Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Mereka Bertemu


__ADS_3

Edward benar-benar sibuk melayani pasiennya,dari tadi tiada henti orang-orang keluar masuk untuk berobat kepadanya dan menyampaikan keluhannya masing-masing.


Sekarang ia sedang menangani pasien khusus yang sudah berumur ini.


Lebih menariknya lagi dengan seorang bocah yang menemani neneknya berobat,ia tampak kecil dan mungil seusia anak SD.


"Nenekku kenapa dok?, dia tidak apa-apa kan?"


Seorang Bocah kecil yang terlihat begitu khawatir menemani neneknya berobat sejak tadi.


Ia berdiri sambil menatap neneknya yang sedang begitu lemas tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


Ia bahkan terlihat menjaga sebuah kursi roda milik neneknya yang tampak lapuk dan rusak.


"Kau sendirian dengan nenekmu?"Tanya Edward lembut sekali. Ia juga menatap anak kecil itu sambil tersenyum.


"Iya dok,kami memang hanya tinggal berdua saja.."


Kasian sekali usianya yang begini harus hidup seperti ini,


"Dimana kedua orang tuamu?"


"Mereka sudah tidak ada dok"


Ya ampun,


Ikut terbawa suasana Edward,ia juga merasa kasian sendiri dengan baju yang di kenakan bocah kecil ini yang tampak kusut dan kumal.


Ia juga merasa menyesal dengan pertanyaannya tadi.


"Nenekmu baik-baik saja, hanya saja ia terkena demam dan radang tenggorokan.."Mengelus kepala bocah ini dengan lembut.


"Sembuhkan nenekku dok,aku janji aku akan membayar biayanya semuanya, walupun sekarang aku hanya punya uang segini,tapi aku janji dok,aku akan membayar semua kekuranganmu.."Bocah kecil ini berbicara begitu sedih penuh harap, sepertinya ia begitu menyayangi neneknya agar cepat sembuh.


Bahkan uang yang ada di tangannya yang ia tunjukkan itu hanyalah uang recehan yang nilainya tidaklah banyak senilai 80.000 saja.


Melihat ini membuat hati Edward terasa mencekik sakit, melihat kondisi mereka.


"Boy, seharusnya kau tidak memikirkan biaya seperti ini di saat usia mu yang segini, seharusnya kau fokus belajar agar menjadi orang yang sukses nantinya.."Menutup tangan mungil itu yang sedang menyodorkan uang.


"Tidak ada pilihan lain dok,aku harus menjaga nenekku, jika aku keluar rumah untuk belajar,maka siapa yang akan menjaga nenekku.."


"Kalau begitu pergilah ke ruangan resepsionis, bilang lah dokter Edward yang menyuruhmu, mereka akan memberikan hadiah kecil untukmu..."


"Hadiah,tapi dok,ini uangnya?..."


"Simpan saja untukmu buat jajan,tapi ingat jangan sembarangan beli jajan yah, nenekmu biarlah istirahat di sini beberapa hari agar cepat pulih.."

__ADS_1


"Tapi dok, aku tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit ini nantinya jika nenekku menginap beberapa hari do sini..."


"Sudah aku bilang pergilah ke ruangan resepsionis, jangan memikirkan hal ini, oke.."


"Baiklah dok"


"Eh.. tunggu,kau tahu dimana ruang resepsionisnya?"


"Tahu..,di dekat pintu masuk kan dok"


"good job"keduanya langsung bertepuk tangan dan bocah kecil itu langsung keluar dari ruangan pasien ini.


Bersyukurlah aku dengan hidupku yang sekarang ini, karena masih banyak lagi yang sengsara di luaran sana,


******


Keduanya sudah sampai di lingkungan rumah sakit ini.


Swara langsung saja masuk ke dalam gedung rumah sakit dengan suaminya itu.


Kemudian keduanya berjalan menuju ke ruang resepsionis untuk melakukan pertemuan dengan penguasa rumah sakit ini.


"Permisi Sus,saya adalah teman dekat Edward, apakah saya bisa bertemu dengannya hari ini?..."


"Maaf untuk kali ini Tuan Muda Edward sedang sibuk praktek dan melayani banyak pasiennya, jadi kemungkinan tidak bisa Nona"


"Tapi jadwalnya benar-benar padat, dan kami juga tidak berani menggangunya saat ini.."


"Lakukan dulu, jangan membatah, Edward tidak akan menolaknya jika aku yang berkunjung kemari,karena ini juga sangat penting sus.."


"Maaf Nona, kami tidak bisa"


"Berikan telepon itu!,aku yang akan menelfon-nya sendiri"


Merasa gregetan dengan suster yang terus berusaha menolak permintaannya itu.


"Maaf Nona tidak bisa,ini akan mengganggu aktivitas Tuan muda jika ia sedang praktek"


"Bedebah...!"Mengambil ponselnya untuk segera menelfon Edward dengan ponselnya sendiri.


"Sus... Dokter Edward menyuruhku datang kesini"Bocah kecil yang tiba-tiba datang ke ruangan resepsionis ini.


Dimata mereka umurnya kira-kira sekitar kurang lebih 10 tahun.


Swara langsung terdiam dan menatap bocah kecil ini lekat, semetara Alfian sedang sibuk mencari-cari keberadaan Luna dengan matanya yang berkeliling itu.


"Tunggu sebentar yah dek" langsung membuka pesan yang ada di layar leptopnya, sepertinya Tuan muda yang menyuruh bocah ini datang dan meninggalkan pesan.

__ADS_1


"Berikan apapun yang aku perintahkan kepada mu untuknya"


"Baik Tuan Muda"Setelah membaca beberapa bait yang di perintahkan kepada Tuan mudanya itu, suster langsung mengerti apa saja yang harus ia lakukan sekarang untuk bocah kecil ini.


"Sus, Edward sedang tidak sibuk kan, beritahu sekalian kepadanya aku menunggunya di sini,tanpa alasan lagi, titik!"


"Baiklah, tunggu sebentar,kita akan mencobanya Nona..."Suster itu berusaha untuk menghubungi Tuan mudanya karena Nona ini tampak begitu memaksanya.


"Kau tahu dimana dokter Edward kan dek?, beritahu aku di raungan mana dia sekarang?"


"Tidak Nona, urusannya belum kelar dengan kami!,sini dek,dan Tuan muda juga akan segera datang kemari menemui Anda.."


"Sejak tadi kek sus..."


"Maaf Nona, kita hanya mematuhi peraturan disini saja.."


Edward sedang terdiam menatap layar ponselnya yang masih berada di layar log panggilan.


"Swara kemari?,dia benar-benar kemari?,apa dia kemari bersama lelaki brengsek itu, untuk apa?,apa mereka sedang mencari Luna?"


Langsung terbirit-birit Edward keluar dari ruangan ini, sebelum ia pergi dari ruangan ini ia juga menyuruh rekan dokter lainnya untuk menggantikan posisinya.


Terlihat kedua orang itu yang benar-benar menunggunya di ruangan resepsionis.


Wajah dari kedua orang yang ia kenali sebelumnya.


Mereka benar-benar ada di sini,


Terus Berjalan dengan santai mendekati keduanya.


"Kau.."Alfian yang tampak kaget melihat kehadiran pria itu.


Pria yang menyebabkan dirinya berpisah dari istrinya.


"Kenapa?,kau masih belum percaya kalau aku ini adalah dokter?"Terseyum sinis sambil duduk di hadapan mereka berdua.


"Oh....jadi kau yang bernama Edward"


"Kalian saling mengenal?"Swara merasa penasaran dengan kedua sikapnya yang aneh ini saat bertemu.


"Tidak, kita hanya pernah bertemu saja sebentar. Ada perlu apa kalian kemari?.."Edward menatap datar Alfian,ia merasa malas sebenarnya untuk bertemu dengannya saat ini.


"Aku ingin bertanya tentang data-data pasien disini, siapa tahu ada pasien yang bernama Luna..."


"Memang kalian yakin Luna ada disini?,dan kalian berdua sedang mencarinya? hebat sekali, setelah sekian lama kau baru mencari istri pertama mu hah?,lalu kenapa harus kemari?,apa tidak ada tempat lain?.."Tertawa kecil melihat kedua orang yang sedang duduk ini.


Ia merasa geram dengan kehadiran keduanya.

__ADS_1


Tapi ini juga termasuk kesempatannya untuk mendapatkan informasi dimana keluarga Luna itu berada.


__ADS_2