria kru heli tadi bersama-sama menaik-dudukkan Lionel ke kursi penumpang dibawah pengawasan pandangan mata Leona yang terus mengikuti alur demi alur tiap proses yang sedang berlangsung pada heli.

__ADS_1


Jadi sekarang posisi keseluruhan adalah : pak Randu dikursi depan bersama Guntur, Lionel duduk pada tengah kursi, pria rekan Guntur yakni Budi disamping kiri duduk Lionel.


Terakhir Leona disamping kanan pria itu. Mencoba mengatur guncangan dalam dada yang untungnya saja tersamarkan oleh deru baling-baling diatas sana.


Baling-baling terus berputar. Persiapan lepas landas dimatangkan. Pak Randu meningkahi suara dari luar mengatakan sesuatu pada Guntur sambil menunjuk stick dalam pegangan tangannya lalu Guntur membentuk oke dengan dua jari kiri.


Pada ruang cockpit itu Leona bisa melihat jelas pak Randu memulai melakukan kontrol kemudi. Terlihat sangat mantap dan percaya diri mulai menghandel tuas Collective di sebelah kiri kursi pilot berikut pegangan Throttle dan Cyclic pada depan kursi pilotnya.


Belum juga bisa dipercayai oleh penglihatan Leona bahwa pria hampir 60 tahun itu, yang selama ini Leona lihat dan kenal sebagai pria biasa-biasa saja dan nyaris terlihat bertampang polos mendeso....ternyata seorang pilot helikopter!


Sebelum benar-benar lepas landas, disela kegentaran dan ketakutan yang tersembunyikan rapi dari pandangan Lionel saat pria itu sedang meneliti ke arah depan dan kesamping kebawahnya dari antara bahu Budi, Leona akhirnya sudah tidak tahan lagi untuk tidak menyuarakan kata pengakuan terakhir itu...


"Lionel..."


"Hm?"

__ADS_1


"Haku takut ketinggiaaan..."


Terlambat untuk membatalkan, heli pun mengangkatkan diri lalu melaju mengudara, terbang, berbarengan Leona mengakhiri kalimat dan mendapat tolehan kepala Lionel yang akhirnya telah menemukan ketakutan dimata dan wajah kekasihnya itu.


"Sayang..."


"Aku penakut ketinggian, Lioneeel..."


Memejami kuat-kuat kedua matanya sambil menjerat erat kain lengan kemeja biru tua Lionel, Leona merasakan seluruh jiwanya bagai sedang ditarik keluar dari ubun ubun kepala seiring laju heli yang semakin ditambah maju kemuka.


"It's okay Leona, it's okay. Just relax, take a deep breath, i'm here with you, comforting and protecting you and everything will be fine. Okay?"


Mau tak mau Leona harus mengangguk kuat-kuat dihadapan mata Lionel yang segera memutuskan membuka klep seat-belt mereka berdua, merangkulkan tangan kanan memeluk seputar sisi kanan tubuh Leona.


Melebih-rapatkan duduknya sendiri pada sang kekasih yang terlihat Lionel wanita kekasihnya itu hanya bisa berpasrahkan diri sedemikian rupa dengan mata terpejam lebih erat tak ingin bersuara apa-apa lagi.

__ADS_1


Berpasrah dalam dekapan erat hamparan dada bidang Lionel, tempat sang kekasih menyandarkan sisi kiri punggung, melabuhkan berjuta ketakutan dan kegentaran akan helikopter dan ketinggian yang sudah ditanjaki dan diarungi terbangnya si heli...


__ADS_2