Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Akan Bekerja


__ADS_3

Hari demi hari ia lalui dengan berat setelah ia menyatakan gugatan perceraian kepada suaminya itu.


Teringat dan terbayang akan kenangan cinta itu hal biasa yang di rasakan masing-masing insan.


Walaupun hati terasa begitu sakit, Luna harus pandai menerima dan berlapang dada untuk menyingkirkan jauh-jauh suaminya dari pikirannya.


Rasa bersalah karena keguguran juga masih menyelimutinya,ia merasa begitu kehilangan dan kesepian saat ini.


Namun sebagian hatinya juga percaya ada yang mengatur hidupnya dan ada pula hikmah yang terkandung dalam semua permasalah ini.


Sidang demi persidangan ia lewati dengan rasa yakin dan percaya diri untuk memenangkan semua ini.


Ia benar-benar sudah mantap dengan pilihannya itu, bahkan untuk melirik suaminya yang sedang berada di sebelahnya pun tidak.


Mereka sedang bersidang dan menatap ke arah hakim.


Intinya Luna ingin secepatnya menyingkir dari kehidupan Alfian dan tidak ingin mengenalnya lagi nantinya.


*****


Susana kantor hari ini terasa begitu berbeda,lama kelamaan hari-harinya mulai di selimuti dengan rasa galau dan risau.


Bahkan pikiran Alfian telah hilang entah kemana,ia terhayut di dalam lamunan dan rasa rindu.


Rindu akan istri pertamanya yang telah ia sia-siakan selama ini.


Ia bahkan tidak menyadari bahwa ayah mertuanya telah memasuki ruangan ini untuk bertemu dan berbicara dengannya.


"Alfian,akan ada pertemuan klien besar kita siang ini, persiapan dirimu untuk menunjukan presentasi kantor yang bagus.."


Tidak ada sahutan dari Alfian, ia terdiam dan terus melamun sejak tadi.


Ada apa dengan anak itu,apa yang sedang ia pikirkan.


"Alfian!"Kau mendengar perkataanku?"Tanya Tuan besar lebih keras lagi untuk menyadarkannya.


"Maaf Pa,aku sedang tidak ingin bicara,dan aku juga sedang tidak enak badan, sebaiknya Papa temui mereka sendiri saja..."


"Apa kau bercanda?, kau tidak boleh menyepelekan pertemuan ini,ini menyangkut proyek kerjasama kita dalam pengembangan bisnis 50 M"


"Aku tidak bisa Pa.."Masih Menjawab dengan se-malas mungkin,ia juga tidak tahu akan apa yang ia katakan saat ini, mungkin antara sadar dan tidak sadar karena terus memikirkan Luna.

__ADS_1


"Kau bisa,Papa tidak mempunyai waktu untuk berbicara denganmu,mau tidak mau kau harus menghadiri pertemuan ini,aku akan tunggu dirimu di ruangan management kantor bersama yang lainnya"


Pergi meninggalkan Alfian begitu saja, sikap Tuan besar sendiri sangat keras dan berpegang teguh pada pendiriannya, kali ini ia memang masih memberikan kesempatan untuk Alfian, tapi ini semua juga kerena putri semata wayangnya.


Bedebah,


Kenapa mereka semua tidak ada yang mau mengerti tentang perasaanku saat ini,


kenapa mereka semua bersikap seenaknya dan semaunya, menyebalkan,


"Brakkk.."Melempar dokumen yang ada di depan matanya begitu saja ke lantai karena merasa begitu kesal dengan sikap Tuan besar yang sangat keras kepala.


Merasa kesal sekali Alfian hari ini, semua masalah kantor dan pribadinya harus ia tanggung sendiri saat ini.


Hari-harinya selalu disuguhi dengan perasaan kacau dan galaunya.


Hal ini membuatnya tidak bisa konsentrasi saat berkerja di kantor.


Terlebih saat Luna memberikan surat pengadilan kepadanya waktu itu,hal ini sungguh membuatnya tidak bisa tidur nyenyak untuk beberapa malam.


Bahkan sampai sekarang ia pun selalu kepikiran dan tidak tenang di setiap harinya.


*****


Ia sudah berpakaian amat sangat rapi dengan baju kemeja andalannya.


Tangan kanannya juga tampak memegang amplop besar berwarna coklat.


Sepertinya ia akan melamar pekerjaan ke suatu tempat atau akan mencoba mengikuti alur hidupnya yang terasa baru.


Keadaannya yang menyendiri tidak membuatnya putus asa untuk hidup maju.


Ia menempuh beberapa jarak kilometer untuk menuju ke sebuah gedung kantor dimana ia bekerja dulu.


Ia harus mencari uang dan bersikap mandiri lagi untuk melanjutkan hidupnya yang lebih baik lagi tanpa seorang suami.


"Aku harus mencari uang untuk segera menceraikan Alfian, apapun itu aku tidak boleh kalah darinya,aku harus memiliki uang banyak.."


Ia sudah berdiri menatap gedung kantor ini di halaman pintu masuk kantor.


Aku harus bisa bekerja dan move on dari masa lalu, aku akan buktikan pada Alfian bahwa hidupku akan lebih baik lagi dari yang sebelumnya.

__ADS_1


Melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu masuk kantor,ia berjalan menuju ke anak tangga yang ada di pintu masuk kantor ini, namun sayang, ia sudah berpapasan dengan seorang wanita yang tak asing lagi baginya tepat di depan anak tangga ini.


"Kau, kita bertemu..?"Wanita itu sudah terseyum sinis melihat penampilan Luna yang tampak memakai kemeja seperti pekerja kantor.


Terlebih melihat Luna yang membawa amplop coklat besar membuatnya semakin tertarik untuk menyambutnya di pagi ini.


Entah ada urusan apa ia disini, yang jelas ia keluar dari dalam kantor ini dengan pakaiannya yang modis.


Bagaimana bisa pelakor ini ada di kantor ini..,dan kenapa juga aku harus bertemu dengannya,


Tidak memperdulikannya,Luna melangkahkan kakinya begitu saja untuk masuk ke dalam menemui manager kantornya dulu.


"Kau mau kemana?"Wanita itu tampak mencegat kepergian Luna saat ini.


"Lepaskan Swara!,apa yang kau lakukan?"


"Kau akan bekerja di kantor ini?,ini adalah kantor temanku,aku bisa membantu mu untuk masuk ke dalam kantor ini..."Tawaran baik Swara dengan senyuman sengitnya menatap diri Luna.


Lirik-kan matanya terlihat sekali ia sedang menghina keadaannya sekarang,Namun Swara sendiri tidak merasa siapa lah yang paling hina di antara keduanya saat ini.


Kenapa lagi si aku harus bertemu dengannya,


"Bukan urusanmu Swara!,dan itu juga tidak perlu, terimakasih..."Mengibaskan tangan perempuan itu dengan kesal.


"Cih.. sombong sekali kau ini,aku hanya ingin membantumu Luna"


"Tidak perlu,aku juga tidak membutuhkan bantuan darimu ataupun orang lain.."


"Baiklah tidak papa,tapi sebenarnya aku juga tidak ingin membantumu,ini hanyalah ucapan terimakasih ku karena kau telah menceraikan Alfian untukku,tapi kau tidak mau menerima bantuan ku,ya sudah baiklah tidak papa, selamat menikmati hidupmu yang baru semoga kau bahagia Luna...."


Tersenyum kembali sambil memamerkan perutnya yang sedang bunting itu, seolah-olah ia benar-benar mengandung anak dari mantan suaminya Luna, yaitu Alfian.


Mungkin pohon-pohon yang ada di sekitaran ini sedang menjadi saksi tingkah Swara kepada Luna saat ini.


Mengelus perutnya yang sudah semakin membesar di depan mata Luna membuat dunia ghaib mungkin tertawa melihatnya.


Hanya saja mereka tidak dapat berbicara, seperti dedaunan yang hijau dan bunga-bunga di kantor ini pastinya sudah menertawakan Swara yang tidak punya rasa malu itu.


Dia sedang hamil..., seharusnya aku juga sudah..,


Sudahlah Luna,apa yang kau katakan,ini semua sudah terjadi, percayalah ini semua yang terbaik Luna.

__ADS_1


Luna benar-benar mengira kalau Swara sekarang sedang mengandung anaknya Alfian.


Hal ini juga benar-benar menggores lukanya kembali yang sudah mengering di dalam dada.


__ADS_2