SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
27. Jadian?


__ADS_3

Duh, basa basi ini sangat menyebalkan pada dasarnya.


Memilih kata-kata yang tepat untuk diucapkan dan bahasan yang lebih aman, Lionel langsung berbicara to the point, lebih dulu memanggil nama Leona.


"Ya?" Sahut Leona.


"Aku akan pulang lagi ke Indonesia."


"Ha? Masa? Kapan? Kenapa? Ada urusan lagi disini? Koq malah jadi bolak balik Indo terus??"


Aslinya seorang Leona pada akhirnya muncul juga. Di dua menit pertama tadi wanita itu sepertinya menjaga jarak sejenak dari Lionel. Maka Lionel pun tertawa kecil menanggapi hal ini, sangat bisa memahami mengapa mereka berdua tadi sempat seperti dua orang asing yang baru saja bertelpon. Dirinya pun masih berdebar walau tidak lagi dengan gencar.


Membayangkan Leona yang antusias dan ceria itu sudah kembali, Lionel mensyukuri respon terbaru wanita itu ini.


"Sekitar 5 sampai 8 hari lagi. Seminggu lagi lah."


"Dan untuk urusan?"


"Mmm...terapi."


"Apa? Terapi? Kau mau meneruskan terapimu di sini? Di Indonesia?"


"Ya"

__ADS_1


"Lho, tapi kenapa? Ng, maaf Lionel. Bukannya di USA itu sistem pengobatan atau kemedisannya sudah modern dan canggih? Lebih baik dari negri kita ini setauku? Kenapa malah kau kepingin berobat di RS Indonesia?"


"Memang. Itu benar. Tapi terapi di Indonesia pun sebenarnya tidak kalah hebatnya, Leona. Ibuku...menyarankanku untuk meneruskan terapiku di Indonesia. Yang menggunakan non medis. Terapi tradisional."


"Ooo begitu."


"Ya. Jadi aku menyanggupinya. Untuk mencoba terapi yang disarankan oleh ibuku ini. Kalau seorang ibu sudah meminta pada kita sebagai anaknya, apa yang bisa kita bantah selain harus patuh dan menurut? Ini ibuku sendiri yang memohon-mohon."


"Iya, kau benar. Aku paham. Aku setuju."


"Ya. Thanks. Jadi kalau kali ini bisa membuatku merasa lebih baik dengan lebih cepat, yaa aku akan fokus mencoba meneruskan proses penyembuhanku ini di Indonesia."


"Ooo..."


Aku sudah berbohong padamu, maafkan. Tempo hari itu aku pergi mensurvey tempat terapi itu. Begitu kurasa cocok, aku bilang setuju pada ibu. Orangtuaku disini juga sudah memberi ijin jadi --"


"Aku akan menjemput kamu di Bandara."


"Leona..."


"Kapanpun kau terbang dari Amerika dan tiba di Bandara sini, aku akan...ehm, ada disana."


How sweet.

__ADS_1


Lionel dibuat terdiam seribu bahasa. Tepatnya karena ia seketika jadi tersentuh dan terharu, bikin diri pria itu bagai kehilangan kata-kata.


Leona diseberang pun rupamya kompak ikut berdiam diri.


Sama-sama mulai diliputi kecanggungan dan grogi.


Terlebih Lionel.


Bersandar pada kursi rodanya, pria itu memejamkan mata. Mengatur perasaan beberapa jenak. Mencerna ulang apa yang barusan dinyatakan Leona. Tak lama. Demi menyadari pembicaraan bisa saja akan segera membeku seperti gumung es, pria itu memutuskan untuk bersuara lagi. Membuka mata dan tegak pada duduk. Sangat tidak enak dengan kediam-diaman yang terkesan kekanak-kanakan itu.


"Thanks...Leona."


Lirih dan nyaris dibisikkan.


Dan pria itu...sudah mendapat jawaban.


"Ya." Sama pelan dengan sahutan dari seberang.


.............hening.


"Kau sedang apa?"


"Depan layar komputer didalam kantor kerjaku."

__ADS_1


"Oo...ya, benar. Jam 10 malam disini berarti jam 10 pagi di Jakarta. Kuharap aku tidak mengganggumu."


__ADS_2