Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Ke rumah


__ADS_3

Hari ini Edward melakukan aktivitas seperti biasanya di rumah sakit.


Ya.. bertemu dengan para pasien yang bolak-balik datang menghampirinya dan menyatakan tentang keluhan yang di rasakan mereka masing-masing adalah hal yang biasa ia dengar.


Tugasnya hanyalah membantu dan mengobati para pasien, selebihnya itu di tangan yang maha kuasa.


Kira-kira dia ini lagi ngapain di rumah?, kenapa aku jadi gak betah di rumah sakit lama-lama si semenjak ada dirinya di rumah,


Menatap layar ponselnya yang di penuhi dengan pesan-pesan itu.


Namun dari sekian banyaknya pesan yang ia dapatkan tak ada satupun pesan yang menyisakan atas nama Luna.


Aku sudah memberinya hp kan, seharusnya ia mengabariku bukan, kenapa dia tidak memberi kabar sama sekali,


Termenung, entah kenapa ia menjadi kepikiran dengan Luna dan ingin pulang.


"ehem..,ada yang galau nih.."


Edwin, yang tiba-tiba muncul dari arah pintu masuk ruangan ini.


"Kau kemari?, bagaimana urusan kantormu?.."


"Semua sudah beres kakak"Duduk bersanding dengan kakaknya yang ada di sofa ruangan ini.


"Bagiamana kak untuk Dana rumah sakit kita yang akan kita sumbangan kepada rumah sakit pelosok tanah air yang lebih membutuhkan sudah berkembang kan?.."


"Lumayan tinggal 30 % lagi, mungkin beberapa waktu pekan akan terkumpul dananya,dan kau tinggal mengurusi urusan kantor untuk pembagian dan pengobatan gratis bagi masyarakat yang lebih menguntungkan, seperti obat-obatan dan bahan lainnya harus segera di rancang dan selesaikan"


"Baik kak, untuk itu aku akan segera mengkonfirmasi pihak penanggung jawab rumah sakit".


Wah ternyata keluarganya Edward tidak kalah tanding dengan keluarga Swara yang kaya raya itu, bahkan rumah sakit terbesar yang ada di kota ini adalah pribadi milik keluarganya.


Pantas saja mereka seenaknya keluar masuk dan menyuruh para penghuni rumah sakit dengan santai dan penuh penghormatan bagi mereka.


"Oh...iya kak,di kantorku ramai di perbincangkan tentang pencarian istri CEO yang menghilang, bahkan publik dan media sosial juga ikut ramai, lalu bagaimana ini kak jika Mamah melihatnya di media sosial tentang ini dan posisi Luna sekarang tentunya tidak aman.."


"Itu yang kakak pikirkan Edwin, sementara pengecut itu dengan mudahnya menggunakan uangnya untuk mencari Luna, seharusnya sampai hari ini dia mencoba mencarinya bukan, kenapa dia tidak memiliki usaha sama sekali..,ini yang membuat aku kesal.."


"Mungkin ia terlalu sibuk dengan urusan kantornya"


"Sesibuk apapun dia,jika dia benar-benar mencintai Luna seharusnya dia mencarinya dengan bersungguh-sungguh kan"


*****


Hari ini ruangan Dirut terlihat kosong,ia hanya menghadiri kantor sebentar untuk melakukan tanda tangan kontrak pekerjaannya saja.


Setelah itu ia pergi meninggalkan kantor bersama supirnya.


Tak ada yang mengetahui hal ini baik istrinya maupun Tuan besar.


Hingga membuat Tuan besar kaget saat menerima telvon dari kantornya dan mempertanyakan tentang keberadaan Alfian.


Tentunya ia tidak tahu dan langsung pergi ke rumah anak semata wayangnya itu.


Disitu terlihat Swara yang sedang berjemur di dekat kolam renang.

__ADS_1


Melihat kehadiran sang Ayah membuatnya kaget dan beranjak berdiri


"Papah.., tumben Papah kemari siang-siang?"


Berjabat tangan dan mempersilahkan Papahnya untuk segera duduk.


"Dimana Alfian?"


"Alfian,dia di kantor kan Pah?.."


"Alfian tidak ada di kantor Swara,dia itu pergi kemana?"


"Tidak ada di kantor?,Loh.. mas Alfian juga tidak ada di rumah Pah,tadi pagi kan ia berangkat ke kantor"


Dimana mas Alfian, pergi kemana dia.


"Kasih tahu suami mu Swara, menjadi seorang pemimpin tidak boleh meninggalkan kantor begitu saja tanpa alasan,dia bukan menager lagi tapi seorang Dirut.., tanggung jawab yang harus penuhi dan di kerjakan itu lebih besar..."


"Tapi mas Alfian pergi kemana Pah?"


"Coba kau telvon dia!"


Mereka berdua terlihat bingung dan gelisah sendiri, Terlebih Tuan besar sendiri harus datang ke kantor dan memimpin perusahaan hari ini.


"Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi....."Begitulah yang terdengar di telinga Swara saat ini.


Dimana mas Alfian?, kenapa nomornya tidak aktif


Sudah bermuka masam Swara,ia juga mencoba menelfon suaminya berulang-ulang, namun hasil tetap sama, nomor suaminya tidak aktif.


"Iya sudah tanyakan kepada supirnya?, nanti kabari Papah ya sayang, Papah harus datang ke kantor"


"Iya Pah..."


Mereka berdua bingung dengan kepergian dan keberadaan Alfian sekarang.


Berbeda dengan Alfian, ia sedang berdiri menatap rumah sederhana berlantai dua.


Rumah yang sering ia datangi di awal pernikahan dengan Luna.


Rumah ini adalah rumah di awal ia memasuki kehidupannya dengan istri pertamanya.


Di dalam rumah ini ia berkata,


Perlahan-lahan aku pasti bisa melukaimu nantinya,


Namun perkataan itu lenyap, kini ia terdiam di dalam lamunan menatap pintu rumah.


Gemetar lidahnya mengingat perkataanya itu.


Seolah-olah ia sedang di lumuri rasa bersalah sekarang.


Dengan gemetaran dan penuh harap ia datang ke tempat ini untuk mencari keberadaan istrinya.


Aku akan meminta maaf,aku akan bertekuk

__ADS_1


lutut kepadamu Luna,aku ingin kau kembali kepadaku,


Semoga saja kau pulang ke rumah ini.


Memberanikan dirinya untuk melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk rumah ini.


Dengan gemetaran ia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.


Aku berharap Luna ada di dalam,


"Thok..Thok..Thok.."Ketukan tiga kalinya yang tampak ragu,tapi di penuhi dengan harapan yang besar.


Tidak ada sahutan dari dalam, hingga ia mencoba kembali mengetuk pintu untuk yang kedua kalinya.


"Thok... Thok..Thok.."


Tak lama ada suara pergerakan dari dalam,laku di susuli dengan seseorang membuka pintu.


"Alfian..."Ibu mertuanya yang sudah membukakan pintu dan terseyum ramah menatapnya.


"I...ibu..?"


"Kau kemari nak,Lalu dimana Luna?"


Deg,


Terasa berhenti jantungnya,hal ini yang membuatnya khawatir jika Luna tidak kembali ke rumahnya.


"Lu.. Luna tidak ada di sini Bu?"Matanya sudah berkaca-kaca menatap mertuanya,hal ini semakin membuat mertuanya bingung dengan tidak kehadirannya putrinya dan pertanyaan Alfian yang aneh.


"Maksudku Nak?, dimana Luna?"Menyengkrut-kan dahinya seraya bertanya.


"Lu.. Luna pergi dari rumah Bu,ia menghilang, sudah Lima hari ia belum kembali ke rumah"Menunduk di hadapan mertuanya, ia merasa begitu bersalah sekaligus merasakan kekhawatiran yang begitu mendalam.


"Apa?,Lu..Luna Hilang?, tidak mungkin..itu tidak mungkin, dimana Luna Alfian?, dia kemana?,dia kemana Alfian?,kau berbohong kan?, katakan kalau Luna baik-baik saja..?,iya kan..?"Ibu mertuanya terlihat begitu panik dan berkaca-kaca,ia benar-benar tidak percaya dengan kabar ini.


Ia begitu mengkhawatirkan putrinya dan merasa tidak terima.


Sementara Alfian terus berkata jujur sambil menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana Luna bisa pergi dari rumah, katakan Alfian?, Bagiamana Luna bisa pergi dari rumah...?, katakan Nak, Katakan!...hiks...hiks..., bagaimana putriku bisa menghilang?..."


"Ini semua gara-gara aku Bu,ini semua gara-gara aku,aku yang membuatnya pergi dari rumah,aku memarahinya kelewatan dan membuatnya pergi.."


"Apa maksudmu?,apa yang di lakukan putriku kepadamu sehingga membuat mu memarahinya?, katakan apa yang di lakukan-nya Alfian?,katakan..!, bagaimana putriku bisa pergi...."Bahkan saking paniknya Ibu bertanya tidak sabar sambil menarik baju kemeja Alfian yang tampak licin itu dan tampak kusut sudah.


"Putrimu tidak salah apapun Bu..,ini semua salah Alfian,dia tidak melakukan kesalahan apapun Bu,ini semua salah Alfian, maafkan Alfian Bu, maafkan Alfian....."Menintikkan air mata menatap mertuanya karena rasa bersalahnya.


"Apa yang kau katakan,apa yang telah kau lakukan kepada putriku?, dimana putriku,Apa yang kau lakukan?, bukankah dia itu sedang hamil,...hiks..hiks.."


"Bu..Bu...Ada apa Bu..?,ada apa Alfian?"Bahkan suaminya yang berada di ruang belakang langsung berlari ke depan menghampiri istrinya yang terdengar menangis kencang.


"Luna Yah.., Luna..Luna menghilang.., Brugh..."Dan setelah itu ibu mertuanya pun pingsan karena begitu syok.


"Bu..Bu..Bu bangun Bu.."

__ADS_1


"Iya ampun ibu..ibu bangun Bu"Alfian juga merasa tambah panik dan khawatir sekarang, karena ia tidak menemukan Luna di tambah lagi mendapati mertuanya yang pingsan karena syok.


__ADS_2