Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Alfian gelisah


__ADS_3

Hari sudah semakin petang.


Luna seharian menghabiskan waktunya menonton film di dalam kamar pasien ini.


Sebenarnya ini itu ruangan apa si, kenapa berbeda sekali dari ruangan rumah sakit lainnya.


Aku harus bagaimana?,masa aku tetap disini,aku gak bawa ponsel lagi,aku juga gak bawa uang untuk membayar rumah sakit ini,


aku harus bagaimana?,


Luna sendirian di dalam ruangan ini.


Sementara Edward sedang menangani pasien yang lainnya.


Tidak ada satu orang pun di dalam ruangan ini kecuali dirinya yang sedang asik menonton film .


"Aku lapar...."


Melihat kulkas yang berada di sudut ruangan membuatnya tertarik untuk menghampirinya.


Apa disini ada makanan?,aku lapar...


Membuka Kulkas, hanya ada buah-buahan segar yang ada di dalam lemari kulkas ini.


Itupun tidak ada yang bisa membuatnya berselera.


"Apa yang sedang kau cari..?"


Eh dia..,


"Ee'..a..aku lapar..."menundukkan kepalanya,ia merasa malu dan tidak enak diri kepada Edward.


"Sini duduklah.."Menunduk dan segera menggandengnya untuk segera duduk di sofa.


Setelah keduanya duduk di sofa, Edward dengan diam memencet tombol yang ada di samping meja lampu yang ada di dinding.


Beberapa saat kemudian dua suster pun masuk ke ruangan ini.


"Bagaimana bisa kalian membuatnya kelaparan?, Kenapa kalian tidak mengantarkan makanan ke ruangan ku?,apa kalian lupa?.."


"Maaf Tuan Muda kami salah, maafkan kami Nona,kami terlalu sibuk mengurusi urusan yang lain tadi"


Eh.. kenapa dia jadi kelihatan marah-marah si, lagian gak papa kali,aku kan hanya lapar sedikit bukan kelaparan.


"Tidak papa, lagian aku cuma..."


"Cepat ambilkan makanan!,tak usah bertele-tele.."


Kelihatannya dia lelah sekali makanya marah-marah,


Jadi semakin takut saja Luna dengan dokter dingin ini.


Makanan langsung datang ke ruangan ini beberapa menit kemudian.


"Makanlah mumpung masih baru nanti tidak enak.."


"Ee'.. iya"


"Kau tidak makan..?"


"Aku tidak lapar"Beranjak berdiri menuju ke ruang ganti, sepertinya ia akan berkemas dan segera pulang ke rumah.

__ADS_1


Dia kenapa?, kenapa terlihat suram sekali,


Luna tidak menghabiskan makanannya,ia merasa tidak nyaman disini.


Ia juga belum terlalu pulih, namun rasanya ia ingin sekali pergi dari sini.


Edward sudah berganti pakaian kaos putih dengan celana panjang hitamnya yang ia kenakan itu.


Ia juga terlihat berberes-beres tas.


Apa jadwal kerjanya sudah selesai, dia juga terlihat terburu-buru sekali


"Apa anda mau pulang?.."memberanikan diri untuk bertanya, lelaki ini benar-benar tidak mau berbicara terlebih dahulu jika bukan karena terdesak.


"Iyah, waktu praktekku sudah selesai,aku harus segera kembali ke rumah"


"Apa aku juga sudah boleh pulang..?"


"Jika kau sudah merasa enakkan kau boleh pulang, tapi jika kau masih merasa sakit kau boleh menginap disini dulu.."


"Aku tidak mau, aku mau pulang saja.."


"Kau yakin?"


Menganggukan kepalanya.


"Iyah sudah baiklah..."


"Ee'...tapi aku boleh minta tolong?,aku tidak bawa ponsel,aku juga tidak bawa uang karena habis untuk beli martabak,aku juga tidak tahu jalan pulang,aku mau..."


"Iya iya sudah aku tahu,tak perlu menjelaskan ku lagi,aku akan mengantarmu pulang"Menggandengnya begitu saja untuk keluar dari ruangan ini dan menuju ke parkiran mobil.


Malam pun semakin tiba,


"Kenapa selama seharian suamimu tidak mencari mu sama sekali,apa dia terlalu sibuk?"mencoba memecahkan keheningan di dalam mobil.


"Suamiku sibuk di kantor, akhir-akhir ini ia memang sangatlah sibuk..."


Cih kau masih saja membelanya,kau benar-benar wanita yang baik, mungkin wanita selain mu sudah mencaci maki suaminya itu.


"Kau yakin akan pulang ke rumah?,e'.. maksudku,kau benar-benar sudah sembuh?"


"Iya aku harus pulang, nanti biaya rumah sakitnya biar aku transfer saja,aku minta rekening mu"


"Memang ada yang menyuruhmu membayar?"


"Tapikan.."


"Sudahlah, jangan dipikirkan..! sekarang cukup pikirkan kandungan mu,kau harus menjaga kesehatan dan dirimu baik-baik"


Aneh,dia terlihat kesal tapi ia tetap berbicara baik kepadaku.


"Apa kau marah kepadaku?"Melihat raut wajahnya yang kusut itu membuat Luna tidak nyaman, inilah yang membuatnya berani bertanya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?,apa kau melakukan kesalahan kepada ku?"


"Entahlah aku tidak tahu,tapi kau.."


"Aku hanya sedang memikirkan masalah pribadi, tenganlah..,tak usah berpikir macam-macam"


"Oh.. baiklah"

__ADS_1


*****


Sepulang dari kantor keduanya langsung masuk ke dalam rumah,satu pelayan membukakkan pintu depan hormat dan diam.


Melihat seorang pelayan yang membukakan pintu untuknya membuat Alfian bertanya-tanya.


"Dimana Luna?"


"Tidak tahu Tuan,dari pagi ia belum kembali"


"Apa?,dari tadi pagi dia belum kembali?,dia pergi?"


"Tuh kan sayang,Luna sekarang bersikap seenaknya tahu gak,ia main pergi-pergi aja tanpa memberi kabar kan.."Memanas-manasi hati suaminya yang sedang kecapean ini,ia ingin membuat agar Alfian lebih membenci Luna lebih dalam lagi.


Tapi aku harap dia hilang dan tak usah kembali sekalian, biar tidak ada lagi yang menggangguku dengan suamiku ini


Swara benar-benar merasa kalau ia itu adalah segala hak yang dimilikinya,ia lupa akan dirinya yang telah merebut suami orang.


Senyuman sinis dan senangnya terpancar di raut wajah Swara yang masih menggandeng tangan suaminya itu.


"Iya Tuan Muda, dari tadi pagi Nona Luna belum pulang,ia berpamitan kepadaku untuk membeli makanan,ia juga tidak membawa barang apapun, ponsel pun ia tinggal,tapi ia belum balik juga sampai sekarang.."


"Membeli makanan..., bukankah sudah ada makanan di meja?, kenapa harus beli si?.."Mengoceh sendiri, ia terlihat begitu marah dengan istri pertamanya, sambil berjalan menelusuri ruang rumahnya menuju ke kamar.


Sebenarnya hatinya merasa sangat gelisah dan sedikit khawatir karena sudah hampir menjelang malam istri pertamanya belum juga pulang.


Sebenarnya dimana dia, kenapa belum pulang,apa dia mencoba kabur dariku, tidak,dia tidak boleh kabur.


Dia sengaja pergi dariku,dia sengaja menghilang,


Namun pertarungan sengit antara balas dendam dan ras suka itu berpadu menjadi satu, jadi ia tidak bisa bersikap dengan benar.


Ia merasa begitu kesal sambil mengepalkan tangannya, bahkan Jaz yang ia kenakan ia lempar begitu saja ke atas ranjang.


"Kau mau mandi dulu sayang?,biar aku siapkan air hangatnya..."


"Kau saja yang mandi, aku belum ingin mandi.."Beranjak berdiri dan meninggalkan ruangan kamarnya ini.


"Apa-apaan ini,dia merasa kesal karena kepergiannya,Luna benar-benar penghalang bagiku,aku tidak betah lama-lama dia disini,aku harap dia benar-benar menghilang dan tak usah kembali"


Swara merasa kesal juga dengan suaminya itu, kemudian ia yang lebih dulu ke kamar mandi untuk mandi.


Mengecek seluruh barang-barang istrinya di lemari dan laci-laci.


Baik pakaian,jam tangan, ponsel nya pun masih terdiam di tempat.


"Dia kemana sebenarnya?,dia tidak membawa barang apapun,tapi kenapa dia belum pulang.."


Pikirannya kemana-mana,Terlihat jelas dari raut wajahnya yang kesal bercampur cemas.


Satu jam berlalu, Alfian sudah membersihkan dirinya, melihat jam kembali dan jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam.


ia benar-benar belum pulang,ia tidak ingin kembali.., awas saja Luna ,aku tidak akan melepaskan mu jika kau benar-benar mencoba kabur dari ku.


"Sayang kita itu belum makan malam kan,ayo kita makan malam"


"Aku tidak lapar Swara,kau makanlah sendiri.."


Tuh kan dia bersikap begitu lagi,ini pasti gara-gara Luna pergi,


baiklah...,aku harap dia takkan kembali.

__ADS_1


Sebenarnya dimana Luna?, kenapa ia belum juga sampai rumah, padahal jarak antara rumah dan rumah sakit tidak terlalu jauh mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit.


__ADS_2