SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
82. Kenapa Aku Bisa Selamat?


__ADS_3

Seolah permukaan air tak juga sampai terjangkaukan tangannya.


Namun untunglah permukaan air itu muncul juga didepan mata.


Tanpa menyadari keanehan telah terjadi, kemudian pria itu memunculkan diri dipermukaan lengkap dengan semburan nafas keras-keras dan terutama membawa serta tubuh terdiam melunglai Leona dalam pelukan erat kedua tangannya...


Yang Lionel tau, insting kuat seorang penyelam diving adalah yang seperti dilakukannya sekarang. Bukan insting seorang pria lumpuh.


Mengerahkan kemampuan habis-habisan supaya secepat mungkin bisa memberi pertolongan bagi sang kekasih, dekat pada bibir kolam Lionel berdiri mengambang dipermukaan air kemudian menolakkan tubuh Leona kuat-kuat keluar dari air, menyurukkannya ke lantai pinggir kolam. Terpaksa sekali secara kasar minim kelembutan.


Sukses.


Maka tak kalah cepat dalam satu kali hentakan penolakan lain bertumpukan kedua telapak tangan dibibir kolam, ia ikut menyusul naik keatas. Menyusul naik keatas!


Lalu...


...ia pun menyadarinya.


Ia sudah berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Berdiri secara normal.


Oh Tuhan, desis pria itu. Sedetik tercengang tapi ia tak punya waktu berlama-lama mengomentari keajaiban.

__ADS_1


Tak banyak waktu tersisa, pria itu mengayun langkah, bergegas menghampiri tubuh terbaring Leona, memulai melakukan pertolongan pertama nafas buatan bagi gadisnya itu. Karena ia sudah menemukan gerakan halus dan samar dipermukaan dada dan perut Leona. Leona masih bernafas...


-----&&&&&-----


Paradise itu seperti apa?


Walaupun paradisenya adalah seorang Lionel, apa paradise yang lainnya lagi juga akan terasakan seperti ini?


Lembut dan empuk dibawah punggungnya.


Harum mawar merah?


Oh bukan, ini keharuman parfum yang sudah familiar dipenciumannya.


Ujung hidungnya dihangati minyak beraroma herbal itu.


Harum dan hangatnya sangat bisa ia rasakan.


Ia belum mati. Ia masih hidup. Ia telah selamat. Ia diselamatkan oleh seseorang. Dan sepertinya orang itu...sedang memandang setengah marah kearah wajahnya begitu ia sudah membuka mata dan melihat dunia.


Dunia.

__ADS_1


Ia sungguh masih hidup.


Trima kasih, Tuhanku.


Ia pun memperdengarkan tangisan sejadi-jadinya lebih dulu sebelum sipemilik pandangan mata bersirat marah itu sempat menyemprotkan omelan padanya.


"Leona,"


Puas menangis oleh karena berbagai perasaan campur aduk yang menguasai dirinya, ia tak mau memberi kesempatan Lionel bersuara lebih dulu.


Karena wanita itu sangat yakin Lionel sekarang sedang menyimpan rasa marah pada dirinya.


Maka diceracaukannya saja kata-kata panjang lebar itu, kata-kata yang tercetus begitu saja tanpa ia rencanakan dalam benak, asal bisa mengalihkan sejenak kemarahan sang kekasih.


Mungkin marah karena Leona pergi diam-diam dari sisinya dan akhirnya benar-benar membuat ulah dikolam renang walau sebetulnya bukan seperti yang sudah terjadi ini yang menjadi bagian rencana ulahnya.


Kemungkinan lain marah karena dirinya sudah membuat susah dan repot pria itu.


Hampir kehilangan nyawa, masih sulit untuk mempercayai hal yang tak masuk diakal ini bahwa tenyata ia masih bisa diselamatkan dan diberi kesempatan hidup... Meski pada akhirnya jadi tak tau harus bagaimana lagi atau seperti apa lagi mengemukakan kebersyukuran itu yang seolah semua kata yang ada dimuka bumi ini tak cukup mampu untuk mewakilkan apa dirasakan didalam hatinya diantara perasaan bersyukur tak ada habisnya ini.


"Kenapa aku bisa selamat?

__ADS_1


Aku tau kamu yang telah menyelamatkan aku. Aku yakin banget itu. Tapi kenapa bisa? Kenapa waktunya bisa tepat kamu tau-tau datang menyelamatkan aku? Apa kamu ikut bangun saat aku bangun dan kamu diam-diam mengawasi aku di kolam itu dari tempat persembunyianmu didalam?


Aku ngga sempat lihat kamu sudah ada disana, Lionel. Bagaimana kalau sedikit saja kamu datang terlambat atau tidak pernah datang sama sekali menyelamatkanku, apa yang akan terjadi padaku? Apa kita...harus berpisah lagi?"


__ADS_2