Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Suasana di meja makan


__ADS_3

Semua menu makanan lezat-lezat sudah tertata rapi di atas meja makan.


Ayah dan Ibu Edward sudah duduk terlebih dahulu di meja makan.


Ada pula Edwin yang sudah datang menyusul terlebih dahulu lalu di susuli dengan duduk di samping mereka.


"Pah, kita sudah punya Calon menantu baru?, Edward bawa ceweknya kemari, kemarin malam ia tidak menghadiri pertemuan makan malam karena ia menolak keras perjodohan ini, dan ia akan memilih pasangannya sendiri, tentunya mamah setuju si jika ini yang membuatnya bahagia..."Terlihat begitu senang ibunya Edward, mungkin mempunyai menantu adalah keinginannya sejak lama yang ia nanti-nantikan.


Gawat,mamah kelihatan seneng banget lagi,


ini semua gara-gara aku, nanti kalau sampai ketahuan bisa di penggal aku ini.


Menggarukan kepalanya sendiri Edwin,ia tidak tahu harus berkata dan berucap apa kepada kedua orang tuanya ini.


Tapi raut wajah datar dan biasa saja di tunjukkan oleh sang Ayah.


Entah kenapa ia terlihat biasa saja mendengar kabar ini, yang jelas ia terlihat begitu diam sambil menyendok makanannya untuk di pindahkan ke piring.


"Pah..,ko Papah diam saja si?, bukannya seharusnya Papah seneng juga kan?.."Melihat suaminya terdiam membuat istriya merasa kesal.


"Apa Papah harus jumpalitan mendengar kabar ini?, tunjukkan padaku keseriusan mereka!, Papah tidak suka bertele-tele ini itu terlalu lama,yang penting yang Papah tunggu adalah keseriusan dan kemantapan mereka!, tunjukan kepadaku sekarang dan ini yang akan membuat Papah merasa senang..."Suara datar yang singkat, padat,dan jelas tapi terdengar begitu menyudutkan mereka berdua.


Mampus, pasti Papah sudah amat sangat kesal dengan urusan kakak, bagaimana ini jika begini ujungnya?,bisa di penggal juga aku sama kakak.


"Hah...?, berarti Papah akan merestui hubungan mereka nantinya jika mereka berdua saling mencintai dan menerima satu sama lain?"


"Tentu saja,apa yang bisa Papah lakukan untuk menghalangi cinta mereka, kekuatan cinta itu tentunya lebih besar dari apapun, jika mereka saling mencintai Papah bisa apa, seperti cinta Papah ke mamah ya gak,tak ada penghalang di antara kita berdua..?"


Merona wajah mamah, mendengar perkataan suaminya yang begitu menggoda membuatnya terbunga-bunga.


"Uhuk...uhuk.."Edwin sendiri sampai tersedak mendengarnya,ia sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan kedepannya.


"Ada apa sayang?,kau tidak papa?"Mamah sudah berhenti tersenyum dan langsung menatap putranya tegang karena tersedak.


"Hehe..uhuk..uhuk, Edwin tidak papa mah, hanya ikut senang saja mendengarnya.."


Senang dari Hongkong, yang ada aku jadi pusing malah.


Menyangkal perkataannya sendiri yang ia lantunkan tadi.


"Iya syukurlah jika kau ikut senang, minumlah lagi sayang untuk merilekskan tenggorokan mu!"


"Iya mah..."


Jika Papah dan Mamah begitu serius begini lalu apa yang harus akan aku lakukan kedepannya,


apa memikirkan alasan tiba-tiba hubungan mereka putus di perjalanan begitu, kecewa lagi dong Papah sama Mamah.


"Dimana kakakmu?, kenapa belum muncul juga sejak tadi?.."


"Ee'...mungkin sebentar lagi mah, tenganlah...."


"Iya baiklah, Mamah akan menunggu kehadiran mereka disini,lalu bagaimana dengan pertunangan mu Edwin?,kapan rencana akan di laksanakan?.."


"untuk itu butuh waktu dan kemantapan Edwin sendiri mah, persiapan sudah Edwin rencanakan semuanya, nanti tinggal aku berbicara dengan mamah untuk kepastian ini"

__ADS_1


"iya sudah baiklah pilih yang terbaik untuk kebaikanmu sendiri Edwin"


"Iya mah tenganlah"


****


Edward sedang menunggu Luna untuk berganti pakaian di depan kamarnya.


Ia akan mengajak Luna bersama-sama menuju ke ruangan makan.


Sesaat kemudian muncullah Luna dari balik pintu,ia terlihat begitu cantik dan menawan dengan dress coklatnya.


Namun sedikit menjanggal dari pemandangan ini, yang membuat Luna sendiri merasa risih.


"Apa aku boleh ganti baju lain?,ini terlalu ketat dan perutku juga terlihat buncit kan,nanti kalau Mamah mu curiga gimana...?"


"Iya iya baiklah aku juga setuju.."


Luna langsung masuk ke dalam lagi dan mencoba berganti pakaian yang lebih cocok menurutnya sekarang ini.


Sesaat,lalu ia keluar dari ruangan kamar itu lagi.


"Ini bagaimana?, apakah ini lebih cocok dan sopan?"


"Iya tentu saja,semua yang kau pakai pasti menang sangatlah cocok dan indah"


Eh kenapa aku jadi memujinya,


"Ee'... maksudku kau sangat cocok pakai baju itu,ayo kita ke ruang makan"Jadi grogi sendiri nih Edward,ada apa gerangan?.


Suamiku saja tidak pernah memujiku seperti itu, tapi kenapa aku senang mendengarnya tadi,


"Bersikap biasa saja dan mulailah ber-drama nanti,jika ibukku terlalu banyak bicara tolong mengertilah,dan dia itu memang sangatlah bawel menurutku..."


Menganggukan kepalanya dan berjalan mengikuti langkah Edward dari belakang.


Keduanya sudah nampak memasuki ruangan makan bersama.


Ibunya Edward yang sudah menunggu sejak tadi langsung tersenyum melihat kehadiran keduanya yang sudah memasuki ruangan ini.


Dia sangat cantik, anggun juga, kelihatannya dia juga sangat baik dan kalem.


Pandai juga putraku memilih, Semoga saja dia lebih baik darinya.


"Pagi Pah, Mah..."Mendekati tempat duduk.


"Pagi Om, Tante.."Tersenyum malu bercampur canggung, gemetar, gelisah dan sebagainya yang sedang di rasakan Luna sekarang.


Jangan gemetaran,aku mohon biasa saja, ayo berakting..,


aku pasti bisa kan,


Memberi penyemangat untuk dirinya sendiri karena merasa grogi dan gemataran, Terlebih melihat Tuan besar yang tidak berkutik dari pandangan sama sekali.


Ia terlihat begitu angkuh dan galak menurutnya karena belum mengenal.

__ADS_1


"Kalian mempunyai hubungan kan?, kenapa terlihat kaku dan jaga jarak sekali?, seharusnya kau menggandeng tanganya kan Edward?.."


Mamah ini benar-benar yah, macam-macam saja deh maunya,


memang harus banget gitu bergandengan tangan.


"Kan..kan belum muhrim mah, iyah.. kita itu belum muhrim, jadi yang wajar dan biasa saja dalam menjalin hubungan..."


Terserah kau mau berbicara apa mulut, yang jelas bantu aku untuk berbicara dengan benar di hadapan Mamah dan Papah,


Mungkin ini ada jawaban yang tepat baginya untuk ibunya ini.


Mncul seringai kecil di bibir adik tercintanya itu, mendengar kakaknya yang bersikap begitu kaku membuatnya ingin tertawa.


Tumben kak, lagi tobat yah?, biasanya aja rangkulan dan romantis sama kekasih-kekasih yang terdahulu...


Kedua mata kakak beradik ini bertemu.


Diam kau bodoh,kau sedang menertawakan ku sekarang,ini semua gara-gara dirimu kan.


Iya...iya..kak baiklah, aku akan berhenti tersenyum.


Seolah-olah dari tatapan kakaknya saja ia sudah mengetahui apa yang sedang ia katakan di dalam hatinya.


"Aneh.."


"Apa mah?"


"Tidak, baguslah jika kau berdua memilih jaga jarak, karena betul katamu Edward, kalian belum muhrim jadi tak sepantasnya bersikap seperti itu, lebih baik seperti ini,berjaga jarak yah... hehe.."Senyuman aneh ibunya juga muncul mendengar sikap putranya yang sedikit berubah dan kaku itu.


"Kenapa tidak menikah saja?, bukankah itu lebih baik,jadi kau bisa menggandeng dan merangkul kekasih mu semau mu nantinya.."Sang Ayah ikut berbicara sekarang, terlihat asal tapi serius, bahkan tidak di bumbui dengan guratan senyuman di wajahnya sedikitpun.


Ini benar-benar membuat mereka tegang karena mereka percaya dia berbicara serius.


Apa menikah?, bagiamana ini..., kenapa jadi begini si,


Luna terbelalak, ia tidak bisa berkata-kata sepatah katapun mendengar perkataannya ini.


Menikah?,


ini lagi Papah ikut-ikutan menjebak ku sekarang,


Semakin mati kutu berdiri nih Edward,


Ia juga terbengong harus menjawab apa.


Ya elah...ini lagi malah semakin menjerumuskan kakak, bagaimana ini kak,aku bisa apa?


"Oh...kalau untuk itu akan aku segera memikirkannya Pah, tenang saja!,aku lapar, sungguh sangat lapar, kira-kira aku mau makan apa yah..."Geregetan diri ini, rasanya ia ingin sekali menguyah-nguyah makanan yang ada di atas meja ini untuk mengalihkan pembicaraan yang begitu berbahaya baginya.


"Wah..., makanan hari ini sangat enak kak,aku juga lapar, sebaiknya kita lanjut makan saja yuk, aku sudah tidak sabar jadinya..."


Tingkah Aneh mereka berdua yang terlihat membatu satu sama lain.


"Luna duduklah di sini,e'.. maksudku Sayang ayo kita makan, kau pasti lapar kan.."

__ADS_1


Sang ibu hanya bisa mengangkat pundaknya melihat tingkah putranya yang aneh ini.


Namun akhirnya mereka melanjutkan sarapan pagi bersama dengan tenang, walaupun pikiran kacau memenuhi pikiran di kepala Edward saat ini,ia masih berusaha bersikap tenang di meja makan.


__ADS_2