
Alfian benar-benar pergi meninggalkan rumah ini.Hatinya benar-benar terasa sesak mendengar kabar ini dari Swara.
Ia bingung harus kemana,ia juga tidak perduli lagi dengan Swara dan rumah itu.
Ia ingin mencari Luna dan bertemu dengan istri pertamanya untuk memastikan keadaannya yang sekarang.
"Dimana Luna?,dia dimana?, tidak mungkin jika dia benar-benar telah tiada,ini semua tidak boleh terjadi,aku benar-benar tidak terima,dia tidak kecelakaan kan.."
Alfian langsung menuju ke kantor polisi untuk memperjelas pencariannya tentang istrinya itu.
Ia juga akan menanyakan informasi tentang kecelakaan mobil yang menimpanya.
*****
Tak terasa waktu sudah pagi.Luna belum sadar dari pingsannya. Semalam ia juga kritis kerena tubuhnya ngedrop drastis.
Sementara Edward sudah tertidur di pangkuan adiknya,ia terlihat begitu lemas dan lelah.
Kasian kakak,ia pasti sangat trauma melihat kecelakaan itu,
aku rasa kakak benar-benar jatuh cinta kepada wanita itu,
aku rasa ini semua salahku, seharusnya aku tidak memulainya dari awal, pasti kakak tidak akan menjadi seperti ini sekarang.
Niatmu baik Edwin,kau juga sudah begitu banyak membantu Luna selama ini.
Kejadian seperti ini adalah takdir, kita tidak mampu untuk menghindari kehendaknya.
Maka untuk sekarang sebaiknya kau bantu kakakmu untuk mempersatukan keduanya.
Terlebih bicarakan baik-baik pada ibumu dulu tentang mereka berdua.
Melihat pesan semalam yang belum terbaca membuat Edwin merasa penasaran.Ia juga tidak sempat menegang ponselnya karena terlalu sibuk mengurusi urusan di rumah sakit ini.
Kemudian ia membaca pesan panjang dari ibunya itu.
Lalu hanya ia balas dengan satu jawaban pesan saja.
"Aku ada di rumah sakit mah,kakak sedang terpuruk, karena tragedi kecelakaan tertabrak mobil semalam"
Hanya pesan singkat seperti itu yang ia balas untuk pesan-pesan ibunya yang terlihat begitu cemas dan khawatir.
Ini membuat yang membaca balasnya pesanya di pagi hari langsung jumpalitan karena merasa begitu khawatir dengan putranya.
"Papa, Edward..., Edward..,dia ada di rumah sakit Pa"
"Iya sudah biarkan saja sayang,ini semua sudah tugasnya kan"
__ADS_1
"Bu..bu..bukan itu Pa, Edward.. Edward kecelakaan,dia tertabrak mobil"
"Apa?"Beranjak berdiri dari tidurnya,ia begitu kaget dan syok.
Perkataan Edwin yang tidak terlalu jelas membuat keduanya salah paham dan terbirit-birit untuk segera pergi ke rumah sakit.
"Bagaimana bisa seperti in sayang,kau mengusir putramu sendiri dari rumah?,jika terjadi apa-apa pada Edward,papa benar-benar merasa kecewa sama mama"
"Ih..ko papa jadi nyalahin aku si,mama kan hanya berbicara yang sebenarnya semalam, lagian kalau rumah kita di datangi polisi gimana?
"Lah memang kita menculiknya,dia kan yang datang sendiri bersama Edward, lagian jika istri pergi dari rumah suami itu tandanya mereka berdua sedang mengalami masalah sayang"
"Ya kabur juga bukan solusi yang tepat kan Pa"
"Iya kita tidak tahu juga kan kaburnya dia karena apa,apa karena suaminya penjahat mungkin kan bisa"
"Dia bukan penjahat pa di seorang CEO"
"CEO kan jabatannya bukan hatinya"
"Aah... ya udah deh terserah, kenapa kita jadi berdebat begini sih"
Keduanya saling diam dan merasa kesal sendiri, ibunya Edward benar-benar merasa tidak tenang saat ini.
*****
"Semoga saja ada keajaiban untuk hari ini, untuk kondisinya sendiri lebih membaik dari pada semalam"
"Syukurlah, semoga saja dia akan segera sadar.."Edward sedang berdiri tepat di samping ranjangnya,ia sedang memandang wajah Luna yang tampak sangat pucat.
Sesekali ia membelai kepalanya merasa khawatir.
Maafkan aku Luna, seharusnya aku mencegat dan tidak melepaskan tanganmu begitu saja, pasti kau tidak akan kecelakaan begini.
"Kakak, makanlah dulu!,aku sudah belikan makanan untukmu..!"
"Aku tidak ingin makan, nanti saja,kau makanlah dulu!"
"Tapi kak, isi dulu perutmu!,kakak belum makan apapun sejak semalam"
"Aku tidak ingin makan Edwin,aku juga tidak berselera untuk makan"
"Kakak benar-benar seperti suaminya saja, sampai-sampai tidak berselera untuk makan, aku harus melakukan apa sekarang, dengan orang yang sedang jatuh cinta ini.."
Hanya terdiam Edward, biasanya ia selalu marah-marah jika adiknya mengatakan hal-hal seperti ini.
Kakak benar-benar sedih, dia tidak merespon perkataanku,dia terlihat begitu serius sekarang,
__ADS_1
"Clekk..brakkk"Pintu ruangan itu terbuka begitu lebar sampai mentok .Terlihat ibunya yang sudah datang tergesa-gesa karena khawatir.
"Edward..,kau baik-baik saja kan sayang"Memeluk putranya begitu erat.
Ini membuat Edward bingung dan berdiri mematung melihat tingkah ibunya yang begitu panik.
"Mana yang terluka?,kau tidak papa kan sayang?,kau baik-baik saja kan?,apa yang terjadi padamu, kau ketabrak mobil?"Menelusuri setiap lekuk tubuh putranya yang sedang menyengkrut-kan dahinya merasa bingung.
"Apa yang mamah lakukan?,aku tidak papa, tidak terjadi apapun pada diriku.."
"Tapi.., Edwin bilang..."Terdiam menatap wanita yang terbaring di atas ranjang itu.
"Ada apa dengannya?,dia kenapa?"
Edward tidak menjawab pertanyaan ibunya, dengan muka lusuh ia duduk termenung di sofa ruangan ini.
"Edward.."Merasa resah dengan raut wajah putranya.
"Dia tertabrak mobil, saat aku berusaha mengejar kepergiannya untuk kembali ke rumah ia tidak mau,ia berlari dan tertabrak mobil tiba-tiba,ia tidak mau membebani aku lagi,ia ingin sekali pergi,tapi malah jadi seperti ini"
Putraku terlihat sedih sekali,
"Tangan kirinya retak ma,dia juga kehilangan bayinya, benturan yang ada di kepalanya cukup keras,ini mungkin akan mengakibatkannya amnesia untuk beberapa waktu ke depan"Edwin sudah ikut angkat bicara setelah melihat Edward tidak bisa melanjutkan bicaranya.
"Apa?"kaget juga mendengar kabar ini dari kedua putranya.
"Kasian sekali dia, memang apa yang membuatnya pergi dari rumah, seharusnya kalian juga jujur saja dari awal,pasti papa dan mama akan menerima kehadirannya di rumah, tidak dengan kebohongan seperti ini"
Papa juga merasa kasian melihat kondisinya yang seperti ini.
Namun sebagian perasaanya merasa penasaran dengan kehidupan wanita itu.
"Ini semua salah Edwin pa, maafkan Edwin, Edwin yang memulai masalah ini sejak awal"
Ibunya Edward masih terdiam menatap putranya yang terlihat begitu sedih.
Ia merasa bersalah sendiri sekarang, terlebih melihat keadaan Luna yang memprihatinkan.
Kasian Luna,ini semua juga salahku,
Dia menjadi seperti ini sekarang,
Ibunya Edward berjalan mendekati Luna, melihat wanita ini yang begitu pucat di penuhi dengan perban,ini membuatnya merasa gelisah sendiri.
"Ini semua salah mama, maafkan mama Edward,dia jadi seperti ini gara-gara mama,kamu pasti sangat marah ya sama mama?.."
"Apa yang mama katakan,ini semua salahku, dari awal memang ini salahku,aku tahu mama marah kepadaku karena aku telah berbohong kepada mama, maafkan Edward.."
__ADS_1