
Tak tahu berapa lama menempuh perjalanan ke rumah sakit.
Hingga tak terasa juga taksi yang ia tumpangi sudah mendarat tepat di pintu masuk rumah sakit ini.
"Alhamdulillah sudah sampai Nona,Ayo kita turun, makasih ya pak..."Tanpa membayar keduanya langsung turun begitu saja.
Karena ongkos perjalanan sudah otomatis dan di transfer jadi mereka tak perlu membayar lagi.
"Ini rumah sakitnya besar banget, kenapa gak ke puskesmas aja mba?"
"Puskesmas itu lebih jauh dari rumah sakit Nona,sebaiknya kita disini saja, biar deket.."
"Iya sudah baiklah.."
Langsung berjalan pelan memasuki lobby utama.
Pelayan ini menuntun Nona mudanya dengan penuh kelembutan dan hangat
Karena Luna sendiri merasa susah untuk berjalan.
Namun saat memasuki pintu lobby utama keduanya yang berjalan itu bertabrakan dengan seseorang.
"Brrughh...Eh.. sorry"Uh...untung saja Luna yang sedang sakit kakinya tak terhempas saat bertabrakan dengannya yang lumayan kencang itu.
Karena lelaki itu langsung memeluk dan menahan tubuh Luna yang akan terhempas.
"Kau..., Luna..."
"Edwin..."
Malah jadi bertatapan.
Kelihatannya Edwin berjalan begitu terburu-buru tadi,sampai-sampai ia menabrak Luna karena tidak melihat kehadiran-nya.
"Apa yang kau lakukan disini..?"melepaskan pelukannya dengan lembut yang tidak sengaja itu.
"Aku hanya ingin memeriksa kaki ku.."
"Kenapa dengan kaki mu..?"menatap kaki Luna yang tampak mulus itu.
"Tidak papa, hanya luka sedikit.."Meringis, karena bingung harus berekspresi seperti apa dengannya.
"Tapi kau tampak kesakitan.."Melihat satu kakinya yang terangkat membuatnya penasaran karena apa kaki itu terluka?.
"Tidak, tidak papa kok..."
"Sus..,tangani dia!,di ruangan VIP yah,dan jangan meminta apapun darinya nanti.."
"Baik Tuan Muda.."
"Maafkan aku karena menabrak mu tadi,aku sedang terburu-buru, jadi maafkan aku,kau tidak papa kan?, kandungan mu tidak papa kan..?"
"Iya,aku tidak papa.."
Dia terlihat baik sekali,suamiku saja tidak pernah bertanya bagaimana dengan kandunganku sekarang,atau bahkan dia lupa kalau aku ini sedang mengandung anaknya
"Iya sudah aku tinggal yah, suster akan segera mengurus mu, permisi, maaf..."
"Iyah..."
Kenapa ia main suruh-suruh suster sembarangan, seperti bos saja.
Suster segera hadir dan membawa kursi roda yang nampak mengkilat itu.
"Duduklah Nona,kami akan segera membawa anda ke ruangan pasien.."
"Bukannya biasanya pendaftaran dulu yah sus sebelum masuk ke ruangan pasien?"Merasa bingung jadinya melihat beberapa orang yang terlihat mengantri begitu lama sejak tadi di lobby.
"Anda tidak perlu mendaftar Nona,ini perintah Tuan Muda"
Tuan muda yang mana maksudnya?, Edwin..?
__ADS_1
"Baiklah, Terimakasih.."Mereka semua langsung menuju ke ruangan pasien VIP yang di perintahkan Edwin tadi.
Ruangan pasien apa hotel si?, indah banget..
Melihat pemandangan ruangan yang tidak seperti biasanya di rumah-rumah sakit lainnya membuatnya terbelalak.
Kali ini ruangan ini terlihat begitu rapi dan bersih.
Terdapat seseorang pria tampan juga yang sedang duduk di atas sofa sambil membaca sebuah buku.
Aneh ini ruangan apa si sebenarnya, bagaimana bisa aku nyasar kesini
Semakin bingung mereka berdua mendapati ruangan ini.
"Permisi Tuan Muda.."
"Iya masuklah.."Menjawab santai,namun ia belum berpaling dari tatapanya yang membaca buku itu.
"Duduklah di sini Nona, Tuan Muda dokter akan memeriksa Anda.."
Ah.. kenapa jadi semuanya Tuan Muda si..
Semakin bingung tak terkira,ia menggenggam erat tangan pelayanya ini karena merasa bingung sambil menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan suster tadi.
"Baiklah.."
Sebenarnya kita ini di mana Nona, kenapa jadi nyasar kemari, siapa dia?
Pelayan juga merasa bingung, namun ia tidak berani untuk angkat bicara terlebih dahulu.
Namun lelaki itu langsung berdiri dan mendekat ke arah tempat duduk di mana Luna duduk tadi.
"Kau yang bernama Luna?"Bertanya dingin.
"I... iya.."Sedikit ragu, bagaimana lelaki ini bisa mengetahui namanya,"Dari mana anda mengetahui nama ku?"sedikit tidak berani melihat tampangnya yang datar itu,tapi ia juga penasaran dengan lelaki ini.
"Edwin,mana yang sakit..?"langsung saja bertanya ke hal pokok.
"Telapak kaki kiri ku Dok.."menatap sejenak wanita ini.
"Berbaringlah..!"
"Baik Dok.."
Dokter ini langsung mengecek keadaan kaki Luna yang tampak berdarah kembali.
Lalu ia segera membersihkan darahnya, kemudian mengambil senter untuk mengecek keadaan kakinya lebih dalam lagi.
"Masih sakit?"
Menganggukan kepalanya Luna menjawab pertanyaannya.
Lalu Dokter itu berusaha menekan di pinggiran lukanya.
"Aw... sakit Dok"
Kenapa dia malah menekan kakiku si, jahat sekali,
"Sepertinya ada pecahan gelas yang masuk ke dalam kakimu,aku tidak bisa mengeluarkannya secara langsung,jika tidak kau akan terus menjerit seperti tadi...,jadi aku harus mengambilnya dengan cara membius kakimu agar tidak sakit"
"Iya Dok, baiklah"
Sekitar satu jam berlalu, akhirnya urusan penanganan kakinya sudah selesai.
"Ini obat yang harus kau minum selama masa penyembuhan"
"Ta.. tapi Dok, saya sedang hamil,apakah ini baik untuk kehamilanku?"
"Baiklah, sebaiknya kau pakai ini saja, usapkan dua kali sehari di lukamu setelah mengering..."memberikan salep kecil dan obat bubuk.
"Baik Dok, terimakasih banyak.."
__ADS_1
"Langsung pulang saja,tak usah ke ruangan administrasi.."
"Hah..?,e'...eh baiklah, terimakasih Dok.."
Dia mengusirku apa, tapi sepertinya ini lebih terkesan agar aku tidak mem**bayar biayanya si,
Tidak ada respon darinya,ia langsung duduk kembali dan membaca bukunya lagi.
Orang aneh, kenapa menjawab sama-sama saja pelit sekali,tapi baiklah.. dia telah menyembuhkan kakiku,jadi...aku maafkan,
Mereka berdua langsung keluar dari ruangan ini tanpa bertele-tele lagi.
"Sombong sekali Dokter itu, tidak ada senyumnya sama sekali"Menggerutu berjalan dengan sangat pelan dan menjinjitkan kakinya.
"Luna kau sudah selesai di periksa?"Tanya seseorang kembali yang berpapasan dengannya tiba-tiba
"Eh..Edwin, sudah..."Melihat Luna yang menjinjit membuatnya geram.
"Sus..., suster"Salah satu suster langsung berlari menghampiri Edwin yang berteriak."Kursi roda!,kau tidak melihat teman ku kesusahan untuk berjalan sejak tadi..."
"Edwin aku tidak papa,tak usah.."
"Menuju ke lobby keluar cukup jauh Luna,apa mau aku antar pulang, bawa mobil gak?..."
"Tidak usah, kita bawa mobil kok.."Berbohong sambil menggenggam tangan pelayan di sebelahnya ini agar tidak ikut berbicara.
"Oke baiklah, hati-hati di jalan ya Luna.."
"Iya Edwin.."
Suster segera datang kembali dan membawa kursi roda yang di perintahkan Edwin tadi untuk Luna.
Tak bisa menolak lagi, kakinya yang terasa sakit membuatnya tidak mampu untuk menolak duduk di kursi roda itu untuk keluar dari gedung rumah sakit.
*****
"Cklekk..."Pintu terbuka.
Edwin langsung masuk ke ruangan ini.
"Kakak,kau masih disini?, tidak ada jadwal praktek emang?..."
Berjalan mendekatinya, lalu duduk di samping kakaknya itu.
"Bagaimana kak dia,dia cantik kan..?"menyeruput kopi begitu saja.
"Kau meminum kopi ku hah?, beraninya..."Merasa kesal ia,tapi belum menjawab pertanyaan adiknya itu.
"Lagian kopinya menggoda kak hehe.., bagaimana kak, dia cantik kan?"Terus bertanya dan membuat kakaknya terusik
"Siapa yang cantik si?"Kesal.
"Luna..?,dia cantik kan?, cocok gak buat kakak?"
"Plakkk.."menimpuk-nya dengan buku karena begitu kesal mendengar pertanyaannya itu.
"Cocok mata lu,dia sedang hamil bodoh.., bisa-bisa menjodohkan kakakmu dengan wanita hamil,kau tidak waras hah...?"
"Siapa tahu itu jodoh kakak,dia cantik kan kak?, baik juga lagi?"
"Kau itu baru mengenalnya, sudah langsung memuji dan menyanjung-nya, bagaimana si?,kau benar-benar tidak waras yah..?"Merasa begitu kesal sekarang melotot mantap adiknya tajam.
"Tapi dia cantik kan kak..?"
"Plakkk..., ampun yah!,stop bodoh!,dia itu istri orang, bisa-bisanya menjodohkan kakakmu dengan istri orang,kau pikir aku tidak bisa mencari penggantinya sendiri hah?"
Merasa kesal sekali,ia langsung pergi meninggalkan ruangan.
"Kak, tapi suaminya itu menikah lagi,aku yakin sebentar lagi mereka akan bercerai.."Berteriak.
"Bodo amat, bukan urusanku bodoh.., Brakk.."Benar-benar meninggalkan ruangan dan menutup pintu dengan kesal.
__ADS_1