
Alfian keluar dengan penuh kekecewaan dari gedung kantor polisi ini.
Ia merasa begitu kesal karena belum mendapatkan informasi sedikitpun dengan keberadaan istrinya yang sekarang.
Sementara polisi yang berhadapan dengannya tadi sedang melaporkan tentang tugasnya kepada Tuan besar.
Alfian tidak tahu jika ada yang menghalangi usahanya ini untuk bertemu dengan istri pertamanya, yaitu ayah mertuanya.
Sebenarnya untuk pihak kepolisian sendiri sudah menemukan beberapa informasi sedikit tentang keberadaan istrinya yang sekarang.
Namun karena Tuan besar yang mencoba menghalanginya membuat beberapa pihak polisi yang bertugas di kantornya langsung menutup mulut mereka rapat-rapat.
Luna kamu dimana?,
kamu baik-baik saja kan,kau tidak kenapa-napa kan..,
Merasa lemas sendiri dengan semua ini,ia juga merasa begitu lemas sambil menundukkan dirinya di tengah-tengah jalan karena merasa begitu gelisah.
Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?,
dimana aku harus mencari Luna sekarang, dia benar-benar pergi ke mana si,
"Permisi Tuan Muda,mari ikut kami!" Beberapa pengawal Tuan besar telah sampai di lingkungan ini dan langsung berusaha untuk membawa Tuan mudanya masuk ke dalam mobil.
"Apaan si?, lepaskan!,apa yg sedang kalian lakukan hah?"
"Mohon maaf Tuan muda, anda harus segera kembali ke rumah"
"Lepaskan aku!,aku tidak ingin kembali ke rumah,dan aku juga paling tidak suka di paksa,jadi lepaskan"
"Kami hanya menjalankan tugas dari Tuan besar,jadi anda harus tetap ikut kami!,mau tidak mau kami harus paksa anda!"
Bersikeras untuk membawa Alfian masuk ke dalam mobil.
"Tidak bisa,aku harus mencari Istriku.."
"Itu terserah anda!"Ketua pengawal itu langsung saja memborgol tangan Alfian.
"Hey..hey.. hey..apa yang kalian lakukan?, berani sekali kau melakukan ini kepadaku, kalian pikir aku ini tahanan hah!"
"Maaf Tuan muda, mungkin sekarang kami hanya bisa memaksa anda..."
"Kalian gila yah?"
Para pengawal itu tidak mendengarkan perkataan Tuan muda, mereka hanya bisa memaksa Tuan mudanya agar segera masuk ke dalam mobil.
"Buka pintunya!,woy buka..., brengsek!"
Merasa kesal sekali Alfian di perlakukan seperti tahanan.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang keduanya sampai juga di halaman rumahnya.
Bunyi telefon berdering di sakunya.
"Lepaskan aku!,gila yah, kalian tidak dengar aku ada telefon!"
Telfon keburu mati dan Alfian belum sempat mengangkatnya.
Kemudian ponsel ketua pengawal itu berdering karena mendapat panggilan telefon juga.
"Ini Tuan muda, panggilan yang tertunda anda, maafkan saya..!"
Sial, ternyata dia tahu juga Papa yang telfon.
"Halo.."
"Alfian!, jangan pergi sebelum papa kembali pulang,jika tidak kau akan menerima akibatnya!,Papa tidak sedang main-main,kau dengar itu.."Tut.., panggilan mati begitu saja.
Cih,ia mengancam ku sekarang,
"Minggir!"menyingkirkan anak buahnya dari hadapannya itu dan masuk ke dalam rumah dengan kesal.
"Sayang..."Swara terlihat tersenyum melihat kembalinya suaminya.
Hanya menatap sinis istrinya dan masuk ke dalam kamar begitu saja.
Melihat keadaan kamar yang begitu berantakan membuat Alfian semakin kesal dan menggelengkan kepalanya.
"Iya maaf, karena aku kesal, kenapa kau tidak mau mengerti perasaanku sedikit saja Alfian?..."
"Cih..,aku sangat mengerti perasaanmu,kau hanyalah wanita yang mengandalkan kekayaan mu demi dirimu sendiri"
"Oke oke,apa yang harus aku lakukan supaya kau menerimaku?,apa aku harus menggugurkan kandunganku supaya kamu mau menerima ku dengan baik Alfian?.."
"Kau gila?,apa kau semakin gila sekarang?,kau sudah membuatnya, seharusnya kau merawat dan mempertanggung jawabkan-nya, percuma saja kau menggugurkannya, ini tidak akan merubah dirimu dan perasaanku,kau mengerti!"
"Lagian bayi itu tak bersalah,buat apa kau menggugurkannya?,ini semua salah mu!"
Terlihat begitu benci dari tatapan yang Alfian berikan melotot tajam kepada istrinya itu.
"Kau tidak ingin memberikan kesempatan sedikit saja untukku hanya karena ini..hah?"Terlihat berkaca-kaca sekali Swara, sepertinya ia benar-benar sangat mencintai Alfian.
"Tidak usah menatapku seperti itu percuma,dan aku juga muak berbicara denganmu sekarang.."
Langsung berjalan menuju ke arah kamar mandi untuk meninggalkan istrinya dan menutup pintunya begitu saja.
"Alfian,aku tahu aku salah,aku tahu aku kotor, tapi setidaknya percayalah aku sangat mencintaimu Alfian,Alfian...thok..thok..thok,hiks.. hiks.."Berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.Ia berharap mendapatkan sahutan dari suaminya yang berada di dalam kamar mandi itu.
Semua orang pasti memiliki salah dan kesalahan, tidak ada yang bersih dan suci di dunia ini.
__ADS_1
Namun karena amarah Alfian yang terlalu besar hingga membuatnya masih tertutup awan hitam dan tidak menyukai Swara.
*****
Waktu sudah semakin siang.
Mereka semua masih berada di ruangan rumah sakit ini untuk menunggu kesadaran Luna.
"Edward,coba kau yang periksa keadaan Luna, apakah ada tanda-tanda kesadarannya untuk kali ini,mau sampai kapan kau lemas?,kau menyukainya?"
Pinta ibunya Edward yang justru sejak tadi malah tidak tenang sendiri melihat Luna yang belum sadar juga.
"Sudah aku cek mah, kondisinya sudah lebih membaik,mungkin sebentar lagi ia akan sadar"
"Kau belum menjawab pertanyaan mama?,kau menyukainya?"
"Aku menyukainya atau tidak itu tidak penting ma, lagian mama tidak akan setuju juga kan?, mama pasti akan tetap melanjutkan perjodohan ini"
"Jika kau berpikir begitu maka katakan!, kau menyukainya?,kau menyukai Luna kan?"
Hanya terdiam Edward, untuk suasana seperti ini ia tidak ingin berbicara dan membahas soal perasaannya.
"Kenapa kau terdiam?,bilang yang sebenarnya kepada mama, mulai sekarang mama tidak akan memaksakan perasaanmu lagi"
"Jujur saja... Edward memang menyukai Luna ma,tapi jika mama tidak setuju apa boleh buat,aku tidak bisa melakukan apapun selain membuat mama merasa senang..."
Membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan tidak bersemangat.
Ia bahkan memejamkan matanya karena merasa ngantuk kurang tidur semalam.
"Edward.."Mendekati putranya yang sedang lesu itu.
"Jika kau mencintainya apa boleh buat, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan mama juga, mama akan mendukung mu.."
Terbelalak,lalu beranjak berdiri dari tidurnya karena tidak percaya.
"Mama yakin?,apa yang membuat mama tiba-tiba berubah pikiran seperti ini?"
"Luna wanita baik, nenekmu juga menyukainya, saat kalian berdua pergi keluar omah terus bertanya-tanya tentang Luna, sampai mama tidak bisa menjawab,"
"Benarkah?"Sedikit terlihat senyuman yang sudah melintas di bibirnya."Tapi bagaimana dengan papa?..."
Menatap ayahnya yang sedang sibuk memainkan ponselnya tanpa ekspresi.
"Semuanya tergantung pada mu Edward,papa hanya bisa mengikuti mu, namun satu hal yang kau ingat!, jangan pernah memaksakan tentang perasaannya untukmu, karena dia masih istri orang"
"Iya Pa,aku tahu..,aku akan bersabar menantinya sampai ia mencintaiku.."
"Ya sudah, perjuangkan cintamu, jangan menyerah sebelum berjuang dan berusaha, tugasmu sekarang adalah buat ia jatuh cinta dan merasa nyaman denganmu..!"
__ADS_1
Tersenyum Edward, mendengar perkataan kedua orang tuanya yang turut mendukungnya mebuatnya merasa bersemangat.