SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
44. Kamar Kost Lionel


__ADS_3

-----&&&&&-----


Ia sangat menyadari bahwa pandangan matanya tak lepas memperhatikan Leona.


Sangat menyadari perhatiannya hanya terfokus pada wanita itu.


Dan wanita itu, sepertinya tidak merasa berkeberatan dengan konsentrasi yang ia curahkan begitu terang-terangan terhadapnya.

__ADS_1


Lionel memang sudah tidak ingin seperti anak lelaki remaja yang masih malu-malu dan tersipu-sipu. Ia sudah genap 32 tahun, sebulan lalu tanggal 15 Agustus, dan pria 32 tahun dijaman sekarang ini kebanyakannya sudah pernah berkencan, berpacaran, tidur dengan seorang atau lebih wanita atau bahkan menikah dan memiliki anak.


Jadi di malam ini ia hendak memperhatikan Leona secara 'kelaparan'.


Malam ini, masih dengan stelan kerjanya berupa blazer abu-abu sewarna dengan celana panjang, kemeja blus putih dibalik blazer, syal putih berbahan sutra lembut bergaris pinggir warna pink menghias bagian leher hingga ujungnya mencapai bawah dada, disempurnakan riasan wajah lengkap; dari alismata yang di pensil-warnai hitam, bulu mata dijepit agar terlihat lentik, blush on, lipstick merah marun, bedak yang sepertinya berlapis-lapis lapisan terutama pada eye linernya yang memikat itu, Leona terlihat begitu cantik meski aura lelah tak bisa disembunyikan.


Sudah begitu ingin Lionel menyuruh pada Leona agar langsung pulang saja selesai mengantarnya hingga tiba dengan selamat bahkan hingga ke dalam kamar kost-kostannya tapi demi dilihatnya Leona memperlihatkan keantusiasan mengagumi seisi ruangan kamar kost Lionel ini, pria itu pun akhirnya hanya membiarkan Leona berkeliling lalu menyudahi sesi dengan duduk di salah satu kursi sofa yang hanya ada 2 buah saja di dalam ruangan tempat mereka berada saat ini itu.

__ADS_1


Seusai mengagumi kebersihan serta kerapihan seisi kamar kost, tanpa mengalihkan pandang dari menekuri tumpukan bungkus rokok disisi kiri duduk, Leona bertanya pada Lionel, "Kamu merokok, Lion?"


"Dulu. Sekarang sudah berhenti. Sejak ayah meninggal karena sakit paru-paru." Sahut Lionel sembari menggulirkan perlahan kursi rodanya dari dekat pintu masuk ruangan ke dekat sofa kecil yang diduduki Leona, menyengajakan diri memarkir kursi roda itu cukup dekat disamping sofa sehingga bila ia sekadar sedikit membungkuk maka tangannya akan dengan mudah mencapai pangkuan duduk Leona. Pada pangkuan itu Leona meletakkan jemari kedua tangan yang mengatup rapi dengan satu bagian kaki ditumpangkan ke atas kaki lain.


Bersandar santai di kursi sofanya seperti itu, Leona tampak rileks seperti sedang berada di rumah sendiri.


Karisma yang terlihatkan dari setiap gerakan atau sikap tubuh wanita itu benar-benar menunjukkan betapa terdidik dan berkelasnya seorang Chleonavita Jasmine dibanding sosok wanita itu di jaman bersekolah dulu.

__ADS_1


Itu, yang membuat Lionel makin merasa tertarik pada Leona.


Belum lagi sikap santai dan terbuka wanita itu dalam menghadapi Lionel di setiap kalinya, seperti tidak pernah terpisahkan dengannya saja selama 15 tahun ini, Lionel bersyukur wanita itu ada disini menyertainya.


__ADS_2