
"Kamu kenapa sayang?"
Ibunya Edward terlihat begitu cemas saat melihat bibir putranya berdarah saat memasuki ruangan ini.
"Tidak papa ma,aku hanya terjatuh.."
"Tidak mungkin kau terjatuh,kau itu pandai berjalan di atas batu karang sekalipun Edward, katakan,apa yang terjadi sayang?..."
Luna terdiam menatap keduanya yang sedang berbicara itu, ia juga mengamati bibir Edward yang tampak berdarah.
"Aku tidak papa mah, tenanglah,ini hanya luka kecil, jangan membuat Luna penasaran.."Terseyum sembari meninggalkan keduanya sambil memasuki ruangan istirahatnya.
Kemudian ia langsung melepas baju kedokterannya dan menatap ke arah cermin.
Sementara ibunya sudah mengikutinya dari belakang dan masuk ke dalam ruangannya.
"Katakan!,apa yang terjadi?,kau habis bertengkar?"Menatap putranya lekat, walaupun ia bilang baik-baik saja tapi tidak dengan perasaan seorang ibu yang selalu cemas akan hal kecil.
"Apa yang mama lakukan?,aku baik-baik saja,aku bukanlah anak kecil.., tenanglah.."
Tersenyum menatap ibunya.
"Tapi kan bibirmu..."
"Ddrrrttt... ddrrrttt...."Dering ponsel ibunya Edward langsung memotong pembicaraan keduanya.
"Halo..."Mendengarkan seseorang yang sedang berbicara di dalam panggilan itu.
"Apa,oh iya oke...oke..aku akan segera kesana"
Mematikan panggilan itu, lalu menatap putranya kembali.
"Sayang mama lupa, mama ada pertemuan dengan klien mama hari ini,mama akan telat,mama harus pergi sekarang yah.."
"Iya ma, tenanglah.."
"Tapi kamu.. bibirmu.."
"Sudah ma jangan pikirkan aku,ini hanya luka kecil,ya ampun.."
"Beneran kau tidak papa kan"
"Aku tidak papa ma, baiklah aku antar mama keluar ruangan yah.."
Menyakinkan ibunya agar tidak kepikiran dan segera keluar dari ruangan ini biar ia tidak telat akan pertemuannya.
Luna terduduk di atas ranjangnya sambil melihat kedua orang itu yang akan keluar dari ruangan bergitu saja.
"Hati-hati mah, muach.., sayang mama.. Jebrett.."langsung menutup pintu kembali.
Ada apa dengan anak itu, bagiamana bisa ia terluka seperti itu.
Edward berjalan lagi dan akan memasuki ruangannya,tapi melihat Luna yang terdiam menatapnya membuatnya berbelok ke arahnya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau pikirkan?,kau membutuhkan sesuatu?"
"Tidak..."Menatap lekat Edward, sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana keadaanmu...?"
"sudah membaik..."
"Tanganmu masih tidak berasa?"menyentuh perban tangan Luna dengan sangat lembut dan hati-hati,ia juga berusaha untuk meluruskan tanganya perlahan untuk melatih kekuatan otot tanganya yang cedera itu.
"Aw.."Sedikit mencengkram di bagian sikunya.
"Maaf,keadaan tanganmu masih begitu buruk,kau benar-benar harus menjaga dirimu dari pergerakan tanganmu yah..."
"Iya dok,baiklah.."terseyum Luna menatap Edward setelah memangilnya dok dan membuat Edward menyengkrut-kan dahinya karena panggilannya.
"Lalu ada apa dengan bibirmu?,kau baik-baik saja..."
Terdiam saat Luna menyentuh bibirnya dengan tangan kanannya sambil memegang tisu, keduanya bertatapan sesaat.
Jantungku berdetak begitu kencang, aku bahkan tidak sanggup menatapnya lagi,aku jadi merasa gugup...
"Aku tidak papa..,ini hanyalah luka kecil,hehe..."Terlihat memerah wajah Edward,ia bingung harus berkata apa sekarang.
Ia juga terlihat gugup sendiri.
"Itu tetaplah Luka..,kau harus mengobatinya kan, jangan mentang-mentang kau dokter dan tak mau di obati.."
"Tenanglah, aku tidak papa,..."
Dari mana dia tahu, cinta segala lagi,
"Apa yang sedang kau katakan, dari mana kau tahu tentang pertengkaran cinta?.."mengerutkan keningnya Edward,ia benar-benar menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Luna tadi.
"Tuh.."menunjuk ke sebuah TV yang sedang beradegan drama tentang kedua orang laki-laki yang sedang memperjuangkan dirinya untuk mendapatkan cintanya demi satu perempuan yang mereka cintai.
"Sudah ku bilang jangan dekati dia!,dia milikku.. buughkk... buughkk.."Drama adegan itu benar-benar sama persis dengan yang di alami Edward dengan Alfian saat bertarung tadi, sama-sama main pukul.
Mama apa-apaan si, mengajaknya menonton film alay beginian,
Langsung mematikan layar televisi begitu saja.
"kenapa di matiin?,kau tidak suka..."
"Drama ini mengandung kekerasan, tidak baik orang sebaik dirimu harus menonton film beginian..."
"Tapi itu kata mama romantis kan,kau tidak ingin menonton denganku film romantis?..."Menunduk dirinya merasa begitu lesu sekaligus malu.
"Hem,kau ingin sekali menontonnya?"Tidak tega Edward untuk mematikan film itu.
Terlebih melihat Luna yang lesu dan tidak bersemangat karena tidak ada hiburan.
"Baiklah,kita akan nonton hari ini..."Mengaktifkan televisi kembali dan membuat Luna terseyum lagi.
__ADS_1
Semoga besok-besok kedatangan mereka semua akan membuat Luna semakin membaik lagi...
Edward sudah berjanji pada dirinya sendiri akan segera menjemput keluarga Luna untuk datang menemui Luna dalam waktu secepatnya.
"Duduklah di sini.."Menenpuk sebelah ranjang pasien miliknya untuk menonton bersama.
"Aku harus mengabari seseorang dulu, biarlah aku duduk di sini saja,aku juga akan tetap menemani mu menonton disini...."
"iya sudah baiklah..."merasa senang Luna karena di temani Edward menonton film.
Sekitar 45 menit berlalu,Luna terlalu asik menonton hingga ia lupa dengan seorang laki-laki yang sudah terlelap kerena ketiduran.
Selama beberapa hari ini Edward memang kurang tidur, terlebih setelah kecelakaan yang menimpa Luna dan membuatnya tak sadar, begitu membuat Edward gelisah dan tidak tenang.
Ia bahkan tidak tidur selama dua malam karena berjaga menunggu kepulihan-nya.
"Wah filmnya bagus sekali tapi sudah selesai.."
Lalu melihat Edward yang sudah tersadar di pinggiran ranjang dengan kedua tangannya yang terlihat bertumpuan di sampingnya.
Dia sampai tertidur,apa dia terlalu lelah...
Menatap lelaki itu lekat yang sedang terlelap, bibirnya bahkan terlihat membiru karena luka dan memar akibat tonjokan Alfian tadi.
Kemudian Luna tidak tega melihat bibinya yang memar itu,ia beranjak berdiri dari ranjang dan menuju ke arah kulkas yang ada di ruangan ini.
Ini juga baru pertama kalinya Luna turun dari ranjang tanpa bantuan dan perantara.
Hanya demi mengambil sebuah es batu ia rela pergi meninggalkan ranjangnya walaupun belum terlalu pulih.
Badannya memang terasa masih sedikit sakit dan pegal-pegal, namun semakin banyak bergerak membuatnya semakin merasa enakkan.
Bagaimana caranya agar aku bisa mengompres bibirnya, nanti jika ia terlalu kedinginan dan terbangun bagaimana..
Luna sudah mengambil satu kotak es batu dari frizer itu, walaupun ia sedikit kesulitan dengan satu tangan ia tetap bisa mengambilnya dengan sebuah wadah yang ada di atas meja samping kulkas.
Kemudian ia mendekat ke ranjang dengan wadah berisi es batu itu.
Ia memang bingung bagaimana caranya mengompres bibirnya.
Ia menemukan ide tersendiri dan mengompres 3 jemari tangannya terlebih dahulu,lalu setelah tanganya terasa dingin dan membeku, ia tempelkan ke bibir Edward dengan cara berulang-ulang.
Kenapa dia terluka seperti ini, apa ada orang jahat yang telah melukainya,
Edward sedikit berkutik,ia merasa ada sesuatu yang menggangunya sejak tadi.
Lalu ia membuka matanya dan melihat Luna yang sedang menatapnya lekat dengan jemari tanganya yang menempel di bibirnya itu
"Kau bangun..."Luna kaget dan akan segera menyingkirkan tanganya, namun tangan Edward sudah beralih menahan tangannya yang menyingkir.
"Apa yang kau lakukan?,kau menggangu tidurku..."
Dia mengompres ku dengan es, darimana ia tahu cara seperti ini..
__ADS_1
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam Edward saat ini benar-benar sedang terseyum cerah.