Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Rencana Swara


__ADS_3

"Aaa...aa.. sayang ada kecoa"


Berlari terbirit-birit menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa kamarnya itu.


Kemudian Swara mencoba merangkulnya dari belakang.


Ia merasa begitu takut dan jijik terhadap serangga.


"Apaan si?, lebay, lepaskan aku!,aku gerah.."Berbicara ketus di setiap harinya untuk menghadapi tingkah laku Swara yang begitu manja dan mencintai Alfian itu sudah biasa.


"Ih... tolongin, aku kan takut,aku kan mau ke kamar mandi,itu ada kecoa..!"


"Obat semprot kan banyak, tinggal ambil saja semprot,nanti juga mati kecoa-nya,gak usah manja si kenapa?"


Nada suara yang datar dan ketus sudah setiap hari menjadi santapan Swara, namun ia tidak pernah menyerah sedikitpun.


Entah bagaimana sebenarnya hati orang ini,ia tidak ada rasa menyerah sama sekali untuk mendapatkan hati suaminya yang saat ini benar-benar membencinya.


"Iya baiklah.."


Pada akhirnya Swara meminta tolong kepada pelayanya yang ada di rumah ini untuk segera mengatasi kecoa itu dan menyemprotnya agar segera mati.


Sementara Alfian benar-benar tidak peduli dengan tatapan istrinya yang memperhatikannya dari kejauhan dengan sengit.


Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam,jika aku tidak bahagia denganmu maka Luna juga tidak boleh bahagia,


ingat itu Alfian.


Perasaan Swara memang sudah kelewat batas mencintai suaminya.


Walaupun suaminya bersikap se-benci mungkin saat ini ia tetap akan bersusah untuk membuatnya mencintainya.


Sungguh terus berjuang ya Swara.


Ia tidak berselera lagi untuk masuk kedalam kamar mandi, kemudian ia menuju ke atas ranjang dan menatap layar ponselnya.


Sesekali ia terlihat mengetik begitu serius.


"Demian..,aku ingin berbicara denganmu sebentar"


Sebait pesan yang ia kirimkan kepada sebuah nomor Wa yang berprofil pemuda tampan yang berjas dan berdasi.


Singkat waktu akhirnya ia menjawab pesan Swara.


"Kenapa?,apa ada masalah?, tidak ada masalah kerjasama antar kantor kan?"


"Aku ingin bertanya kepadamu, apakah ada pekerja kantor yang bernama Luna disitu,aku melihatnya melamar pekerjaan tadi pagi di kantormu..."


"Mana aku tahu,aku tidak mengurus urusan keluar masuk pekerja baru, tanyakan saja pada tangan kananku!"


"Kau ini seorang CEO bukan, seharusnya kau tahu laporan tentang keluar masuk pekerja baru di kantormu?"

__ADS_1


"Aku belum mengeceknya,aku terlalu sibuk, lagian aku tidak sempat dan ini juga tidak terlalu penting kan.."


"Tapi ini penting bagiku!"


Cih, apaan si Swara,gak jelas banget..


Beranjak duduk ke atas ranjangnya yang semula ia berdiri dan menyisir rambutnya.


Kemudian ia duduk menyender ke bantal yang ada di atas ranjangnya itu.


"Maksudmu...?"


Merasa penasaran sendiri jadinya.


Ternyata benar pemilik kantor itu adalah teman dekat Swara, bahkan mungkin ia memang rekan kerja kantornya yang selalu bekerja sama dalam bidang marketing.


"Kau hanya perlu mencari wanita ini,jika ia benar ada di kantormu beritahu aku..."


Mengirim sebuah foto wanita cantik yang masuk ke dalam ponselnya.


Apa maksudnya ini, ada-ada saja..


Menatap foto itu lekat,tapi ia belum tersadar dari pikirannya yang masih berlarian kemana-mana.


"Tunggu, wanita ini... kenapa dia tidak asing bagiku?"


Mencoba mengingat-ingat tentang wajah wanita ini yang pernah ia lihat sebelumnya.


"Dia kan wanita menyebalkan itu.."Mengingat akan sikap Luna yang menyebalkan karena berani mengajarinya tadi pagi.


Tapi berani sekali dia mengajariku ya,


Batinnya, sambil menunggu balasan pesan Swara yang sedang mengetik.


"Dia adalah sainganku,aku begitu membencinya,aku tidak ingin melihatnya bahagia sebelum aku bahagia.."


"Maksudnya..?"Semakin bingung dengan ucapan Swara yang tak jelas menuju ke arah mana ini.


"Bantu saja aku,bikin dia bisa mendapatkan uang banyak di situ,biar dia bisa melupakan suamiku, lakukan apapun sesukamu padanya.."


"Maksudmu dia ingin merebut suamimu dan ingin mendapatkan uang banyak darinya?" "Dasar wanita picik,aku sangat suka wanita seperti itu, akan aku melayaninya jika ia ingin mendapatkan uang banyak dariku..."Mencibir sambil mengirim balasan pesannya itu.


"Iya sudah,aku serahkan semuanya kepadamu.."


"Memang apa yang perlu aku lakukan untuknya..?"


"Terserah kau saja mau berbuat apa di kantor, yang jelas aku tidak ingin melihatnya bahagia Demian...!"


"Baiklah jika wanita itu benar-benar mengganggu rumah tangga mu.."


Semua percakapannya kini sudah berakhir.

__ADS_1


Demian kembali menatap layar ponselnya lekat sambil melihati foto wanita itu yang tampak manis saat terseyum.


Tapi dia terlihat kalem, manis juga senyumannya..


"Brakkk..."Melempar ponselnya begitu saja di meja samping ranjang, seolah-olah ia begitu memiliki banyak HP satu konter hingga tidak memperdulikannya saat dirinya melempar HP.


*****


"Aku ingin hidup baru yang lebih baik lagi ya tuhan, yang lebih baik dan lebih bahagia lagi dari kehidupan yang aku rasakan sebelumnya, semoga ini jalan yang terbaik untukku saat aku berpisah dengan suamimu nanti..."


Membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Thok..thok..,Luna kau tidak ingin menonton?"Ibunya yang sudah muncul di balik pintu, waktu baru menunjukan pukul setengah sembilan malam,ini masih terlalu pagi bagi mereka untuk tidur dan istirahat.


"Tidak Bu,Luna ingin istirahat.."


"Baiklah,Ibu tahu kau sangat capek sayang, Istirahatlah yang cukup... muach, selamat malam"


"Iya Bu.."


Kasihan Luna,ia harus berkerja keras sekarang, tidak papa nak... kau pasti akan bahagia suatu saat nanti..,


Setelah melihat ibunya keluar dari ruangan kamarnya,ia langsung mencoba menutup matanya untuk tidur.


Hari ini termasuk hari yang sangat melelahkan baginya, selain harus beradaptasi lagi,ia juga harus istirahat yang cukup untuk menyiapkan kebugarannya di hari esok.


"Drettt.. Drettt.."Ponselnya bergetar, terdapat pesan masuk dari Edward disitu.


Membuat Luna kembali segar dan menatap layar ponsel sambil tersenyum.


Edward..,dia yang selalu ada disaat aku merasa bosan,


"Malam Edward,kau sudah pulang dari rumah sakit?"


"Belum,aku sedang mengurus pasien disini, mungkin aku juga akan menginap karena keadaan darurat..."


tidak


"Sungguh mulianya dirimu, semangat kerjanya,aku akan selalu mendukungmu Edward, sukses selalu..."


"Benarkah,kau akan selalu mendukungku?, maka buktikan,apa kau bersedia menemaniku di setiap harinya?"


Maksudnya,apa maksud perkataanmu Edward?,


Membuat Luna terdiam sejenak,Ia juga tahu perkataan Edward kali ini adalah gurauan baginya.


"Aku akan selalu menemani mu lewat do'a Edward, karena aku juga bekerja di kantor saat ini,tidak mungkin aku harus main ke rumah sakit tiap hari untuk menemui mu..."


"Siapa yang suruh kau main ke rumah sakit setiap hari,aku hanya menyuruhmu untuk selalu berada di sampingku nantinya,dan jika kau mau...,dah...aku harus kembali praktek.."


Mengakhiri pesannya saat salah satu suster masuk ke dalam ruangan dan memanggilnya untuk menangani salah satu pasien yang darurat.

__ADS_1


Pikiran Luna sedang kemana-mana sekarang,ia tidak mengerti apa yang di katakan Edward saat ini,dan dia juga yakin, hidup bersanding dengan Edward itu adalah tidak mungkin dan mustahil, karena ia adalah golongan orang konglomerat dan kaya raya.


Sedangkan Luna adalah wanita biasa yang berasal dari keluarga cukup saja.


__ADS_2