
Edward sudah rapi dengan pakaian dokternya.
Sepertinya ada banyak pasien yang mengantri hari ini.
"Apa aku boleh ikut?,aku sangat bosan di rumah"
"Kau yakin mau ikut?,nanti muntah-muntah lagi di sana karena bau obat atau bau yang lainnya gimana?"
"Enggak aku pake masker, nanti kalau di ruangan mu baru di copot"
"Tapi sepertinya jadwal pasienku hari ini sangatlah padat sayang. Aku takut kau juga bosan menunggu terlalu lama di dalam ruangan ku nanti"
"Apa hari ini ada yang operasi juga?"
"Ada dua orang yang harus menjalani operasi hari ini, mungkin perlu waktu berjam-jam untuk menyelesaikannya"
"Iya sudah lah aku di rumah saja kalau gitu"
Edward terdiam lama,ia juga tidak ingin meninggalkan istrinya yang terus merasa kesepian di rumah.
"Bagaimana jika aku menyuruh Oma untuk kemari,kau bisa jalan-jalan denganya di atar sopir kan"
"Memang Oma tidak sibuk?"
"Untuk cucunya pastinya tidak"
"Iya sudah boleh, yang penting aku tidak bosan"
"Jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu capek dan banyak gerak kesana kemari, cukup keluar untuk menghibur dirimu saja dan jangan pergi jauh-jauh ya sayang"
"Iya baiklah"
"Setelah mengantarku supir akan langsung menjemput Oma untuk kemari,aku juga harus berangkat dulu, banyak pasien yang sudah menunggu di rumah sakit"
"Baiklah, hati-hati sayang. Semoga tidak ada halangan dan tuhan pasti akan selalu mempermudahkan segala urusanmu, sehat selalu dan jangan sakit. Muach..."
"Pastinya sayang, muach..,jaga dirimu baik-baik,aku berangkat sekarang"
----------------
Seperti biasanya, keseharian Edward adalah mengurus rumah sakit dan menyembuhkan para pasien yang berdatang ke rumah sakit.
Sementara jadwal Luna hari ini adalah pergi bersama Oma.
Setelah kedatangan Oma ke rumah ia mengajaknya untuk pergi makan siang keluar.
"Bagaimana keadaanmu Luna?,apa masih pusing-pusing?"
"Sedikit mendingan Oma, biasanya aku akan sangat merasa enek jika di pagi hari"
"Emm... begitulah orang hamil, merasakan sensasi yang berbeda dan tentunya berat untuk di jalani, yang penting kamu dan bayimu sehat-sehat saja ya kan"
"Aammiin Oma pastinya"
Mereka sudah berada di parkiran sebuah restoran yang cukup ramai bersama sopir.
Restoran ini sangat terkenal di kalangan masyarakat, hanya saja harga makanan dan minuman di restoran itu juga terkenal mahal.
Hanya kalangan orang berpunya saja yang bisa makan makanan di tempat ini.
Keduanya langsung memesan makanan kesukaan mereka.
Lalu makan dan menikmati makanan di situ juga.
__ADS_1
Seseorang tampan berpakaian jas lengkap juga tampak memasuki restoran itu dengan salah seorang karyawannya.
Dia terlihat sangat cool dan macho.
Pandangan Luna tentunya tak sengaja melihat kehadirannya saat ingin menyuap makanan ke mulut.
Dia!.
Dia juga makan disini?, menyebalkan sekali melihatnya!.
Lelaki itu terlihat menuju ke salah satu meja yang kosong.
Bahkan mungkin meja itu memang sudah di pesan ataupun sudah di booking olehnya.
"Pesankan makananku!, ingat jangan terlalu lama dan jangan sampai salah, tidak terlalu pedas juga, karena aku tidak suka!"
"Baik Tuan"
Wanita yang ada di sampingnya itu terlihat sekali menghormatinya.
Luna jadi mengingat akan posisinya yang dulu di samping lelaki itu.
Ternyata dia masih tetap sama, suka menyuruh dan bersikap angkuh seperti biasanya.
Lelaki sepertinya mana mungkin bisa berubah!.
Kesel sendiri Luna,ia tidak sadar sedang memaki orang di dalam hatinya.
"Ya ampun apa yang aku katakan ya tuhan, sebaiknya aku tidak melihatnya saja,ini lebih baik".
Luna mencoba mengalihkan pandangan. Namun tanpa sengaja karena kecerobohannya ia justru menjatuhkan sendok yang ada di atas meja.
Membuat seseorang yang sedang fokus ke arah ponsel beralih pandangan ke arahnya.
Semoga lelaki itu tidak melihatku.
Sudah berusaha untuk bersembunyi di bawah meja, namun lelaki itu tak berhenti menatapnya karena penasaran dengan wanita itu.
Sepertinya di lihat dari bentuk tubuhnya ia sangat mengenalinya.
"Luna kau kenapa?"
"Tidak papa Oma,aku hanya tidak sengaja menjatuhkannya"
Luna!.
Ohh dia makan di sini juga rupanya.
Demian sudah tersenyum dari kejauhan.
Sudah hampir 5 bulan ia tidak bertemu dengannya.
Pertama kali melihatnya lagi membuatnya terpana, sekaligus tidak menyangka juga bertemu dengannya di sini.
Dia semakin cantik saja.
Luna menikmati makanannya kembali setelah berganti sendok.
Ia juga merasa tidak nyaman setelah melihat tatapan Demian yang tak berhenti menatapnya dari meja itu.
Kenapa Demian terus melihatku seperti itu.
Tidak ada bosan-bosannya ya dia membuatku kesal.
__ADS_1
Luna terlihat cepat menghabiskan makanannya, sampai-sampai ia lupa dengan rasa enek yang sedang ia tahan.
Melihat Demian membuatnya tidak betah berlama-lama di restoran.
"Oma ayo kita pergi dari sini"
"Iya sudah ayo,Oma juga sudah selesai"
Sementara di meja Demian baru menerima makanan pesanannya.
Namun ternyata Luna sudah menyelesaikan makanannya begitu cepat dari perkiraannya.
Ia segera berjalan menuju ke kasir dan memberikan kartu debitnya kepada kasir untuk membayar.
"Maaf Nona, kartu yang anda pakai tidak bisa di pakai"
"Hah?,kok bisa?,apa jangan-jangan aku salah bawa kartu lagi. Tunggu bentar aku cari kartu lain"
"Yahh... tas Oma juga gak di bawa lagi,di sofa tamu rumah Lun"
"Enggak Oma ini salah Luna,masa Luna salah bawa kartu debit, aku taro di mana ya kartu ku?"
Luna ingat akan kartunya yang tertinggal di tempat kunci rumah saat Edward memberinya tadi pagi.
Bahkan dengan percaya dirinya ia langsung berangkat begitu saja tanpa mengecek isi tasnya.
"Biar aku yang bayar"
Tiba-tiba Demian sudah berdiri di samping mereka dengan gagahnya.
Demian, apaan si dia!.
Aku tidak mau sampai berurusan lagi dengannya.
"Pak Demian tidak usah,aku akan telvon Edward"
"Jangan mengganggu suamimu hanya karena hal sepele Luna!. Dia sedang menangani pasiennya, terlebih jika ada yang sedang di operasi gimana?,apa kau akan tetap mengganggunya?"
Ucapan Demian memang terbilang benar, namun Luna tidak mau jika berurusan lagi dengan lelaki itu.
"Biarkan dia fokus kerja..!"
"Tapi Demian aku tidak ingin..."
"Semua orang yang ada di sini aku yang bayar, kau tak perlu takut Luna"
"Iya ampun nak kamu siapa?, kenapa kau baik sekali"Oma malah tersentuh dengan sikap Demian yang baik itu.
"Aku Demian Oma, temanya Luna"
Apa dia bilang?, temanku?. Cihh..,padahal dia hanya mantan bos galak yang sangat menyebalkan bagiku.
"Wah ternyata kalian saling mengenal yah, terimakasih yah nak Demian, semoga kebaikanmu di balas oleh Tuhan.."
"Jangan berterimakasih Oma,ini hanya hal kecil"
"Baiklah,kita pergi dulu ya nak, semoga harimu menyenangkan.."
"Baik Oma,Luna hati-hati di jalan"
Sebelum Luna melangkah mengikuti langkah Oma Demian pun mendekat dan berbisik seketika.
"Sungguh,aku sangat merindukanmu di kantor"
__ADS_1
Apa dia bilang, merindukanku,dia pasti sudah tidak waras!.