
Hening sejenak di horn HP.
Leona tanpa sadar mengedarkan pandang ke sekeliling sekitar area gedung sekolah SMA nya, seolah mencari lihat sosok Lionel disekitar situ.
Anita di seberang sana terdengar bersuara lagi menyambung pembicaraan dengan bertanya,
"Jadi apa rencanamu sekarang, Na?"
"Tetap Nit, cari-cari lewat media sosial"
"Oooh..."
"Kalian semua juga, kalau ada yang dapat info tentang dia, jangan lupa untuk ngabarin aku ya."
"Ya tentu dong, bu ketua kelas. Jangan kuatir."
"Thanks a lot, Anita. Oh ya, gimana dengan anak nomor 2 mu? Sudah sembuh?"
"Sudah, Na. Sudah baikan. Makanyaa, andai tadi kau ngajak aku bareng ngunjungin sekolah kita aku pasti bisa ikut menemanimu pergi kesitu."
"Iya. Yang ku ingat cuma sakit gigi anakmu itu sih, makanya aku ragu untuk mengajakmu. Apalagi kau bilang si Dita jadi nggak mau makan karena sakit giginya."
__ADS_1
"Iya sih, Na."
"Anita,"
"Ya?"
"Apa mungkiiin ... Lionel itu sebenarnyaa ... sudah meninggal ya?"
"Omy God!
Haiss Leona, ngeri banget ihh dugaanmu itu? Ya ngga mungkin lah. Masa iya ada teman seangkatan kita yang meninggal tapi tak satu pun diantara kita yang tau tentang itu?
Jangan ah Na, jangan menduga yang seperti itu. Biar gimana pun, biarpun itu benar, aku pasti akan merasa ngeri mendengarnya .. dan pastinya ngerasa sulit juga mempercayainya."
Alhasil Leona jadi kerap teringat lagi yang dibahasnya dengan Anita tentang Lionel yang diduga Leona kemungkinannya sudah meninggal...
...percakapan di telpon dengan Anita sebelum Leona meninggalkan area gedung sekolahnya di beberapa hari lalu.
"...biar gimana pun, biarpun itu benar, aku pasti akan merasa ngeri mendengarnya .. dan pastinya ... ngerasa sulit juga untuk mempercayainya.
Bukan apa-apa, Leona. Lionel itu orangnya terlalu baik untuk cepat berlalu. Lihatlah teman-teman kita, mereka juga menunjukkan perhatian pada anak itu. Begitu mantan ketua kelas mereka bilang minta bantuan nyariin info tentang anak itu, teman-teman gerak cepat nge support ikut bantu nyari infonya.
__ADS_1
Bukan hanya karena yang minta tolong itu mantan ketua kelas mereka, tapi juga karena mereka terpanggil untuk peduli untuk mantan teman sekolah mereka yang dulu cukup berkelakuan baik tapi sempat terlupakan kita."
Anita terdengar sudah nyaris mengisak. Leona waktu itu nyaris juga menyesali apa yang tercetus dari mulutnya tentang dugaan meninggal. Tapi untuk terus memendam dugaan itu di dalam hati saja, tanpa terungkapkan pada Anita, jelas Leona tak tahan untuk tak menyinggung ke arah itu.
"Sama. Aku juga, Nita. Aku bisa ikut seperti apa yang kau rasakan."
"Sudah deh sudah. Jangan diduga-duga begitu- gitu lagi. Lebih baik kita fokus cari-cari info tentang keberadaan Lionel langsung ke berbagai media sosial yang kita punya.
Sejak kau ngabarin ke kita tentang kepenasaranan-mu pada Lionel itu, hampir semua teman-teman kita langsung antusias koq ikutan penasaran dan mencari tau."
"Syukurlah kalau begitu. Thanks lah untuk kalian semuanya."
"Oke. Trus kapan kita bisa ketemuan? Habis ini kau masih ada urusan yang lain lagi ga? Kalau ngga ada, mainlah kerumahku sekarang juga."
"Boleh deh. Kebetulan aku sudah ngga ada keperluan yang lain lagi."
"Btw cuti berapa hari kau, Na?"
" 2 hari. Hari ini dan Jumat besok."
"Wahh, berarti liburmu panjang dong. Sampai ke Sabtu dan Minggu. Main dan menginaplah dirumahku ini, oke Leona?"
__ADS_1
"Sip deh. Aku kerumahmu sekarang juga nih. Btw Nita, bener-bener thanks yaa..."
"Siiip."