
Hari ini Alfian pulang lebih awal ke rumah,
Ia merasa terus gelisah karena kepikiran dengan istrinya Luna saat di kantor,ia berharap Luna segera kembali dan bertemu dengannya.
"Pak, pelan-pelan saja setirnya,saya sedang pusing..."
"Baik Tuan"
Sebenarnya bukanlah ini alasan ia menyuruh supirnya untuk menyetir pelan-pelan, tapi ia sedang melihat-lihat orang yang berjalan di sekitaran jalan untuk mencari keberadaan Luna istrinya.
Dimana Luna sekarang,
dia tinggal di mana, Apakah dia baik-baik saja,dia baik-baik saja kan?,
Begitulah yang terlintas di pikirannya,ia merasa begitu gelisah sekarang, sampai-sampai ia tidak makan apapun sejak pagi.
Merogoh sakunya, menatap layar ponselnya yang lebar itu menuju galeri.
Menatap foto Luna dalam,jika Luna benar-benar memiliki kembaran dan bukan ia yang menjadi pacar Nico dulu,ia akan merasa begitu bersalah sekarang.
Kenapa aku bodoh sekali, seharusnya aku menemui brengsek itu dan menanyakan langsung padanya.
"Pak putar balik saja,kira ke jalan xxx, ada pertemuan penting yang harus aku temui"
"Baik Tuan..."
Setelah beberapa menit, mobil pun memotong jalan dan memutar balik ke arah sesuai yang di tunjukkan Tuan Muda tadi.
Mau tidak mau aku harus bertemu dengannya, walaupun di hatiku tidak ingin bertemu dengannya,tapi aku harus menemuinya,biar jelas dan tidak membuatku pusing kepala karena ini.
Mobil langsung memasuki jalanan komplek perumahan elit yang di tunjukkan dari alamat yang Tuan Muda berikan.
Setelah sekian lama ia baru melangkahkan kakinya di sini lagi.
Dulu dia sering kemari bersama adik tercintanya untuk berkunjung ke rumah Nico,tapi setelah kejadian buruk yang pahit itu membuatnya tidak ingin melangkahkan kaki ke jalan rumah ini lagi jika bukan karena terpaksa.
Mobil tepat berhenti di sebuah rumah megah nan mewah berwarna putih.
Terlihat juga dinding-dindingnya yang bersinar karena cat baru.
Tapi tak di hiraukan olehnya,bagi dia rumah ini adalah rumah pembawa sial.
"Keluar sebelum aku mendobrak rumahmu...!"Begitulah yang ia bicarakan setelah menelfon seseorang,ia langsung menutup bagitu saja tanpa mendengarkan penerima telefon itu.
Nico dengan gemetar penuh rasa bersalah dan takut menyelimutinya sekarang, namun sebagai seorang lelaki yang gentleman ia harus berani menemui Alfani musuh besarnya sekarang.
Alfian hanya terdiam saja di dalam mobil, bahkan ia tidak ada niatan untuk turun dan menginjakan kaki di rumah itu lagi.
Nico sudah berdiri di samping mobil menunggu lelaki yang akan berbicara dengannya ini.
Lalu supir langsung membuka kaca mobil untuk mempersilahkan keduanya untuk berbicara.
__ADS_1
"Siapa wanita selingkuhan mu dulu?,siapa namanya,aku hanya ingin mengetahui orangnya!"Berbicara ketus tanpa menatap orang yang sedang ia tanyai.
"Untuk apa kak?,dia sudah tidak ada di dunia ini lagi, lagian kakak percuma jika kakak ingin memarahinya atupun menghukumnya sekalipun...."
Mendengar perkataan ini semakin membuatnya gemetar,ia semakin yakin bukan Luna lah kekasihnya.
"Aku bilang siapa namanya?"Semakin membentak Nico.
"Dia Lani,Lani Ayunda Putri,dan setahuku ia juga memiliki kembaran,tapi aku tidak tahu pasti dimana kembarannya itu berada,aku juga tidak terlalu tahu tentang dirinya"
"Ayo jalan,kita jalan sekarang!"Sudah tidak ada lagi perkataan yang terucap di dalam mulutnya,ia terlihat berkaca-kaca sambil mengepalkan tangannya karena kesal dengan dirinya sendiri.
Apa yang aku lakukan?,apa yang telah aku lakukan..,
kenapa aku jadi salah sangka begini,Luna..,kau dimana sekarang,
Semakin gemetar hati ini merasa tidak percaya dengan kebenaran.
Alfian benar-benar terbungkam tak bisa berkata-kata dengan kenyataan ini.
Sementara Nico masih berdiri mematung meratapi dirinya yang merasa bersalah itu.
"Aku kira dia kemari akan memukulku lagi seperti dulu,tapi ada apa?, kenapa di diam saja?,dan untuk apa dia bertanya-tanya tentang Lani?"
Masih terdiam memandangi kepergian mobil mewah itu.
Kenapa dia terlihat kaya raya sekali sekarang,harga mobilnya saja lima kali lipat dari mobilku..
"Bagaimana kesehatanmu?,kau sudah sembuh kan?"Bertanya sambil memakai Jas putih miliknya dan tanda pengenal kedokterannya itu.
"Sudah,kau mau ke rumah sakit?"Duduk di sofa ruangan ini,Luna benar-benar terlihat Lesu dan bosan.
"Iya,ada banyak pasien yang harus aku tangani,kau mau ikut..?"
"Tidak,kau harus bekerja, jika aku ikut denganmu pasti aku akan merepotkan mu nanti,aku disini saja?, sebenarnya aku memang bingung apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Jangan melakukan apapun, Istirahatlah..!,kau perlu istirahat dengan cukup,kau boleh beraktifitas setelah kau benar-benar pulih"
Ya ampun aku tidak menyangka aku akan bertemu dengannya dan tinggal di rumahnya juga,
aku telah salah menilainya, ternyata dia begitu baik.
"Kenapa kau tersenyum?"Melihat Luna yang tersenyum sendiri membuatnya penasaran sambil mengerutkan dahinya.
"Tidak papa, Hati-hati di jalan, selamat sampai tujuan, dan semoga harimu menyenangkan hehe.."Terseyum malu sambil pergi meninggalkannya untuk kembali ke kamar.
Edward pun tersenyum mendengarnya berbicara sambil jalan begitu cepat menuju ke kamar.
Aneh, Lucu juga kalau bertingkah.
Edward langsung berangkat bersama sopir pribadinya ke rumah sakit itu.
__ADS_1
Beginilah kehidupan Edward yang selalu di sibukkan dengan pekerjaannya mengurus dan menyelamatkan pasien-pasiennya.
Sesampainya di rumah sakit mobil terparkir dengan rapi di parkiran.
Supir pribadinya langsung turun untuk membukakan pintu.
Terdapat beberapa orang yang sedang berunding di situ.
Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas terlihat begitu serius sambil menatap sebuah lembar kertas.
"Ada apa itu?, kenapa rame sekali,apa ada yang habis kecelakaan?.."merasa heran setelah turun ke dari mobil.
"Entahlah Tuan Muda,saya sendiri tidak tahu.."
"Tapi kenapa semua orang memegang selembar kertas, mereka terlihat ribut sekali, apa ada bazar kompetisi atau pemeran?"
"Tidak mungkin Tuan Muda,ini kan rumah sakit,Sebentar Tuan Muda...saya juga penasaran..."
Menghampiri mereka dan mencoba untuk bergabung.
"Permisi ada apakah ini?"
"Eh.. pak Doni,pagi pak.."Salah satu satpam yang begitu mengenalnya siapa,langsung saja menyapa dengan hangat.
"Iya...iya.. pagi"
"Ada berita baru pak, lihat saja.."memberikan selembar kertas juga ke Doni yang merasa penasaran itu.
Sementara Edward tidak peduli lagi dan berjalan ke arah pintu masuk rumah sakit.
"Tunggu Tuan Muda,ada hal penting"
Berteriak, seolah-olah ini sangat penting dan Doni terlihat sangat terkejut setelah melihat isi selembar kertas itu.
"Penting..?"
Memang hal penting apa yang akan ia bicarakan.
"Lihatlah Tuan Muda, bukankah ini perempuan yang ada di rumah,ini Nona Luna kan?, apakah Nona Luna yang sedang di cari-cari..?"Terpampang jelas foto cantik Luna yang beredar kemana-mana di dalam selembar kertas itu,dan tertera..
"Dicari istri yang hilang!, barang siapa yang bisa menemukanya dan membawanya pulang ke rumah akan di kenakan hadiah 1 M, hubungi Alfian.....,No hp;......dan sebagiannya informasi yang ia tulis di dalam kertas ini"
"Beraninya dia bikin sayembara seperti ini setelah ia berulah dan membuat istrinya pergi, dengan gampangnya kau menggunakan uangmu untuk mencarinya hah?,lalu bagaimana jika orang jahat yang nantinya mencari Luna dan memaksanya untuk bertemu denganmu, tidak akan aku biarkan kau semudah itu untuk menemukan Luna, tidak akan..."Tanpa sadar selembar kertas itu sudah terlipat-lipat membulat dengan sendirinya di tangannya.
Ia *******-***** kertas ini karena merasa begitu kesal.
Dan anehnya lagi ia merasa tidak terima dengan sayembara ini, seolah-olah dia tidak rela jika Luna akan bertemu Lelaki brengsek itu lagi.
Bagiamana jika berita ini tersebar luas dan sampai terdengar ke telinga Mamah,
ia pasti akan segera mengerti tentang ini, bisa gawat aku,dia pasti akan sangat marahiku nanti...,
__ADS_1