Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Balas dendam


__ADS_3

"Drettt.. drettt"


Ponsel yang ada di samping bantal Swara mengagetkannya yang sedang tertidur lelap.


Waktu saat ini sekitar pukul setengah dua malam, benar-benar begitu sunyi tiada suara, hanya detik jarum jam yang berdendang di dalam kamarnya ini.


Ia tak menghiraukan ponselnya yang berkedip-kedip saat ini,Swara merasa begitu ngantuk dan letih.


Kandungannya yang semakin membesar pun membuatnya sakit pinggang di setiap harinya.


"Drettt.. drettt.."Ponselnya berbunyi lagi untuk yang kedua kalinya, membuat Swara yang akan terlelap tidur kembali tersadar.


"Siapa si malam-malam, ganggu saja ngeselin.."


Mata ini masih enggan untuk membuka,ia menatap layar ponselnya dengan samar.


Terdapat beberapa pesan masuk dari nomor asing yang ia lihat saat ini.


"Gak jelas.."Mencoba membuka matanya lebar-lebar dan menatap layar ponselnya dengan seksama.


Pesan yang orang itu kirim adalah pesan gambar.


Dengan penasaran ia membuka dengan mata ngantuk.


Begitu terkejutnya dia setelah melihat foto itu.


Matanya bulat terbelalak seketika karena tidak percaya.


Ada foto Alfian yang secara tidur seranjang dengan wanita lain.


Terlebih melihat Alfian yang telanjang dada sambil memeluk wanita itu membuatnya benar-benar tersadar dan rasa ngantuk-nya hilang.


Terlihat pula nomor orang asing ini online dan mengetik kembali.


Swara masih terdiam kaku menatap layar ponselnya karena tidak percaya.


"Suamimu sangat menyenangkan,dia juga sangat tampan..."


"Brengsek,apa maksudnya ini?"Dengan mengepalkan tangannya Swara saat ini.


Ia merasa begitu marah dan tidak terima.


"Siapa kau hah?, siapa kau?"

__ADS_1


Beberapa pesan kesal Swara kirimkan kepada orang itu untuk mencari tahu.


Melihat foto suaminya yang tidur seranjang dengan wanita lain benar-benar membuatnya menggelengkan kepalanya.


Entah bagaimana caranya wanita itu menghasilkan foto-foto tak senonoh itu bersama Alfian.


Mungkin Alfian sedang tidak sadar saat ini, namun ia sendiri juga tidak tahu obat apa yang sudah di berikan sekertaris barunya itu kepadanya.


Membuatnya tidak sadar dan tertidur pulas malam ini tanpa berkutik sedikitpun.


"Ini adalah bukti Nona,jika aku hamil nanti,aku pastikan aku telah mengandung anaknya, anak suami mu Swara, jadi bersiap-siaplah menyingkir.."Sengit wanita itu di dalam pesannya.


Swara dengan kesal menelfon nomor itu untuk memarahinya.


Dengan santai panggilan itu di jawab oleh sang pemilik nomor itu.


Terdengar suara perempuan yang lembut tanpa dosa di dalam ponselnya.


Ini benar-benar membuatnya tidak bisa tidur dan lupa akan rasa ngantuk-nya.


Terlebih wanita itu terlihat tertawa begitu bahagia menantikan suara Swara yang akan berbicara itu.


"Apa yang kau lakukan bersama suamiku?, sebenarnya kau ini siapa,kau wanita tadi siang kan.."


"Iya aku wanita tadi siang, kau sungguh tak mengenali ku hah, sayang sekali Swara haha.."


"Apa maksud mu? siapa kau sebenarnya.."


"Aku adalah musuh terbesarmu Swara. Selama ini aku diam,tapi untuk kali ini aku tidak bisa diam,aku tidak bisa melihatmu hidup tenang, dan akan aku pastikan, aku pasti akan membuat hidupmu hancur sama halnya seperti ku dulu.."


"Apa maksudmu?,kau ini siapa hah?, dimana suamiku?, dimana Alfian? dimana dia?, katakan dimana dia,dan aku tidak mengenal mu, kenapa kau tiba-tiba masuk di dalam kehidupanku.."Semakin berbicara kesal bernada tinggi, emosinya tidak bisa terkontrol lagi.


"Haha..tenang saja Swara, kau tak usah teriak-teriak, suamimu aman bersamaku,ia sedang tidur nyenyak, tenanglah, lagian ia sendiri tidak menyukaimu juga kan,jadi jangan harap kau bisa berbicara dengannya saat ini,ia sangat leleh hari ini karena bekerja terlalu lama. Biarkan dia istirahat dan tidur nyenyak bersama ku, kau mengerti kan..bay.."


"Brengsek..hey..hey"Wanita itu langsung mematikan panggilan dan offline begitu saja.


Maafkan aku Tuan muda, aku hanya ingin memberikan pelajaran untuk istrimu, dia yang sudah membuat hidupku sengsara selamat ini, aku selalu tersiksa batin dan terkucilkan,itu semua karena ulah istrimu, maafkan aku..


Setelah kelar dengan urusannya wanita itu langsung kembali ke kamar hotelnya di sebelah.


Ia tidak peduli akan apa yang sudah ia lakukan saat ini,entah ia harus kehilangan pekerjaannya nantinya ia juga tidak perduli, yang penting sekarang ia pasti sudah membuat hati Swara tidak bisa tidur dan terluka.


Perlahan-lahan ia pasti akan membalaskan dendamnya itu kepada Swara.

__ADS_1


Begitulah yang ada di pikirannya sekarang ini.


Entah karena masalah apa keduanya seperti ini, mungkin mereka memiliki kenangan buruk di masa lalu yang tidak dapat di lupakan sampai saat ini terutama hati sekertaris itu.


Swara tidak bisa tidur lagi,ia sudah berdiri dari ranjangnya dan mondar-mandir kesana kemari,ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.


Pikiran dan hatinya juga sangat kacau,ia hanya bisa menangis dan marah sendiri di dalam kamar.


Mungkin untuk pagi tiba ia langsung menghubungi ayahnya dan menyuruh suaminya untuk pulang ke rumah, begitulah yang akan ia lakukan sekarang ini.


Ternyata benar setelah pagi tiba Swara benar-benar merengek dan memohon kepada ayah tercintanya untuk membatalkan segala urusan suaminya yang ada di luar kota itu.


Ia minta dengan paksa agar ayahnya menyuruh suaminya pulang sekarang juga.


Ini membuat Ayahnya bingung atas tingkah laku putrinya saat ini yang belum juga memberitahu apa alasannya menyuruh suaminya untuk segera pulang.


Kekesalan dan air mata sayu terpancar di raut wajah putrinya.


Mungkin sejak semalam Swara tidak bisa tidur memikirkan suami dan wanita itu.


Demi putri semata wayangnya apapun akan di lakukan oleh Tuan besar.


Ia rela berpindah haluan untuk menggantikan posisi menantunya saat ini, walupun ia sendiri sudah semakin tua dan berumur, seharusnya ia juga perlu Istirahat dan bersantai di rumah.


Tapi untuk kali ini ia akan pergi ke luar kota untuk menggantikan posisi menantunya dan turun tangan sendiri.


"Alfian, pulanglah ke rumah, Papa yang akan menggantikan jadwal kerjamu hari ini..."


"Apa?, tapikan ini mau..."Alfian bahkan sudah bersiap-siap dan hanya tinggal memakai dasi saja untuk segera keluar dari dalam gedung hotel ini dan menghadiri pertemuan itu, namun bos berkata lain dan malah menyuruhnya pulang.


"Tinggal saja, Papa yang akan mengurusnya nanti.."


Aneh sekali,


"Baiklah..."


Tanpa panjang lebar lagi Alfian langsung pergi meninggalkan hotel ini dengan segera untuk kembali ke kota di mana mereka tinggal saat ini.


*****


Dua hari ini suasana hati Luna semakin membaik dan berseri-seri.


Rasa luka dan kecewa yang ia rasakan selama ini perlahan menghilang.

__ADS_1


Edward sering berkunjung ke rumah Luna dan bermain lama di situ.


Selain pengertian ia juga selalu datang tiba-tiba ke rumah dan membuat Luna kaget sekaligus senang, ini lah yang sering ia lakukan hingga membuat Luna lebih sering terseyum bahagia sekarang.


__ADS_2