SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
58. Please Jangan Lihat Ke Belakang Dulu


__ADS_3

Ada pak Randu di depan, itu masalahnya. Itu rambu larangannya.


Ohh...


Pak Randu, please. Jangan lihat ke belakang dulu...pinta Leona penuh harap di dalam hati.


Lionel tau apa yang 'di alami' Leona tapi menyengajakan diri berpura-pura terus fokus ke layar HP. Untuk dilihat sedemikian ini bagi pandangan mata pak Randu dari depan sana andai beliau melihat pada kaca spion diatas kepala.


Gerakan telapak menggosok dari Lionel kian diperbanyak dibagian sela, sang kekasih terlihat kian tak berdaya bersandar gelisah menekan hasrat dengan menyandarkan kepala lebih dalam pada jok sandaran kursi. Berharap ia saat ini sedang rebah saja sehingga ia leluasa menggeli*tkan tubuh bawahnya kesana kemari meluapkan efek keterangs*ngannya mengikuti aktivitas usapan, pijatan dan gosokan telapak tangan Lionel di tubuh bawah wanita itu.


Hingga di belasan menit kemudian...

__ADS_1


"Katakan padanya iya, kita berdua."


"Lioneeell.."


100 % itu bukan benar-benar memanggil nama kekasihnya karena terharu akhirnya sang kekasih mau menyanggupi, tapi tak lebih dari bentuk des*han yang akhirnya Leona tak sanggup lagi untuk tidak menyuarakan des*hannya ditamengi menyebut nama Lionel.


Bongkah kedua pay*dara Leona mengeras, pusatnya mengencang. Sedari tadi ia sudah ingin saja menyentuhkan puncak bagian kanannya itu ke lengan kiri terulur Lionel yang pria itu sengaja jaraki agar tidak sampai bersentuhan demi keamanan.


"Bahkan 1 bulan lagi aku masih akan berada disini." Gumam Lionel seakan bicara pada diri sendiri.


Celana panjang kerja Leona jauh dari tebalnya bahan jins. Lionel bisa merasakan bahan hitam itu lumayan tipis. Lekuk kewanit*an sang kekasih tak cukup tersembunyikan. Mungkin ia sedang berdalaman super tipis pula. Seperti panty? Kelembapan yang merembes akibat ulah Lionel telah muncul setitik ke permukaan. Pria itu juga sama terangs*ngnya, namun bacaan pada layar HP menyelamatkannya.

__ADS_1


Bukannya ia tak kasihan pada Leona. Justru Lionel sedang dalam misi menyalurkan kesenangan bagi sang kekasih. Siapapun wanita atau pria berpasangan, pastilah menyukai permainan semacam ini. Baik yang melakukan maupun pihak yang dimediakan.


Toh keberadaan duduk Leona pun agak menjorok ke dekat pintu kiri, Lionel sendiri yang tepat ditengah kursi. Jadi sebenarnya pak Randu tak cukup mendapatkan penglihatan berarti biarpun tangan Lionel beraksi seperti ini. Dan lagi, situasi dalam mobil hanya temaram nyaris gelap.


Dan yang terlebih lagi, biarpun pak Randu sempat melihat ini, Lionel tak perduli. Pak Randu asistennya yang sangat berpengertian. Ditambah, kacamatanya yang berkaca setebal pantat gelas kaca, sebenarnya tetap saja mengurangi keleluasaannya dalam melihat..


Diluar semua ini, Lionel bisa juga memahami akan Leona yang pastinya tak kan suka kalau pak Randu sampai tau aktivitas terlarang mereka berdua dibelakang beliau.


Tapi ah sudahlah, Leona akan baik-baik saja.


Lionel tak tahan saja untuk tidak tersulut gairah demi menghirup aroma khas tubuh Leona sehabis bekerja seharian yang justru itu terhirup enak dan memikat di penciuman pria itu, berbaur wangi lembut parfum beraroma wangi bayi yang Leona bubuhkan ditubuh ramping molek seksinya.

__ADS_1


Jadi dirasa pria itu, di saat ini juga ia harus menyalurkan gairah serta energi terbarukannya.


__ADS_2