
Ya ampun sayang, kenapa kau jadi hilang ingatan begini, Untung saja kau masih selamat atas kecelakaan itu, walaupun ibu juga sangat sedih dengan keadaanmu yang seperti ini, terlebih kau harus kehilangan bayimu yang telah kau dambakan selama ini.
Setelah kau sadar kau pasti akan merasa sangat sedih dan tertekan..
"Iya sayang ini ibumu..".Berderaian air mata ibunya, ia sendiri merasa begitu sedih dengan keadaan putrinya yang hancur seperti ini.
Menatap putrinya kembali dengan lekat yang sedang mencoba mengingat-ingat nya itu.
Sementara sang Ayah juga sudah berdiri tepat di samping istrinya yang sedang berbicara lembut dengan putrinya itu.
"Ibu..."Panggilan Luna kembali dengan sangat lembut,ia tidak bisa mengingat apapun.
Tapi ia bisa merasakan dari getaran hatinya yang begitu nyaman saat merasa pelukannya dan tatapanya yang begitu tulus seorang ibu.
"Kenapa aku masih tidak ingat..."Menintikkan air mata sendiri menatap ibunya, kepalanya juga terasa pusing ketika terlalu banyak berpikir.
"Tidak papa sayang, suatu saat ibu yakin kau akan pulih kembali seperti dulu, sebaiknya untuk sekarang kau jangan terlalu banyak berpikir.."
Ibunya juga hanya bisa merasa sedih melihat kondisinya saat ini.
Namun apa dayanya,melihat putrinya yang baik-baik saja bersama orang lain itu saja sudah membuatnya benar-benar merasa bersyukur.
Ini semua gara-gara lelaki tak bertanggung jawab itu, kenapa aku harus merestui mereka dulu, sedangkan ia membuat putriku begini.
Ia juga kemana sekarang, kenapa ia tidak berada di samping putriku.
Ini hanyalah hal kecil yang di ketahui oleh ibunya Luna saat ini, dan hal ini saja sudah membuatnya merasa begitu benci.
Sementara hal besar tentang Alfian yang menikah lagi belum di ketahui di telinga kedua orang tuanya itu.
Mungkin jika keduanya tahu suatu saat nanti akan terjadi badai besar di kemudian harinya.
"Luna... putriku.."Kini giliran pelukan sang Ayah yang melekat erat di tubuhnya.
Hal sama yang ia rasakan saat ini,selain pelukan hangat dan kenyamanan yang ia rasakan saat ini,ia juga belum mengingat juga siapkah mereka.
"Dia adalah Ayahmu Luna,apa kau juga tidak mengingatnya?"
"Ayah..."
"Iya sayang,aku ini adalah ayahmu,kau baik-baik saja kan?"Berkaca-kaca juga menatap putrinya yang kembali berpikir itu.
"Aarh..aku tidak mengingat apapun, maafkan aku"Memegangi kepalanya yang terasa pusing sendiri jadinya.
"Edward, jangan paksa dia untuk mengingatkannya, mama yakin dia akan segera pulih dari ingatannya itu"
__ADS_1
"Iya Ma, sebaiknya Ibu dan Ayah Luna duduklah lagi agar lebih nyaman"
"Baiklah Nak, terimakasih banyak atas segalanya, karena kau telah melindungi putriku selama ini,kami tidak bisa membalas apapun sekarang.."
"Pak..Bu.., sudah semestinya kita saling membantu dan menolong kan, jangan berterimakasih seperti ini, justru ini membuatku merasa tidak nyaman"
Ya ampun mulianya hatinya,ia sangat kaya raya namun hatinya begitu merendah dan tidak tinggi hati seperti orang-orang di luaran sana,
Syukurlah jika Luna telah bertemu dengan lelaki sebaik dirinya selama ini,
Sementara Papa Edward sudah kembali ke sofa ruangan itu juga, sepertinya ia juga baru saja keluar dari kamar mandi utaman yang ada di lantai bawah ini.
"Syukurlah jika kalian sudah pulang, kalian baik-baik saja kan?"
"Papa,Alhamdulillah kita baik-baik saja"
"Apa jalanan begitu macet?, kau terlihat pulang telat hari ini?"
"Sedikit ramai Pa karena akhir pekan"
Mereka semua kembali ke sofa dan berbincang-bincang dengan lembut dan penuh pengenalan atas diri mereka mereka masing-masing.
*****
Untuk beberapa waktu kedepannya kedua orang tua Luna tinggal sementara disini di kamar tamu.
Mungkin hal ini juga bisa membantu agar penyembuhan Luna semakin membaik dan cepat nantinya.
Malam ini ibunya Luna sengaja masuk ke dalam dapur untuk memasak makanan kesukaan putrinya.
Ia juga begitu kangen dengan putrinya yang sudah lama tidak bertemu.
Selama ini di setiap harinya ia selalu menghabiskan waktu untuk melamun dan berdo'a atas kehidupan putrinya yang mendengar kabar telah menghilangkan entah kemana.
Akhirnya hari ini kecemasannya terbayarkan begitu saja oleh keluarga Edward yang begitu baik itu.
"Maira kau sedang apa?"Tanya ibunya Edward yang sudah memasuki ruangan dapur juga sambil mengambil jus yang ada di kulkas.
Dan nama Maira adalah nama asli dari ibunya Luna.
"Aku sedang memasak makanan kesukaan putriku, siapa tahu ia akan ingat dengan rasa dan aroma yang pernah ia cicipi sebelumnya.
Ibunya Edward mendengarkan perkataan wanita ini dengan penuh kelembutan sambil tersenyum.
"Semangat,percayalah putrimu akan segera sembuh nantinya"Menenpuk bahu perempuan ini dengan akrab sambil memberikan satu gelas jus buah yang sudah ia tuang ke dalam dua gelas.
__ADS_1
"Terimakasih atas semuanya Liana,kau telah merawat putriku dengan baik selama ini.."
"Aku yang merasa bersalah saat ini, mungkin jika aku tidak bersikap seperti itu waktu itu maka anakmu akan baik-baik saja"
"Wajar saja Liana, seorang ibu pasti hanya ingin yang terbaik untuk putra dan putrinya"
"Terimakasih kau telah mengerti-nya Maira, semangat putrimu pasti lekas sembuh nantinya"
"Aammiin semoga saja.."
*****
Waktu sudah hampir menjelang malam.
Mereka semua sudah berada di dalam satu meja makan keluarga di dalam ruangan ini.
Terlihat beberapa makanan yang tersaji dengan sangat indah di meja makan untuk putri tercintanya.
Maira memang sengaja memasak sebanyak ini untuk makan bersama juga.
"Waw... sepertinya cacing perutmu sudah menari-nari merasakan semua aroma masakan ini sekarang"
Ayah Edward yang sedang bergurau untuk menghilangkan rasa jenuh di dalam meja makan ini yang tampak begitu canggung.
Hal ini membuat mereka semua tertawa kecil bersamaan.
"Luna sayang, lihatlah semua masakan ibumu,ini adalah kado sepesial-nya untuk menyambut kepulangan mu kemari.."
"Wah benarkah, ini semua khusus untukku?"Tersenyum bahagia Luna, walupun ia tetap saja belum mengingat tentang semuanya.
"Iya sayang makanlah lebih dulu,kau harus mencicipinya"Ibunya Edward sudah mengambil piring dan nasi untuk Luna agar ia segera makan terlebih dahulu.
"Ini sayang makanlah!"
"Tapi..."
"Kau pasti akan merasa sangat senang menikmati masakan ibumu,ayo cicipi sayang.."
"Baiklah..."
Luna langsung berdo'a dengan baik dan tenang di dalam hatinya.
Kemudian ia mencicipi sesuap nasi dan lauk yang ada di piringnya itu.
Mengunyah dengan lembut dan perlahan merasakan kenikmatan rasa masakan ibunya.
__ADS_1
Tiba-tiba bayangan samar melintas di kepalanya, tapi entah bayangan apa itu, yang jelas rasa masakan ini terasa begitu enak dan membuatnya terdiam begitu lama mengingat-ingat tentang rasa masakan ini.
Ia juga pernah merasa memakan masakan yang begitu enak seperti ini sebelumnya.