Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Debat


__ADS_3

Ibu mertuanya masih terbaring di atas ranjang,ia juga baru pulih dan siuman.


Sementara sang suami mendampingi di sampingnya sambil membelai kepalanya lembut.


Keduanya masih menatap Alfian yang terlihat begitu bersalah dan menunduk.


"Sebenarnya apa yang terjadi?, bagaimana putriku bisa pergi dari rumah Alfian?"


Ayah mertuanya masih terlihat tenang saat berbicara,iya.. walaupun ia sendiri sedang berusaha menahan kegelisahannya, namun ia tetap berusaha untuk tetap tenang.


"Aku memarahinya karena ia pulang malam bersama lelaki lain, tapi dia bukan siapa-siapanya,dia hanyalah seorang dokter yang membantu Luna saat pingsan di jalan,tapi aku terlanjur memarahinya karena merasa begitu gelisah dan khawatir waktu itu,dan ini semua juga karena niat buruk Alfian yang menikahi Luna hanya karena balas dendam, bukan karena cinta...."


"Apa..?"kedua mertuanya ini bahkan langsung tercengang dan tak bisa berkata-kata, perkataan Alfian benar-benar membuat mereka tidak menyangka.


"Apa maksudmu Alfian?, balas dendam bagaimana?,apa yang kau katakan?"


"Sebenarnya dulu aku mempunyai adik perempuan yang sangat aku sayangi,ia memiliki tunangan bernama Nico,dan ia selingkuh dengan wanita lain,ini membuat Adikku merasa sakit hati dan mencoba bunuh diri, lalu ia tewas dan pergi dari dunia ini setelah bunuh diri,ini membuatku merasa sakit hati dengan Nico dan perempuan yang telah mendua denganya itu,tapi ternyata perempuan yang selama ini aku cari bukanlah Luna,tapi Lani, bukankah ia yang berpacaran dengan Nico dulu..,jadi aku mencoba balas dendam dan menikahi Luna, agar aku bisa membalaskan dendam ku dengan puas kepadanya, namun aku salah sangka,dia bukanlah istriku Luna,tapi kembarannya..."


"Aku tidak menyangka kau melakukan hal se-keji ini Alfian,aku benar-benar tidak menyangka.."Papah mertuanya merasa begitu kecewa dan sakit hati sendiri mendengarnya.


"Iya ampun Luna...kau kemana nak?,kau pergi kemana?,..hiks..hiks.."Menangis kembali ibunya Luna.


Ia merasa begitu khawatir dan takut akan keberadaan putrinya yang sekarang.


"Aku akui Luna dan Lani memanglah berbeda,ia memang kembar,tapi ia memiliki sifat yang begitu berbeda,tapi putriku juga tak seburuk yang kau bayangkan Alfian, kenapa kau jahat sekali, kenapa kau menikahi Luna hanya karena ini?,Kau tidak mempunyai hati dan perasaan hah?, rasa sakit hati dan dendam berkepanjangan itu tidak baik,ini akan mempersulit dirimu sendiri,kau tega Alfian..kau tega..."


"Maafkan aku Bu, mungkin aku telah salah paham kepada Luna,tapi asal ibu tahu,aku juga mencintainya Bu,aku menyesal telah melakukan hal ini,aku benar-benar menyesal, maafkan Alfian Bu..."


"Pergilah dari sini sekarang!, jangan pernah kembali sebelum kau membawa putriku kemari!,aku tidak sudi melihat wajahmu,aku benci dirimu Alfian,hiks..hiks..., pergilah"Mengacungkan telunjuknya ke arah pintu,ia benar-benar terlihat begitu marah dengan menantunya ini.


"Putriku..putri kita Yah.., dimana Luna sekarang...hiks.. hiks"Menangis tersedu-sedu, ia merasa begitu khawatir dengan putrinya.


"Iya Bu,aku yakin putri kita akan baik-baik saja, percayalah..!"


"Aku akan mencari Luna Bu.., sampai dia ketemu dan mau kembali bersama ku, Alfian janji, Alfian akan membawa Luna kembali ke rumah..."


"Pergi... pergi... pergi.. pergi sekarang kamu dari sini!"Ibunya Luna terlihat begitu sedih dan terpuruk,ia pun merasa benci untuk melihat menantunya yang tidak punya hati itu.

__ADS_1


Dengan berat hati Alfian pergi meninggalkan rumah ini,ia juga tidak mempunyai muka untuk tetap disini menghadap ke kedua mertuanya.


*****


Swara dengan kesal dan tidak percaya langsung datang ke kantor untuk mencari suaminya itu.


Ia merasa begitu kesal karena tidak mendapatkan kabar sedikitpun darinya.


Mas Alfian benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa ia pergi dan melepaskan tanggungjawabnya begitu saja,


Dia itu pergi kemana si?,


"Dimana Alfian?"Nada swaranya terdengar begitu kesal, matanya juga berkeliling mencari-cari keberadaannya.


"Tuan Muda sedang pergi Nona,ia tidak meninggalkan pesan apapun"


"Kau ini bagaimana?, seharusnya sebagai penanggung jawab resepsionis kantor kau harus tahu kan alasan orang-orang kantor yang pergi keluar masuk"


Dia CEO Nona, kami tak berhak untuk banyak tanya dan mengaturnya, yang ada ialah yang seharusnya mengatur kami.


"Kalau begitu lain kali bikin laporan setiap kali Alfian keluar masuk kantor,dan jika ia tidak terima maka bilang saja kalau ini kemauan ku dan aku yang menyuruhnya!"


"Baik Nona, akan saya laksanakan.."


Langsung pergi meninggalkan ruangan ini dan menuju ke ruangan kerja suaminya.


Ia hanya melihat Ayahnya yang tampak sedang bekerja di dalam ruangan ini.


"Bagaimana Alfian, dimana dia?"


"Belum ada kabar Pah, sepertinya mas Alfian mematikan HP-nya".


Tak lama kemudian Alfian kembali juga ke kantor, mungkin sekitar satu jam Swara menunggunya di dalam ruangan ini.


Melihat kehadiran istri dan mertuanya membuatnya terdiam dan terbelalak menatap mereka berdua.


"Dari mana kamu mas?,kau pergi meninggalkan kantor tanpa sepengetahuanku?"Terlihat kesal menatap suaminya dalam.

__ADS_1


Tidak ada sahutan dari Alfian,ia terlihat begitu lemas dan terdiam, mungkin ia merasa begitu bersalah dan sedang mengkhawatirkan Luna sekarang.


"Mas aku kan tanya, kamu darimana?,kok kamu diem aja si?"Berdiri dan menghampiri suaminya yang berjalan menuju ke ruangan istirahatnya.


Sementara Tuan Besar masih terdiam di meja,ia belum berani angkat bicara dan masih menunggu anaknya itu untuk menanyakan hal ini kepadanya dulu.


Setelah tidak ada jawaban dari menantunya barulah ia memulai untuk membuka suara.


Swara terus mengikuti langkah suaminya yang berjalan di dalam ruangan ganti sambil mencopot dasinya.


"Kenapa kau terus mengikuti ku?, bisakah biarkan aku untuk istirahat sebentar?.."


"Tidak bisa,kamu jawab dulu pertanyaanku mas!, kau ini dari mana?"


"Huft...."Menghela nafas.


"Aku habis mencari Luna, kenapa?"Bernada datar.


Ia terlihat begitu banyak beban pikiran yang sedang menyelimutinya, hingga membuatnya merasa malas untuk berbicara dengan istrinya ini.


"Apa.., mencari Luna?, Kenapa si kamu harus mencari Luna?,oh... jadi sekarang kau lebih mementingkan Luna dari pada urusan kantor?,kau meninggalkan perusahaan mu demi wanita itu,kau tahu apa yang telah kau lakukan hari ini?,kau dengan seenaknya meninggalkan kantor hanya demi mencari Luna"


"Apa maksudmu berbicara begitu? wanita itu kau bilang, Luna itu istriku .,dia juga istriku..,dia juga tanggung jawabku, dan apa kau tahu dia itu sedang mengandung anakku sekarang,aku harus mencarinya agar dia kembali"


"Cih.. istrimu kau bilang?, tanggung jawab mu kau bilang?,dari dulu kau kemana mas?,kau yang menikahinya dan kau juga yang membuatnya pergi darimu kan,dan sekarang kenapa kau malah mencarinya?,apa kau yakin Luna akan menerimamu kembali jika kau menemukanya?, lupakan dia,dan belajarlah hidup bersamaku saja!"


"Tidak bisa Swara,aku mencintai Luna.."


"Mas,memang apa kurangnya aku?,aku sudah memberikanmu segalanya yang aku miliki, bisakah kau menghargai ku dan hanya mencintai aku saja?"


"Ini soal perasaan Swara, bukanlah materi, terserah kau mau bilang apa sekarang,pergilah jika memang kau sudah bosan bersamaku.."Alfian akan pergi meninggalkan ruangan ini.


"Mas..mas..kamu mau kemana lagi mas?,..mas..huek...huek.."Kali ini Swara tidak bisa menahan mual-nya lagi,ia benar-benar merasa pusing tiba-tiba karena mungkin terlalu marah-marah.


"Swara..?"Alfian yang sudah memberhentikan langkahnya dan menatap istrinya yang sedang mual itu.


"Kenapa aku jadi pusing... Brrughh...."Swara pun tiba-tiba pingsan begitu saja di hadapan Alfian di ruangan ini.

__ADS_1


__ADS_2