Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Rumah Sakit


__ADS_3

"Brakk.. Cetarr..."Entah apa yang dia lakukan Alfian hingga ia bisa menumpahkan gelas kopinya yang hangat itu.


Tanganya tiba-tiba gemetar sendiri,padahal kopi yang ada di gelas itu sudah tidak panas, bahkan hanya lumayan hangat saja.


"Sorry.."Merasa kaget sendiri."aku tidak sengaja,aku juga tidak tahu apa yang telah aku lakukan, bagaimana gelasnya bisa jatuh begini.."


"Ada apa Alfian?,apa kopinya terlalu panas?"


"Tidak juga,ini hanya hangat, tapi entah kenapa tanganku terasa lemas dan gemetar"


Alfian terdiam sambil menatap gelas itu yang pecah, perasaannya yang sedang tidak karuan membuatnya semakin merasa tidak enak dan gelisah.


"Sudahlah,kau harus terima kenyataan ini, lagian hidupmu sudah enak, kau menjadi seorang pemimpin di sebuah perusahaan besar kan?,lagi pula ini adalah impian mu,tapi aku juga benar-benar tidak menyangka juga tentang ini, Swara benar-benar.."


Menggelengkan kepalanya sendiri temanya Alfian,ia bingung harus menanggapi bagaimana lagi untuk sahabat dekatnya itu.


"Bukan itu yang sedang aku pikirkan,aku menelantarkan Luna dan anakku sendiri sekarang,aku tidak tahu dia dimana,dan sekarang aku malah menjaga seseorang yang sedang mengandung anak orang,"


Alfian pergi untuk menenangkan dirinya dan datang ketempat sahabat dekatnya itu, mungkin ini bisa membuatnya lebih tenang dari kehidupannya yang tiba-tiba berantakan seperti ini.


"Aku tidak bisa melakukan apapun,dan ini memang keputusanmu dari awal kan,kau harus belajar menerima ini semua saat ini,dan untuk Luna semoga ia baik-baik saja.., tenanglah Edward!"Hanya bisa menenpuk punggung sahabatnya untuk memberinya penenangan.


*****


Suasana di ruangan ini terasa begitu sepi dan sunyi.


Hanya detik jarum jam dan alat pendeteksi jantung yang sedang beroperasi terdengar di telinga Edward.


Dokter dan salah satu susternya juga sedang sibuk mengurus pasien ini.


Rasa gelisah dan khawatir masih terus menyelimutinya. Mata ini juga berkaca-kaca karena begitu takut dengan wanita yang sedang terbaring di atas ranjang itu.


Tangannya pun juga terasa gemetaran sendiri, memegang ponsel pun terasa begitu lemas dan tak berdaya.


Ia sendiri tidak sanggup untuk menangani Luna yang sedang terbaring itu. Selain hatinya yang di penuhi dengan ketakutan ia pun enggan untuk menatap Luna yang sedang terluka itu.


Apa lagi dengan kondisinya yang seperti ini, seolah-olah talentanya sebagai seorang dokter menghilang begitu saja.


"Bagaimana keadaan Adi?"


Edward bertanya kepada Adi.

__ADS_1


Adi adalah seorang dokter juga di sini.Ia teman dekat Edward, bahkan bisa di bilang mereka berdua bersahabat,karena sejak kecil pun mereka begitu dekat satu sama lain.


Ia menggantikan Tuan muda Edward yang tidak sanggup untuk menangani Luna sendiri, jadi ia yang menggantikannya untuk menangani Luna.


"Keadaannya buruk Edward,detak jantungnya begitu lemah. Luka yang ada di kepalanya juga lumayan parah. Aku takut ini akan membuatnya amnesia setelah ia sadar nantinya"


"Amnesia..?"Terlihat pias wajah Edward sekarang.


"Tangan kirinya juga retak, kemungkinan tanganya juga tidak bisa bergerak untuk beberapa waktu.Sepertinya ada benturan keras yang ia rasakan saat ia tertabrak,ini juga membutuhkan waktu lama untuk kesembuhannya supaya pulih total"


Berkaca-kaca matanya, terlebih memikirkan satu hal yang lebih besar lagi di pikirannya.


"Lalu bagaimana dengan bayinya?, tidak terjadi apa-apa padanya kan?"


Adi terdiam mendengar perkataan Edward,ia tampak berpikir sejenak.


Terlebih melihat Edward yang terlihat begitu lemas saat bertanya membuatnya ikut merasa resah, mungkin ia tidak tega untuk memberitahukan kabar ini kepadanya.


"Kenapa kau terdiam?,apa yang sedang kau pikirkan?, katakan kepadaku kalau tidak terjadi apa-apa pada kandungannya ya kan?"


"Maaf, untuk itu tidak mungkin Edward,jika ibunya saja terluka parah, apalagi bayinya. Maafkan aku...,aku tidak bisa menyelamatkannya,aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya,tapi tetap tidak bisa, hasilnya nihil,ia benar-benar telah kehilangan bayinya"


Adi langsung menganggukan kepalanya dengan raut wajah yang tak bersemangat, ia juga ikut terbawa perasaan melihat Edward yang terpuruk saat ini.


"Kita juga akan menanganinya kandungannya dengan segera"


"Apa yang telah aku lakukan?, kenapa jadi seperti ini?"Terpuruk, bahkan mengalir sendiri air matanya,ia tak mampu untuk menahan apa yang di rasakan-nya sekarang.


"Apa yang telah aku lakukan?" lebih menundukkan dirinya lagi Edward,ia terlihat begitu sedih sekarang, seolah-olah ia adalah Ayah dari anak itu.


"Sabar Edward,ini semua sudah jalannya,kita tidak bisa melakukan apapun tentang ini.."


"Tanganya retak,dia juga akan amnesia, lalu dia juga keguguran,ya ampun Luna..,ini semua salahku, seharusnya aku menjagamu dengan baik, bagaimana bisa jadi seperti ini si.."


Edward terlihat sedih sekali,apa dia mencintainya, bahkan dia menangis di hadapan ku,


"Kemungkinan besar seperti itu Edward,jika kau tidak percaya periksalah sendiri!,tapi aku sendiri juga tidak tahu pasti akan ini, semua kehendak yang maha kuasa, semoga saja setelah ia sadar nanti is akan baik-baik saja, semoga saja ia tidak amnesia.."


Semakin merasa lemas Edward mendengarkan perkataan Adi. Ia sendiri tidak sanggup untuk mendengar kenyataan ini. Terlebih melihat keadaan Luna yang di penuhi dengan perban dan alat medis,ini membuat perasaannya semakin tidak karuan.


Seumur hidupku aku tidak pernah melihat Edward seperti ini,ia terlihat begitu sedih dan terpuruk.

__ADS_1


"Clekk.."Pintu ruangan ini terbuka begitu saja.


Terlihat juga Edwin yang terlihat begitu cemas menghampiri kakaknya.


"Kakak,ada apa kak?,apa yang terjadi dengan Luna?, kenapa dia terluka seperti itu?..."Melihat Luna yang memakai perban baik di kepala dan tangannya benar-benar membuat Edwin panik sendiri.


"Luna Edwin...,dia...dia tertabrak mobil, aku tidak bisa menolongnya agar dia tidak tertabrak,apa yang harus kakak lakukan sekarang?, dia..dia juga sudah kehilangan bayinya,ini semua salah kakak"


"Tenanglah kak,ini semua adalah takdir dan kehendak-Nya, bukan salah kakak, yang penting Luna baik-baik saja kan kak?"


"Kakak tidak tahu Edwin bagaimana kedepannya, kondisi Luna termasuk parah saat ini"


"Ya ampun,semoga saja dia akan baik-baik saja nantinya"


******


Tengah malam telah lewat, waktu sudah menunjukkan hampir sepertiga malam.


Sementara Ibunya Edward masih bolak balik kesana kemari tak bisa tidur.


Edward pergi kemana,dia pergi bersama wanita itu,dia tidak membawa apapun kan, bahkan kunci apartemen pun masih tergeletak di atas meja,dia kemana?, kenapa belum juga pulang.


Sejak tadi ibunya Edward bolak balik ke kamar putranya untuk mengecek keberadaannya


apakah ia sudah pulang atau belum.


Tapi untuk kali ini dan untuk keseksian kalinya ia mengecek kembali ke kamar Edward.


"Dia belum juga pulang?, kemana dia sebenarnya?, sebaiknya aku tanya Edwin"


Setelah ke kamar Edward, ibunya berjalan ke kamar Edwin, melihat keadaan kamarnya yang juga kosong membuatnya semakin terbelalak.


"Edwin?..."Sunyi tak ada sahutan,ia sudah berjalan menuju ke arah kamar mandi, namun keadaan pintu kamar mandi juga terbuka dan sepi tidak ada orang.


"Edwin.., Edwin.."Mengeraskan volume suaranya di dalam ruangan ini.


Ia juga sudah mencarinya di setiap sudut rumahnya, namun ia tidak menemukan ke-dua putranya juga.


"Apa Edwin ikut kabur juga?, bagaimana bisa kedua putraku kabur dari rumah hanya demi wanita itu, mereka pergi kemana?..."


Terdiam dan merenung sesaat,hal ini membuatnya begitu cemas dan gelisah sendiri sambil memegang ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2