
Leona sedang berada di depan layar komputer sementara Lionel tepat di depan bayangan akan bentuk calon masa depannya yang mulai tersusun didepan mata. Pria itu melihat figur Leona ada disana...
"Sama sekali tidak mengganggu. Aku punya privasi dan prosedur kerja yang sedikit bebas dibanding para bawahanku di rak display diluar sana."
"Begitu," Lionel tertawa kecil, mengerti akan maksud kata-kata Leona.
"Lionel," Leona memanggil lembut.
"Hm?"
"Kabari aku lagi."
oke. pasti. can't wait to see you again.
"Oke. I will. Thanks once again, Chleonavita."
----------#####----------
Bagaimana caranya memutar waktu? Mengembalikan waktu?
Leona meng-gugling.
__ADS_1
Tidak ada caranya. Tak ditemukan suatu carapun di mesin pencarian. Maka keputusan yang telah dibuat Leona ditelpon tadi, sudah tidak mungkin lagi dihapus untuk dibatalkan dengan dianggap tak ada atau tak pernah terjadi. Tak pernah terjadi? Ini yang lebih tak mungkin. Sudah terjadi.
Sudah terjadi. Jawaban itu sudah wanita itu berikan. Lewat pernyataannya yang memberitau ia akan menjemput Lionel setibanya di Bandara nanti, tentu saja Bandara di Indonesia. Dan tentu saja Lionel cukup cerdas untuk bisa memahami apa pesan terselubung yang wanita itu coba maksudkan.
Jadi ya sudahlah.
Toh memang itu yang wanita itu mau. Menjadi pacar Lionel. Menjemput dan bertemu lagi dengan pria itu.
Tak ada respon negatif dari pria itu, itu berarti dia tak membatalkan apa yang pernah dia minta.
Semasih bertelponan, diam-diam Leona di balik meja kerja tersenyum senang dengan hati berperndar bahagia. Menyatukan kedua telapak tangan mengatup rapat dibawah dagu. Sempat membuat HP dijepit diantara sisi kiri kepala dan pundaknya nyaris terjatuh.
Seperti dalam mimpi saja.
'ini semua masih harus dirahasiakan dulu, leona.' isi pesan WA dari Lionel.
Tuh kan? Semua. Maksud Lionel pasti termasuk jadiannya mereka berdua itu.
'he-eh. oke,' pesan balasan Leona dengan segera. Mengerti tujuan dari arah bicara Lionel dalam WA.
'aku...ehm, mengharapkan kau...akan benar-benar ada disana.'
__ADS_1
'pamali berjanji, tapi aku janjikan.'
'oke. trims. sampai bertemu lagi."
'ya'
Sampai bertemu lagi. 1 minggu lagi. Ohh...
Mama...
Antara berharap satu minggu itu cepat datang atau tidak usah datang saja, Leona menjalani hidupnya setelah hari dimana ia 'menerima' Lionel itu dengan perasaan wanita itu campur aduk sekacau gado-gado. Serba salah, salah tingkah tapi seolah tanpa sebab, bengong dengan melongo kebodohan, tersipu-sipu sendirian...segala macam hal yang intinya berhasil memecah fokus perhatian utama, yakni konsentrasi penuh pada sang pekerjaan.
Ia yakin sebelum ia benar-benar dipertemukan lagi dengan pria itu, ia belum akan bisa hidup tenang dan damai dengan menjalani hidupnya kembali 'normal' seperti biasa.
Entah dengan pria itu sendiri diseberang benua sana, apakah pria itu juga tengah mengalami hal yang sama seperti apa yang sedang melanda perasaan Leona?
----------#####----------
Tidak ada firasat atau pertanda apapun dirasakan Leona sebelum dihubungi oleh Lionel.
Kecuali satu hal, ia makin kangen dan keingatan terus akan pria itu jelang dihubungi secara tiba-tiba.
__ADS_1
Apalagi saat sedang memejamkan mata, nama dan sosok Lionel segera saja berkelebat menyeruak kebalik pelupuk mata.
Tak pernah seintens ini sebelumnya. Tak pernah ada sehebat ini yang sempat wanita itu rasakan saat sedang naksir pada beberapa pria lain didalam kehidupannya ini. Seorang pria itu pernah dari salah seorang rekan sekerja, tetangga rumah hingga bahkan seorang teman baik adik cowoqnya.