Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Kabur


__ADS_3

"Apa ini?,kau ingin mencoba mempermalukan suami mu hah?"Berbicara tinggi,ia benar-benar sangat marah.


"Tidak mas, aku tidak ada niatan untuk memperlakukanmu, memang apa yang aku lakukan?"


"Cih, masih belum merasa bersalah juga, jam berapa ini?, kenapa kau baru pulang?,kau habis bersenang-senang?,iya kan?"


Keduanya bertatapan lekat, entah kenapa setiap kali bertatapan dengan istrinya jiwanya itu bergetar, seolah-olah ia tidak ingin bersikap seperti ini kepadanya.


Namun di sisi lain ia harus bersikap seperti ini untuk membalaskan dendamnya yang sekian lama di rancang itu.


"Dan apa tadi?, darimana kau kenal lelaki itu?, siapa dia?, selingkuhan mu?, beraninya.."menyudutkan Luna yang sedang terduduk di ranjang.


"Bukan mas,dia itu dokter yang menolongku.."


"Menolong mu?,alasan!, memangnya kau ini kenapa?, bukankah kau sehat-sehat saja?.."


Luna benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi suaminya ini,ia hanya bisa menatapnya lekat sambil berkaca-kaca matanya.


"Tak usah menangis!,aku tidak menyuruhmu untuk menangis, jangan sampai kau menangis di hadapan ku!, sekarang kau bersikap seenaknya hah?,main pergi begitu saja tanpa izin dari suami mu, dasar lancang!, kau pikir kehidupan mu enak sekarang?.."


"Aku hanya ingin keluar sebentar ke gang depan,aku hanya ingin membeli makanan, sudah hanya itu saja, karena aku merasa lapar..."


"Membeli makanan?, lapar?, bukankah kau sudah masak tadi pagi, kenapa kau dengan borosnya membeli?...."


"Apa kau tahu?, semua makanan yang aku masak di buang oleh istri kedua mu,aku juga lapar,aku juga ingin segera makan,masa aku harus memasak kembali?,kau pikir aku tidak capek..."Terbawa emosi Luna,ia terlihat sesekali menintikkan air matanya lalu mengusapnya dengan cepat.


"Sekarang kau menyalahkan Swara?, jelas-jelas ini semua salahmu!, bagaimana bisa kau menyalahkan Swara tentang ini"


"Kau tidak percaya denganku?,kau tidak memiliki perasaan sedikit saja untukku.. hiks.. hiks.., setidaknya kasihanilah aku sedikit saja, yang sedang mengandung anak mu ini mas..."Tak sanggup lagi menahan air matanya,ia juga merasa sangat kesal dan terhina.


"Kau boleh membenciku sekarang,tapi setidaknya kau tahu, bukan aku wanita yang ada di foto itu.."


"Apa lagi ini, sekarang membahas tentang foto,kau masih menyangkalnya hah?, bukankah jelas-jelas itu adalah wajah jelek mu..."Berbicara sambil memegang dagu dan menatapnya tajam.


"Jangan pernah sekali-kali kabur dariku,jika tidak kau akan tahu akibatnya.."


"Kenapa?, untuk apa aku terus bersamamu,aku lelah, aku sangat lelah.."Beranjak berdiri dari duduknya,ia berniat untuk pergi meninggalkannya.


"Kau mau kemana?"menahan tangannya agar tidak pergi.


"Lepaskan!, bukan urusanmu, kemana pun aku kau tidak perduli kan..."mengibaskan tangan suaminya dan berlari meninggalkan ruangan kamarnya ini untuk pergi lagi.


"Luna..."Teriakan Alfian yang begitu kesal dan mengejar Luna yang berlari itu.


Kau pikir aku ingin hidup bersamamu seperti ini, tidak mas,aku tidak sanggup lagi..


Berlari begitu cepat dan segera membuka pintu gerbang dengan terburu-buru.Ia benar-benar seperti sedang di kejar mafia kejam.


Aku harus ngumpet,aku tidak boleh terus berlari,

__ADS_1


Merasa letih sambil memegangi perutnya,ia bahkan menangis sambil bersembunyi di balik mobil yang terparkir di tepi jalan ini, ia berharap suaminya tidak akan menemukannya.


Merasa panik sendiri Alfian,ia sudah tidak melihat keberadaan istrinya lagi di jalanan komplek.


Dia kemana?, kenapa cepat sekali,


beraninya dia kabur dariku,


Kemudian ia segera mengambil mobilnya dan mencarinya dengan mobil.


"Hiks.. hiks.."Menangis tak bersuara di tepian mobil itu.


"Apa yang kau lakukan?"begitu kaget Luna,ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan suaminya lagi.


Luna hanya ketakutan sambil menggelengkan kepalanya,ia bahkan tidak berani menatap lelaki ini.


"Pergi aku tidak ingin ikut denganmu, pergi.. pergi.. hiks..hiks"


aku tidak ingin bertemu denganmu, pergilah aku mohon


"Apa yang kau lakukan Luna?,ada apa denganmu?, kenapa kau menangis?..."sedikit berbeda dari suara suaminya, membuatnya tergoyah dan langsung menatap lelaki itu pelan-pelan.


"Hiks..hiks.. hiks.."Hanya bisa menangis sesenggukan menatap Edward.


Terimakasih yang berdiri di sampingnya adalah Edward.


"Apa yang terjadi padamu?, suami mu melukaimu?"


"Baiklah,aku tidak akan bertanya-tanya lagi, tenanglah!,kau tidak papa kan?..."


Menangis tak bersuara karena merasa begitu sedih, hanya sesenggukan tangisnya saja yang terdengar begitu menyedihkan menurut Edward.


Apa yang di lakukan lelaki itu?, kenapa dia sampai menangis begini,


Apa yang harus aku lakukan, bagaimana cara untuk menenangkannya,aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menangani wanita,


"Sudahlah jangan menangis"membelai kepala dengan kaku namun terasa lembut di rasakan Luna.


Ia masih menangis karena sedang menguras seluruh perasaan yang sedang ia rasakan saat ini.


"Ini sudah sangat malam,kau mau kemana?"


Menggelengkan kepalanya,ia juga tidak tahu ia harus pergi kemana.


"Ke..ke..kenapa kau masih disini?"terbata-bata bertanya menatap Edward dengan raut wajah yang tidak bisa di kondisikan lagi.


"Aku hanya males pulang,aku hanya ingin memenangkan diri disini, jadi aku masih disini.."


Luna langsung berdiri dari duduknya,ia harus segera kabur lagi sebelum suaminya menemukanya.

__ADS_1


"Kau mau kemana.."Menahan tangan Luna yang akan pergi lagi.


"Ma..mau pergi..aku..aku mau.. mau pergi"Sesenggukan di tenggorokannya benar-benar menggangunya saat berbicara,ia juga masih menangis berderaian.


"Aku mohon lepaskan aku..aku mau pergi!"


"Mau pergi kemana?,ini sudah malam Luna.."


"Aku tidak tahu,intinya aku mau pergi..,aku ingin pergi..aku mau pergi..hiks.. hiks.."Edward benar-benar terbawa suasana kali ini,ia sangat merasa tidak tega dan tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja.


"Iya..iya.. aku akan membawamu pergi!, tenanglah, Jangan menangis..."Pelukan Edward dengan hangat mendarat begitu saja memeluk Luna.


Ia benar-benar merasa tidak tega dan ikut sedih melihatnya yang menangis sesenggukan.


Membuat Luna terdiam seketika,tapi tidak ada perasaan apapun di dalam dirinya sekarang, karena ia sedang merasa begitu sedih dan tertekan.


"Masuklah!, ayo kita pergi dari sini sekarang.."membuka pintu mobil dan menuntun Luna untuk masuk ke dalam mobil.


Sungguh tak terbayangkan ia akan bertemu dengan dokter baik ini lagi.


Ia kira hidupnya akan hancur setelah kabur dari rumah.


Bahkan saat berlari tadi Luna sudah membayangkan dirinya yang akan menjadi gelandangan jalanan nantinya.


Lalu aku bawa dia kemana?, tidak mungkin kan aku membawanya untuk tinggal di rumah sakit.


Dengan tajam gas dan kecepatan normal Edward mengendarai mobilnya.


Entahlah dia akan membawa Luna kemana, yang jelas pergi jauh dari suaminya.


Waktu benar-benar sudah begitu malam, bahkan hampir menuju sepertiga malam mereka berdua masih berada di jalan.


Edward langsung memotong jalan untuk kembali ke rumahnya.


Entahlah,mau tidak mau aku harus membawanya ke rumah,ke apartemen pun tidak mungkin,


yang ada aku akan bolak balik kesana untuk menjenguknya.


kasian juga jika dia sendirian..,


"Ddrrrttt.."Pesan masuk dari Edwin ke ponselnya.


"Kak,kakak kemana?, kemana jam segini belum pulang?, bukankah kakak sudah keluar dari rumah sakit pukul setengah 8?"


Belum sempat membalas, Karena di masih sibuk menyetir.


Setelah 7 menit kemudian ia sampai tetap di depan rumah megahnya, sementara satpam dengan hormat membukakan pintu.


Ini rumah siapa?,ini rumahnya?

__ADS_1


Tegang sebenarnya Luna karena ikut dengannya,ia merasa tidak enak hati dan gelisah sendiri jadinya.


__ADS_2