SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
84. Kolam Renang Yang Ternyata Sebelumnya Sebuah Danau Buatan


__ADS_3

Gadisnya itu baik-baik saja. Rupanya ia jatuh tertidur saat itu juga, tergambarkan dari suara tarikan nafas dan juga cara mata memejamnya.


Itu sekitar 2 jam lalu, dimana selama itu Lionel pun memanfaatkan waktu, membatalkan mencari bantuan karena ia yakin Leona telah benar-benar selamat dan baik-baik saja.


Sang kekasih terlalu lelah. Hanya memiliki waktu istirahat singkat dalam 40 jam terakhir, wajar gadisnya itu malah jadi tertidur sesudah berhasil tersadarkan diri tadi.


"Boleh sekarang aku mengomentarimu, sayang?" Menyapukan punggung telapak tangan kiri ke sisi bawah pipi kiri sang kekasih, Lionel lebih dulu tersenyum sebelum nanti menghapus senyum itu.


"He eh!" Cepat sang kekasih menganggukkan kepalanya dalam gerakan kekanakan, "Apa?"


"Aku serius," Lionel benar-benar memasang wajah serius, "aku tidak suka mendengarmu menyinggung-nyinggung tentang kematian."


"Ohh..." seketika paras Leona menghiba, "memangnya kenapaa?"


"Dan jangan terlalu kuatir atau takut mati. Toh kita semua pada akhirnya akan mati juga. Pasrah saja. Kalau memang sudah waktunya kita mati, biarkan terjadi alami. Sesuai ketentuannya. Sesuai takdir kita masing-masing. Hm? Ini menjawab juga pertanyaan kenapa mu tadi."


"Lioneell...tapi ngga semua orang berani menghadapi kematiannya dengan biasa-biasa sajaa. Sepertimu."


"Aku bukannya biasa-biasa saja. Aku lebih cenderung pasrah. Berpasrah saja."

__ADS_1


"Ooo....ya sudahlah, aku toh tadi memang benar-benar takut mati dikolam itu."


"Ya. Dan untungnya kau selamat. Leona. Karena kalau tidak, kau akan membuat hidupku berakhir juga. Sebelum aku sempat...lebih mencintaimu lagi dengan menunjukkannya padamu di setiap hari kita nanti setelah hari ini disini.


Hari demi harinya...hanya membahagiakanmu."


"Oh Lioneeell..."


"Kau masih merasa takut sekarang pada air atau kolam itu?"


"Ha?"


"Ohh..."


"Kau masih menginginkannya? Melakukan itu? Dan didalam air didalam kolam renang itu? Cukup dalam. Sudah kau buktikan tadi. Kedalamannya melebihi tinggi tubuhmu.


Dan ituu bukan sembarang kolam renang.


Itu danau. Dulunya. Mungkin bertahun-tahun sebelum adanya jaman penjajahan. Danau buatan hasil karya kakek buyut Nathasya karena beliau sangat menyukai perairan. Tapi pada akhirnya terpaksa direnovasi tanpa mengubah sebagian kedalamannya karena air danaunya terus mengering tahun ketahun.

__ADS_1


Dan sekarang itulah dia, sebagian kecil dari area danau buatan itu telah menjadi sebuah kolam renang. Kolam dibelakang itu...


Jadi bagaimana, bagaimana kesimpulan akhirmu, sayang?"


Apa baru sekarang Leona melihatnya? Menyadarinya, ada setitik tahi lalat hitam itu di sudut jatuh ujung kiri mata Lionel. Hanya sekecil titiknya mata pulpen. Mungkin sebuah tahi lalat baru. Tapi ini nampak imut terletak disana itu.


Menyenyumi pemandangan baru itu, wanita itu menggeser sedikit perhatian ke mata itu sendiri. Memandangi kedua mata Lionel diatas wajahnya yang sedari ia bangun tadi, wajah pria itu sudah berada dekat diatas wajahnya, duduk miring pada tepi ranjang dengan kaki kiri dilipat dikasur dan kaki kanan menjuntai ke lantai. Menghadapi tubuh berbaringnya diatas kasur, memberi perhatian intens dan mesra serta sentuhan berupa elusan di sepanjang lengan kirinya.


Mata adalah cerminan hati. Demikian apa kata-kata mutiara yang pernah Leona ketahui. Jadi apa yang sedang dirasakan pria itu dalam perasaannya, memang sangat terlukis di pancaran sinar kedua mata Lionel dalam memandang pada dirinya ini.


Sudahkah ia berterima kasih pada kekasihnya ini?


Belum sama sekali.


Ia terbangun tadi disertai emosi, tanpa sempat terfikirkan hal lain.


Maka semasih mereka berdua saling memandangi mata, senyum dan wajah satu dengan yang lain, Leona pun mengulurkan kedua tangannya ke atas.


Paham apa yang sedang diinginkan kekasihnya ini, Lionel menyambut kedua tangan terentang Leona. Mencondongkan sedikit lagi tubuhnya sendiri lalu mengalungkan kedua lengan sang kekasih ke seputar atas pundak, mengangkat dan memasukkan tubuh atas wanita itu kedalam pelukannya...

__ADS_1


__ADS_2