SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
62. Bagaimana Sampai Kau Bisa Punya Pengalamaaann...


__ADS_3

"Ajari aku bahasa Inggris yaa...biar bisa ngobrol asyik dengan para anggota keluarga angkatmu dan para atasan-bawahanmu."


"Hehehe...kau terlalu merendahkan hati. Aku tau betul kau jago bahasa Inggris. Medsos mu."


"Hisss...itu sih copy paste-an ku dari Google Translate."


"Hahaha..."


"Apaa...karyawan E Technologies benar-benar berjumlah 10.000 orang? Ngga kaan? Koq banyak amat??"


"Itu benar ada 10.000 orang. Termasuk yang di cabang."


"O my God. Jadi kau benar membawahi sebagian besar mereka?"


"H-mh. Begitulah kira-kira."


"Koq bisa? Koq kau bisa sih?"


"Kau mau mencoba? Aku bisa memberimu salah satu jabatan tinggi di sana kalau memang kau ingin mencoba merasakan bagaimana aku bisa melakukannya. Karena toh bakat bisnis manejemenmu sudah kau punya."


"Ah, gila apa? Nggaaa...ngga usah. Aku nyadar diri cuma kau yang bisa begitu. Aku nggak."


"Jadi cukup jadi sang nyonya besar saja?"


"Hehehe...iyeees."


"Siap, komandan."


"Hahaha..."


"Tanyalah lagi yang masih ingin kau tanyakan, Leona."


"Masih boleh?"


"Tentu, sayang. Tanyalah."

__ADS_1


"Ngg...itu."


"Itu?"


"Mmm...bagaimanaa...kau bisa punya pengalamannn..."


"Pernah bermain se*s dengan 5 perempuan? Kau sangkakan aku kenapa bisa semurahan segampangan itu?"


"Lionelll, sorryyyyy..."


"Heyy, that's fine. Ngga apa-apa. Aku bisa mengerti. Dan biar kujelaskan saja sekarang sekalian supaya kau tidak perlu jadi penasaran berlama-lama."


"If youuu...don't mind."


"I don't. Not at all. So now let me explain it... Each story is a very short story actually.


Saat aku hiking bersama teman-teman kuliah, saat aku menyelam, saat sedang mabuk di malam tahun baru-maksudku teman wanitaku yang mabuk berat dan posisiku sedang terpaksa harus ikut mabuk minuman keras itu...saat aku lulus sarjana dan aku bercinta dengan pacar pertamaku...dan terakhiiiir saat aku bersama pacar keduaku."


"Oooo...myyyy...."


"Ya ampuuunn...keren banget itu. Pengalaman pertama malah didalam air begitu."


"Yeahh, begitulah. Sayangnya Michelle sudah meninggal sekarang. Over dosis saat narkoba-an dengan rekan-rekan se-instrukturnya."


"Tuhaaann..."


"Kejadiannya tepat 2 minggu setelah kami bercinta itu.'


"Oh Tuhanku."


"Tidak ada yang istimewa dari kesemua pengalamanku ini, Leona. Hanya sekadar cinta satu malam..."


"Tidak juga yang bersama kedua pacarmu itu?"


"Aku berani sumpah, tidak juga."

__ADS_1


"Kenapa? Kalian toh sedang berpacaran?"


"Tidak tau kenapa. Susah untuk menjelaskannya padamu. Pokoknya yaa begitulah yang bisa kukatakan."


"Ooo...oke. Never mind. Lupakan."


"Leona, sayang, boleh aku tau kenapa kau tidak pernah berciuman dengan pacarmu? Viona sempat memberitauku kalau kau hanya pernah pacaran satu kali saja di waktu kuliahmu itu.'


"Ngga sempat membikinnya. Keburu putus."


"Kalian berpacaran lumayan lama. Semester 3 sampai menjelang wisuda."


"Betul. Yaa sama, aku juga susah nih ngejelasinnya padamu."


"Oke."


"Aku ngga mau nunggu nikah. Masa bodoh, aku maunya sekarang-sekarang ini."


"Leonaa..."


"Masa bodoh. Siapa yang bisa tau umur orang? Kalau aku mati besok, gimana?"


"Tuhann, Leona. Kau bicara apa itu."


"Kau tidak mau, Lionel?"


"Bukannya aku tidak mau. Kucing mana sihh yang nolak ditawari ikan asin?"


"Hihihi..."


"Becanda. Sorry."


"He eh. I know. And it's okay."


"Ibaratnya ya begitu. Bukannya karena aku tidak mau. Seperti yang sudah pernah kukatakan padamu, kau berhak mendapatkan yang terbaik. Momen terbaik."

__ADS_1


__ADS_2