Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Di kira suami


__ADS_3

Kedua lelaki itu masih terdiam berpandangan.


Sementara Adi juga merasa bingung untuk menjawab pertanyaan wanita yang baru sadar ini.


"Tunggu sebentar Nona, aku akan berbicara dengannya sebentar"


Luna hanya terdiam melihat tingkah keduanya yang begitu aneh,ia juga merasa kecewa dengan pertanyaan yang tidak mereka jawab sejak tadi.


"Bagaimana ini?,apa kau pura-pura menjadi suaminya saja?"


"Eh, gila yah, jangan pernah mengajariku hal bodoh seperti ini"


"Tapi kau menyukainya kan?"


"Tapi bukan seperti ini caranya,ini akan menjadi lebih panjang dan rumit bodoh.."


"aku bukan orang bodoh,jika aku bodoh aku tidak akan menjadi dokter"


"Terserah kau saja mau bilang apa, yang jelas jangan melakukan hal bodoh seperti ini..."


Apa yang sedang mereka bicarakan, kenapa lama sekali..


Luna terdiam menatap kedua punggung lelaki itu yang berjarak lumayan jauh darinya yang sedang sibuk berbicara.


"Kasihanilah dia Edward,ia butuh kesembuhan dan kepulihan yang maksimal, sebaiknya kau mengisi hidupnya sehari-hari agar kesehariannya menuju ke pulih-an berjalan dengan baik"


"Tidak,aku tidak mau,semua yang dia awali dengan kebohongan itu tidak baik"


"Kau yakin akan berkata yang sejujurnya?, lihat dia,dia sedang mencari keberadaan suaminya, mungkin ia membutuhkan seseorang yang selalu ada di sampingnya,aku tidak tega melihatnya begitu Edward,jika kau jujur kalau kau bukan siapa-siapanya,apa kau yakin ia akan mau ikut denganmu ke rumah nantinya?"


"Aku tidak tahu..."


"Apa dia mencintaimu juga?"


"aku juga tidak tahu.."


"Iya sudah, sekarang sebaiknya kau bertugas untuk menjadi suaminya saja.."


"Hey.. hey.."Merasa gregetan dengan Adi jadinya yang nekat akan berbohong itu.


"Maaf Nona, sebaiknya aku periksa keadaan anda dulu yah, sehabis itu suami anda akan kembali menyuapi anda.."


Ahhh...apa lagi ini, kenapa aku yang selalu terpojok di dalam satu sisi yang sama.


"Dia suamiku..?"


"Iya.. tentu saja"


Sebenernya calon si kalau jadi,tapi ya sudahlah semoga saja yah kalian nantinya menjadi suami istri..


"Jika anda butuh apa-apa Nona maka mintalah pada suami anda juga yah, karena dia senior para dokter disini.."


"Senior dokter?"Terus merasa bingung Luna. Hanya kebingungan yang terus menyelimutinya saat ini.

__ADS_1


Edward sudah bergitu tajam menatap Adi yang sedang tersenyum penuh kemenangan itu.


Sebenernya ada apa denganku,


apa aku terjatuh?, kenapa tanganku saja tidak bisa bergerak sedikit saja,jika bergerak ini akan terasa sangat sakit dan mencengkram,


Melihat tampilan dirinya sendiri membuatnya kepikiran dan ingin ingat akan semuanya.


Ia terlihat memegangi kepalanya lagi karena terasa begitu sakit jika ia banyak berpikir.


"Jangan terlalu banyak berpikir Nona,saya permisi, Istirahatlah..!"Dokter itu langsung pergi meninggalkan ruangan ini


Melihat kondisi wanita ini membaik membuat Adi merasa tenang saat pergi meninggalkannya.


Mungkin ia juga akan mengurus pasien lain yang lebih banyak dari sebelumnya,


karena Senior dokter mereka sedang cuti dan tidak bertugas hari ini,alias Tuan muda Edward yang hari ini tidak bertugas untuk menangani pasien.


Ini tidak benar...


Mendekat ke arah Luna sambil menatapnya lekat,wanita ini pun sama-sama menatapnya lekat.


Kenapa dia menatapku seperti itu, dia benar-benar menganggap ku ini suaminya..


Perlahan Edward duduk sambil mengambil mangkuk makanan itu kembali.


"Aku bukanlah suamimu..."Berkata sangat lembut.


"Hah,kau bukan suamiku?"Terlihat kekecewaan di mata Luna menatap Edward yang berbicara jujur itu.


"Iyah,aku hanya teman dekatmu saja Luna..."


Luna menunduk dan terdiam menatap Edward kembali.


"Teman,lalu dimana suamiku?"merasa kecewa dan sedih sendiri jadinya.


Apa dia begitu mencintainya, mengapa dia bertanya-tanya terus tentang suaminya.


"Suamimu ada di rumah.."


Edward sangat bingung harus berkata apa, sebagian hatinya merasa sedih melihat kondisinya yang seperti ini.


"Kau ingin bertemu dengan suamimu?"


"Tidak, dia jahat yah?,jika tidak, ia pasti sudah menemaniku disini kan..."


Ya ampun Luna,


kenapa kau jadi seperti ini, bagaimana jika kau sadar dan mengingat semuanya,kau pasti akan merasa sedih nantinya...,


"Mungkin dia sangat sibuk,makanya dia tidak datang kemari.."


"Kenapa harus dia suamiku?, kenapa harus orang lain?, kenapa bukan dirimu saja?.."

__ADS_1


"Hem?"


Terbelalak Edward,ia merasa begitu kaget dengan berbagai perkataan aneh yang terucap di mulut Luna.


Namun hal ini terdengar sangat indah di telinganya, bahkan ini membuatnya bahagia dan terlihat tersenyum kecil sambil terdiam menatap Luna.


"Maafkan aku..,aku kira kau suamiku,aku kira aku dan kamu pernah bermain bersama di wahana permainan sambil melemparkan bola ke lorong,dan..ada banyak hadiah juga disitu,dan kau juga mengandeng tanganku lalu aku tidak ingat lagi.."


Hah, kenapa dia bisa ingat akan itu,apa dia akan segera sadar dari amnesianya.


Kenapa dia bisa ingat akan aku jalan-jalan dengannya ke wahana permainan waktu itu.


"Kau ingat itu semua?..."


Menggelengkan kepalanya lagi,Luna hanya mengingat bayangan samar yang melintas di dalam kepalanya sekilas saja


Sepertinya memori yang ada di pikirannya tidak sepenuhnya menghilang,


gejala yang di alaminya pada sistem saraf juga tidak terlalu berat, mungkin ia hanya akan hilang ingatan untuk beberapa waktu ke depan,dan aku yakin ia akan segera sembuh total.


"Sudah, berhentilah berpikir dan lanjutkan makan mu!,kau harus minum obat juga dengan teratur agar cepat sembuh yah!, dan berhentilah berpikiran yang macem-macem karena kau harus fokus dengan kesembuhan mu saat ini.."


"Iya.."


Luna melanjutkan makannya yang di berikan oleh Edward itu. Ia juga terlihat sangat lapar dan haus sambil mengunyah tiap suapan yang Edward berikan.


Edwin sudah datang dari arah pintu,ia menyempatkan waktu untuk mampir ke rumah sakit ini sekaligus melihat keadaan Luna dan kakaknya yang sedang berada di rumah sakit sini.


"Wah syukurlah Luna sudah sadar kak"


Berjalan mendekati keduanya yang sedang berada di dekat ranjang itu.


Tampak wajah Edwin yang ikut bahagia juga melihat Luna yang sudah kembali siuman dan mau makan dengan lahap.


Namun tatapan tajam masih di tunjukkan wanita itu kepada lelaki yang baru datang ini.


Ia terlihat begitu mengamatinya dan bahkan berhenti mengunyah makanan yang ada di mulutnya itu.


"Dia siapa?,apa dia suamiku..?"Masih penasaran dengan kehidupan dirinya yang hilang ingatan ini.


"Hah?"Edwin juga kaget mendengarnya.


"Bukan Luna,dia adikku..."


"Adikmu?"


Kak dia benar-benar amnesia,


kasian sekali..,


Kedua mata lelaki ini saling bertatapan merasa sedih sekaligus kasian kepada Luna.


Kemudian Edward menganggukkan kepalanya sendiri setelah melihat tatapan Edwin yang sedang bertanya itu.

__ADS_1


__ADS_2