Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Ketahuan


__ADS_3

Waktu sudah hampir menjelang malam, setiap menit malam mulai terasa semakin gelap.


Terlihat Swara yang sedang bolak balik kesana kemari menantikan sang suami yang belum juga pulang ke rumah.


"Mas Alfian kemana si?, kenapa dia belum juga pulang,dia benar-benar marah, kenapa dia sampai semarah itu kepadaku.."


Merasa semakin gelisah sendiri, terlebih pikiranya sudah pergi kemana-mana memikirkan hal-hal yang tidak ia inginkan.


Seharusnya Swara sendiri sadar ulahnya kali ini benar-benar keterlaluan.


"Duduklah sayang!,kau harus Istirahat kan!"Tuan besar sudah merasa geram sendiri melihat putrinya yang berjalan kesana kemari gak jelas.


"Mas Alfian belum pulang Pah, gimana kalau hari ini dia gak pulang ke rumah"


"Tak usah berpikiran macam-macam Swara!, memang dia mau pulang kemana jika tidak pulang kesini?"


"Pulang ke rumahnya yang dulu lah Pah, bagaimana kalau dia sudah bertemu dengan Luna dan sekarang ia bersamanya bagaimana,dia bilang membenciku, nanti kalau dia benar-benar membenciku bagaimana?"


"Alfian sudah menandatangani kontrak perjanjian dengan Papah, percayalah!,dia tidak akan berani mengingkarinya, tenganlah!"


"Ah... terserah Papah deh, pokoknya kalau mas Alfian gak pulang,aku gak akan mau makan!, titik!"


"Swara.., Swara.."


Ia langsung menuju ke kamarnya begitu saja, bahkan ia sampai mengancam Papahnya yang begitu menyayanginya itu dan tidak menyahuti ayahnya yang sedang memanggilnya itu.


"Cih,anak itu benar-benar, seperti tidak ada lelaki lain saja!"


Merasa kesal sendiri Tuan besar,ia langsung memanggil para Anak buahnya untuk segera menemukan keberadaan Alfian sekarang.


******


"Sudah cukuplah jangan bermain terus,kau tampak keringatan.."Mengusap kening Edward tanpa sadar dengan tanganya ini membuat keduanya sama-sama kaget.


"Ee'...maaf,aku tidak sengaja...."Mengalihkan tanganya,ia merasa gugup sendiri jadinya.


Luna hanya ingin Edward berhenti bermain karena ia terlihat ngos-ngosan.


"Terimakasih..."Terseyum sendiri Edward,ia langsung berhenti memegang bola-bola kecil yang ada di tangannya itu dan melemparnya ke lorong mainan."Tapi hadiahnya..?"


"Sudah begitu banyak hadiah yang kau dapat, sudahlah kau harus Istirahat kan?"Masih mengharukan kepalanya karena bingung harus berkata apa.


"Ya sudah baiklah,Kau lapar yah?...,ayo kita makan!"Untuk menghilangkan rasa canggungnya sebaiknya Edward segera melakukan kegiatan yang lain yaitu makan-makan.


Mereka berdua sudah berada di restoran termewah dan termahal yang ada di wisata ini.


Pemandangannya juga sangat estetis dengan lapisan kaca besar yang melapisinya.


Menu pesanan mereka sudah tersedia di meja makan,ada dua jus juga situ.


Terlihat makanan yang enak sekali di mata Luna, namun tidak dengan baunya,ini membuatnya merasa mual sendiri.

__ADS_1


"Huek..huek.."Berdiri dari duduknya, untuk sedikit menjauh dari tempat.


"Luna.."Edward juga ikut berdiri merasa khawatir."Kau tidak apa kan?".


"Aku hanya sedikit mual saja, tenganlah.."Mencoba menahan rasa mual di mulutnya itu.


"Kau tidak baik-baik saja, ciumlah ini!, siapa tahu cocok.."Memberi aroma daun mint yang ia miliki di Katong sakunya.


"Ini..?,dari mana kau miliki?"


"Di kantong celanaku,aku suka menghirupnya, makanya aku selalu membawanya kemana-mana"


Setelah kelar dengan urusan makanya mereka berdua langsung beranjak meninggalkan restoran ini.


"Edward, ini sudah malam, apa kita tidak mau pulang?,aku takut nanti kalau mamah papah kamu nyariin bagaimana?,terus entar marah lagi karena kita pulang kemaleman bagaimana?..."


"Tenganlah ini baru jam setengah 8, baiklah sebentar lagi kita pulang,tapi kita nonton satu Film dulu yuk..."


Seharian mereka menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan.


Untuk jadwal mereka malam ini adalah menonton film di bioskop.


Edward sendiri juga jarang berkeliling ataupun berjalan-jalan di dalam kota ini,ia selalu sibuk dengan urusan pasien dan rumah sakit.


Walaupun rumah sakit besar ini milik keluarganya pribadi, namun ia tetap ikut bekerja membantu para pekerja yang bekerja di rumah sakit itu.


Malam sudah semakin larut, urusan menonton sudah kelar,Luna dan Edward masih tertawa menghabiskan keseruan film tadi sambil keluar dari gedung bioskop.


"Sangat senang,tapi sudah cukup.., aku lelah"Memegang pinggangnya dengan kedua tangannya yang sudah bertumpuan itu karena lelah tertawa.


"Iya kau tidak boleh kecapean,kau sedang hamil, kasian bayimu,ayo kita pulang Istirahat.."Membukakan pintu untuk Luna.


"Terimakasih Edward.."


Tidak tahu mau sampai kapan kau akan berterimakasih Luna,


Keduanya langsung melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.


Sekitar setengah jam mereka menempuh perjalanan,dan akhirnya keduanya sudah sampai tepat di halaman depan rumahnya.


Satpam seperti biasanya membukakan pintu untuk majikanya dengan hormat.


Sosok sang ibu terlihat tidak seperti biasanya ia menunggu dan berdiri di depan pintu masuk rumah.


"Edward,mamah ingin berbicara penting denganmu..."Panggilan ibunya tiba-tiba setelah melihat putranya baru saja turun dari mobil.


Terlihat juga mimik wajahnya yang begitu serius kali ini, bahkan panggilan dan pandangannya terlihat begitu mematikan.


Apa Tante marah karena kita pulang kemaleman,


Merasa gelisah sendiri Luna, tapi ia tetap memberikan diri untuk turun dari mobil mengikuti langkah Edward yang berjalan masuk ke teras rumahnya.

__ADS_1


"Mamah, tumben.."Merasa bingung Edward dengan tatapan ibunya itu.


"Aku tegaskan sama kamu siapa sebenarnya Luna?, kenapa dia ada di sini?, siapa wanita itu?"


Tiba-tiba sikap ibunya berubah 180 derajat dari kelembutannya tadi pagi.


Gawat,apa mamah sudah mengetahui hal yang sebenarnya.


Keduanya terbelalak mendengar ucapan mamah yang tiba-tiba ini.


Luna memang kaget, namun baginya inilah memang saatnya ia untuk pergi dari sini.


"Apa maksudnya Mah?,aku.. tidak mengerti apa yang mamah katakan.."


Merasa bingung dengan wajah pias-nya itu harus menjawab apa.


"Tak usah mengelak lagi Edward,dia itu siapa?,dia bukan kekasihmu kan?"


"Lu..Luna.."


"Tak usah banyak bertele-tele!, sekarang to the point aja kepada Mama!, dia itu siapa?, siapa Perempuan yang kau bawa kemari?"


"Saya bukan siapa-siapa Edward Tante,saya hanya pasien dekat yang mengenalnya saja, maafkan saya Tante,jangan memarahi Edward, karena ia tidak bersalah akan ini, ini semua salah saya Tante.."


"Luna apa yang kau katakan?"Edward merasa geram dengan ucapan Luna yang terdengar begitu bersalah itu.


Luna paling merasa tidak enak hati disini, terlebih mendengar kata ibunya Edward yang terdengar ketus.


"Diam!,aku tidak menyuruhmu untuk berbicara,aku hanya ingin mendengarkan penjelasan dari putraku saja"Berbicara datar menatap Luna,namun ia benar-benar terlihat begitu marah akan ini.


"Luna awalnya memang pasienku mah,dan aku membawanya kemari karena dia.."


"Dia kabur dari rumahnya?,dia pergi meninggalkan suaminya,dan dia sedang hamil dan kabur kesini bersama mu begitu.."


Mamah tahu dari siapa tentang ini.


"Kau sudah tidak waras membawanya kemari?,lalu jika terjadi apa-apa pada keluarga kita bagaimana?,jika ada polisi yang datang kemari bagaimana atas nama kasus penculikan.."


"Cih..., mamah takut akan ini,Luna sudah dewasa mah,ia bisa bilang yang sejujurnya pada polisi bahwa dia tidak di culik kan.."


"Pokoknya mamah tidak mau tahu, mamah tidak ingin terjadi apa-apa pada keluarga ini, terlebih kau membawa istri orang kemari Edward.."


Kaduanya terlihat kesal saling pandang, ibunya pun terlihat tidak terima karena di bohongi dan merasa marah dengan semua ini.


Sementara Luna menjadi tidak tahan sendiri.


"Sudah cukup Tante,ini semua salah saya, jangan salahkan Edward atas ini, untuk itu saya mohon maafkan saya yang sebesar-besarnya atas kehadiran saya selama ini..., saya akan segera pamit Tante, terimakasih atas semuanya, maafkan saya.."Luna sudah berbalik melangkahkan kakinya untuk pergi dari teras rumah ini.


"Luna apa yang kau katakan,kau mau kemana?.."Edward sudah panik melihatnya aku pergi dari lingkungan rumahnya.


"Edward.."Tangan ibunya yang sudah menghalangi langkahnya yang akan menyusul kepergian Luna.

__ADS_1


__ADS_2