
Tak terasa pagi sudah tiba.
Memancarkan cahaya yang begitu indah melewati celah-celah jendela kamarnya ini.
Alfian terbangun, waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi,dia benar-benar telat, karena ia akan mengadakan meeting pagi sebelum menghadiri pertemuan bersama klien pertamanya yang akan di adakan di perusahaan xxx.
Melihat istrinya yang masih tertidur pulas membuatnya merasa kesal.
"Swara... Swara.."mencoba membangun istrinya agar segera bangun.
"Ada apa?,aku masih ngantuk.."menjawab dengan lemas dan semakin menarik selimutnya untuk tidur lagi.
"Kau ini benar-benar yah, seharusnya kau membangunkan ku kan?,aku pasti telat ke kantor hari ini.."Mengoceh, beranjak dari tidurnya.
Lalu berjalan menuju ke kamar mandi,ia benar-benar merasa terburu-buru pagi ini.
Karena yang biasa membangunkannya setiap pagi adalah istrinya Luna.
"Ih.. apaan si.."Terbangun Swara mendengar suaminya yang mengoceh.
memang bangun sendiri saja tidak bisa apa?,siapa suruh dia tidak tidur semalaman.
Merasa kesal juga, namun tiba-tiba ia terseyum sendiri mengingat tentang semalam.
Syukurlah Luna kabur dan pergi meninggalkan rumah ini,
jadi aku tidak perlu repot-repot untuk melakukan berbagai cara untuk membuatnya pergi.
Menyerkit sambil merasa begitu senang,laku mengambil ponselnya dan memainkannya sesaat.
"Hahaha...,aneh banget.."Tertawa terus melihat tontonan yang ada di layar ponselnya,ia sepertinya terlihat terhibur sekali dengan apa yang ia tonton.
"Hahaha.. benar-benar lucu sekali ini...gila...gila ..gila.."Asik memainkan ponselnya.
Bahkan ia sampai tidak perduli dengan suaminya yang sudah keluar dari kamar mandi sejak tadi dan memperhatikannya.
"Swara.."
"Hmm..?"
Masih sibuk menatap ponselnya.
"Mana baju dan perlengkapan kantorku?,kau belum menyiapkannya?"Mencari-cari baju yang akan ia kenakan ke kantor, biasanya selalu tersedia di atas ranjang ruangan ganti setelah ia selesai mandi.
"Bukankah kau selalu menyiapkannya sendiri,aku tidak tahu lah.."
Bukankah dia yang selalu menyiapkan bajuku setiap paginya,
lalu siapa jika bukan dia, pasti Luna..
Langsung terlintas Luna di pikiranya, membuatnya teringat kembali tentang semalam.
Dimana Luna sekarang,
Menyengkrut-kan dahinya mendengar jawaban Swara yang terlihat begitu santai dan berleha-leha.
karena jika kau tahu saja Alfian, yang selalu menyiapkan pakaian dan perlengkapan kantormu adalah Luna istri pertamamu.
Ia selalu berusaha menjadi istri yang baik untukmu,tapi kau malah menyia-nyiakannya dan membuatnya pergi.
__ADS_1
"Jadi,kau tidak pernah menyiapkan baju untukku sebelumnya..."
"Tidak, bukankah kau tidak pernah memintanya, lagian biasanya kau ambil sendiri kan.."
Benar-benar,
Merasa kesal sebenarnya Alfian dengan istri pertamanya ini,namun apa dayanya,ia akan memaafkan untuk pertama kalinya saat ini.
"Baiklah, sekarang ambilkan bajuku dan siapkan peralatan kantorku"
"Iya baiklah.."
Apa semuanya harus menungguku menyuruhnya,
Ia masih memaklumi istri keduanya ini, karena ia sendiri pun tahu Swara hanyalah anak orang kaya yang selalu di manja dan tidak pernah tahu akan namanya melayani,ia hanya tahu namanya di layani.
"Ini sayang bajunya!"memberikan sebuah baju yang begitu mengkilap dan licin karena terlalu rapi.
"Iya sudah aku pakaian..."Setelah melihat suaminya menganggukan kepalanya membuatnya bergegas untuk segera memakainya.
Wangi aroma baju dan jasnya yang semerbak itu membuatnya merasa enek sekali, ia merasa ingin muntah.
Jangan muntah,aku mohon jangan muntah, jangan sampai kau muntah di depan suamimu,
"Dimana dasi ku?.."
"Oh sebentar"menuju ke arah laci dan mengambil salah satu dasi yang tertata rapi itu"
"Huek..huek.."Merasa mual di dalam ruangan ganti ini.
Kenapa baunya wangi sekali si, aku benar-benar tidak tahan,
"Iyah..., pakaikan!"Sambil sibuk membenarkan pakaiannya yang belum rapi itu.
"Baiklah.."Langsung menjulurkan dasi itu dan mencoba memakaikannya kepada suaminya, namun sayang ia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya memasang dasi.
"Susah sayang aku tidak bisa.."
Ya ampun memakaikan dasi saja tidak bisa, benar-benar,
"Iya sudah aku akan pakai sendiri"Mencoba sabar sekarang.
Setelah selesai berpakaian Alfian langsung menuju ke meja makan, tidak ada makanan apapun yang tersedia di situ.
"Swara...!"Panggilannya kencang, mungkin ia merasa sedikit kesal dan lapar.
"Kau tidak menyiapkan makanan untukku?"Bertanya sambil menunjuk meja makan yang kosong tanpa satu piring makanan pun.
Kenapa tidak ada makanan di sini, kenapa pelayan tidak masak,
"Pelayan...!"Swara malah memanggil pelayan dengan kesal, sepertinya ia juga akan memarahi pelayan yang belum juga menyediakan makanan.
Salah satu pelayan langsung bergegas dan berlari ke ruangan ini untuk menemui Majikanya.
"Iya Nona...?"
"Kenapa tidak ada satupun makanan disini,kalian tidak memasak?"
"Maaf Nona, pelayan lainnya sedang pergi berbelanja, stok sayur dan makanan juga kosong, jadi kami belum memasak dulu, mungkin siangan..."
__ADS_1
"Ah..ya sudah baiklah!"
"Seharusnya kamu berinisiatif sendiri dong untuk membutakan makanan untukku.."
Ih... apaan si, jutek banget dia hari ini,
Alfian akan pergi meninggalkan keduanya,ia terlihat begitu kesal dengan istrinya ini , mungkin ia begitu terbawa suasana karena lapar dan karena kepergian Luna juga.
Kemudian Swara berusaha mencegat suaminya yang akan pergi itu dari ruang makan ini.
"Kau mau aku bikinin makanan sayang,akan aku buatin?"Mungkin ada beberapa bahan makanan yang tersedia di dapur ini, tapi Alfian tidak ingin terlalu lama menunggu sebelum ***** makannya hilang dan tak berselera.
"Iya sudah bikinin aku telor ceplok, garam dikit aja, jangan terlalu asin,aku lapar!,dan yang matang yah!, aku tidak suka setengah matang soalnya...."
"Iya sayang baiklah.."
Alfian langsung duduk di sofa ruangan, mungkin sekitar 20 menit lagi ia akan segera berangkat.
Pikiran ini masih kemana-mana, terlebih ia tidak bisa menemukan istrinya semalam.
Dia benar-benar kehilangan jejak.
Jadi segala apapun yang melintas di kepalanya hanyalah kegelisahan dan rasa khawatir karena Luna pergi.
Kira-kira di mana Luna,dia kemana?, semalam dia belum makan kan,
ponsel pun tidak ia bawa,ia tidak membawa apapun kan,
Lalu bagaimana jika ia kenapa-napa,
ia sedang hamil, bagaimana jika ia di jahat-i oleh orang-orang nakal di luaran sana.
Melawan perasaan sendiri susah ya Alfian?, seberapa keras kau menghindari dan menutupi perasaan mu tetapi tetap saja kan,kau akan tetap memikirkannya dan merasa gelisah jika sebenarnya kau cinta dan menyukai istrimu.
"Cukup,apa yang aku pikirkan?.."Berteriak sendiri sambil mengepalkan tangannya,ia benar-benar tidak konsentrasi hari ini, bahkan ia menjadi bingung dan tidak ingin melakukan apapun saat ini.
"Iyah gosong lagi.."Swara panik, ia bingung caranya membalik telor ceplok.
Bau gosong sudah semerbak kemana-mana, termasuk ke batang hidung Alfian, membuat Alfian menoleh menatap istrinya yang sedang memasak itu.
"Sayang gosong..,aku tidak bisa membaliknya, minyaknya juga muncrat-muncrat,aku takut"
"Ah.. sudahlah, tak becus!,aku akan berangkat sekarang.."merasa semakin kesal saja dan beranjak berdiri dari duduknya.
Ia akan segera berangkat ke kantor.
Selera makannya sudah menghilang begitu saja.
Dari tadi istrinya ini benar-benar membuatnya merasa kesal saja karena tidak se-perhatian Luna di setiap harinya yang selalu di lalui Alfian biasanya.
"Sayang.."Berlari,Lalu Swara memeluk suaminya dari belakang.
"Maafkan aku,aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu.."
"belajarlah mulai sekarang!,aku mau berangkat"Berbicara dengan ketus dan nada marahnya, suasana hatinya benar-benar terlihat buruk.
Ih..ini pasti gara-gara Luna kabur,ia jadi jutek banget kan sama aku,
Ada dan tidak ada kehadirannya sama saja,aku kesel.
__ADS_1