
Demi langit dan bumi, Leona tidak bakalan menyia-nyiakan begitu saja kesempatan emas ini.
Kapan lagi ia akan punya kesempatan lain untuk bisa ketemuan dengan Lionel si warga negara the United States kalau bukan di 3 hari ini seperti yang disebutkan Lionel dalam pesan WA nya?
----------#####----------
"Oh Tuhan!" Spontan jemari Leona terangkat mengatup permukaan mulut dan tanpa sadar terjajar 2 langkah kebelakang...
Tak percaya dengan apa yang sedang dilihat matanya dihadapannya ini.
Untuk sesaat dalam keterperangahan, wanita itu hanya bisa memandangi Lionel tanpa suara. Karena wanita itu jelas jadi kesulitan untuk bersuara dan mengeluarkan kata-kata selain cetusan 'oh Tuhan' nya tadi.
Bagaimana tidak?
__ADS_1
Lionel, duduk tegak di sebuah kursi atau tepatnya sebuah kursi roda modern dan canggih bertenaga listrik, kursi yang nampak kokoh perkasa dalam cat hitam pekat membungkus bagian besi dan kulit pelapis jok pada sandaran dan dudukan... sebuah kursi roda yang tadi sanggup mengejutkan Leona... dari kursi itu Lionel mengulas senyum lebar pertamanya bagi Leona disertai rasa berpengertian mendalamnya pada wanita itu.
Sangat mengerti kalau wanita itu jadi syok sesaat begitu bertemu dan melihat keadaan dirinya.
"Hallo... Leona...," sapaan bernada lembut dan lambat-lambat ciri khas Lionel yang pada akhirnya mampu menggugah keterhenyakan Leona.
"Lionel..." Hati-hati wanita itu mengucap nama Lionel sebagai respon. Disusul membentuk sebuah balas senyum manis darinya.
Tepat seperti dalam bayangan Leona, sebagian besar yang ada pada Lionel masih terlihat seperti Lionel yang dulu pernah dikenal Leona. Sesuai foto di photo profil WA pula. Raut wajahnya hanya sedikit saja berubah. Kini terlihat lebih mendewasa, hanya rambutnya itu.... gondrong hingga menyentuh bawah leher.
Walau tersisir rapih dan nampak unik karena diwarnai nuansa kemerahan, ukuran panjang si rambut yang menyerupai panjang rambut yang biasa dimiliki oleh para kaum wanita jadi terlihat sedikit membedakan membikin pangling. Selebihnya yang ada pada diri pria itu terutama kursi roda elektrik yang ia duduki dan didorongnya sendiri dengan tombol remote keluar dari kamarnya tadiii...
"Ya. Ini aku." Senyum Lionel itu, tulus tapi beraura getir tertangkap pandangan mata Leona.
__ADS_1
Jujur, tetap mampu melelehkan hati didalam wanita itu. Senyum Lionel murni dan bersih, jauh dari unsur genit menggoda.
Memakukan tatapan pada bibir rapat menyungging Lionel, Leona tidak tau harus menyahut apa. Tidak tau harus memulai dengan bicara apa demi menyadari situasi mereka berdua saat ini begitu membingungkan hatinya.
Leona akhirnya memilih mengabaikan saja senyum yang masih terbias di bibir agak tipis Lionel, sekadar mencari sela titik aman untuk dirinya sendiri agar ia tak perlu jadi salah tingkah akibat terus-terusan dihadiahi senyum royal Lionel. Karena biar bagaimanapun, Lionel itu seorang pria, bukan sesama jenis Leona seperti Anita,
"Iya. Oke. Daaan...ehm, aku ya ini."
Lionel tertawa kecil. Memandang wajah Leona dalam-dalam, penuh perasaan dan penghayatan, Lionel berujar lembut,
"Kau tidak banyak berubah. Masih terlihat seperti Leona dijaman kita sekolah dulu. Aku bisa langsung mengenalimu meski saat ini kau sedang... menggunakan make-up lengkap di wajahmu."
Alamaaakk..
__ADS_1