
Masih jelas dalam ingatannya bagaimana mereka mengakhiri sesi adegan ranjang kemarin dengan saat itu juga bubaran begitu kata sepakat dicapai bahwa kemarin cuma akan mereka jadikan sebagai pemanasannya saja.
Tak lama deal, Lionel langsung saja mengumpulkan pakaian Leona dan membantu wanita itu mengenakanya kembali masih dengan mereka berdua berada di atas ranjang yang bahkan Lionel juga melakukan itu, membantu memakaikan keseluruhan pakaian luar dan dalamnya!
Tanpa sedikitpun jahil mencandai tubuh telanjang Leona dihadapan mata pria itu. Juga tidak mencandai tubuhnya sendiri manakala Leona ganti membantunya berpakaian...
Sesudahnya saat itu juga mereka langsung cabut dari rumah itu, kembali ke kost dengan lebih dulu mampir membeli makan siang di warung Padang untuk mereka bungkus dan disantap di rumah kost bersama pak Randu. Yang akhirnya dengan tak luput merasa kecolongan di awal, bisa juga mengerti dengan kemana gerangan menghilangnya Lionel yang hanya pria itu jelaskan bahwa ia pergi berjalan-jalan sebentar bersama Leona.
----------#####----------
Sesi terapi kedua berjalan sesukses terapi pertama kemarin.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang dalam sedan, Lionel berkata bahwa sepertinya terapi yang dilakukan di Indonesia ini membuatnya semakin merasa lebih baik dan kemungkinannya akan membawa sesuatu keberuntungan lagi baginya. Kemungkinan akan segera sembuh. Entah karena cara terapinya memang bagus dan manjur atau karena memang sudah waktunya pria itu mulai sembuh.
Mendengar itu, Leona disisi kiri duduk Lionel merasa bersyukur tapi tak berkomentar banyak selain hanya menunjukkan rasa senangnya yang paling diekspresikan diwajah saja. Yang ia siratkan hanya pada Lionel.
Rupanya wanita itu masih merasa tak enak hati pada pak Randu atas kejadian kaburnya ia dan Lionel. Terlambat menyadari kalau Lionel itu bukan orang sembarangan yang sebenarnya ada memiliki 'musuh' terselubung dimana-mana yang oleh karena itu, pak Randu tak boleh tersilapkan sedikitpun misalnya bila mengalami 'kehilangan' sang majikan.
'Terguncang' setelah mengetahui fakta ini, Leona didera penyesalan tanpa ampun-ampun. Hanya ia sembunyikan saja penyesalan teramat dalam itu di dalam hati, tak ingin itu diketahui Lionel agar supaya tak perlulah pria itu jadi membatasi diri terhadap Leona.
Benar-benar hidup, dan kehidupan pribadi pria itu juga, HARUS di privasi sebaik mungkin seperti akun-akun medsosnya. Pantas saja selama ini tersetting penuh keprivacyan?
"Tapi terapisnya tak punya gambaran kapan sebenarnya kau baru benar-benar bisa sembuh, Lionel?"
__ADS_1
Hanya itu komentar yang Leona suarakan. Dijawab Lionel dengan diam-diam meremas lebih erat genggaman tangannya ketangan Leona pada pangkuan wanita itu.
"Hanya memprediksi. Dan menyebut progress nya bagus. Hanya itu. Kata mereka mereka bukan Tuhan, tak mungkin bisa menentukan."
"Ooo..."
Suasana temaram dalam kendaraan membuat Lionel sedikit berani melepas telapak tangan kiri dari genggaman kedua tangan Leona lalu mulai mencari paha wanita itu.
Wanita itu menunduk sekilas kebawahnya dan segera mengerti, membiarkan Lionel memulai aksi menjelajah pada permukaan paha berlapis celana kerja bahan katun hitamnya.
Menyusuri, mengusapi secara perlahan tapi pasti, naik turunn...penuh perasaan, sambil Lionel berlagak berkonsentrasi penuh pada HP ditangan kanan.
__ADS_1