Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Persalinan Luna


__ADS_3

Di ruang tengah alias ruang bersantai terlihat Natria sedang memegang gelas minumnya sambil melamun. Bahkan roti yang sedang Ia makan pun terlihat tergeletak di atas meja dan tinggal setengah.


Matanya tertuju pada suatu arah yang terlihat tak menentu, tentunya karena ia sedang melamun itu.


Edwin baru saja turun dari lantai atas,ia juga melihat istrinya yang melamun itu.


Kemudian menghampirinya perlahan.


"Pagi sayang, muach..."Mencium kening istrinya di pagi hari seperti biasa. Tingkah laku Edwin sama sekali tidak berubah sedikitpun kepada istrinya.


Natria tersenyum kecil,lalu menyeduh kopi dan menyiapkan roti untuk suaminya breakfast.


Edwin juga tahu apa yang di pikirkan istrinya itu, pasti tentang penyakit dan kabar tentang dirinya yang tidak bisa hamil.


"Sayang..."Edwin mencoba memegang tangan Natria dengan lembut di atas meja."Jangan terus melamun seperti ini, jangan terus di pikiran,aku juga tahu akan perasaanmu,tapi percayalah kau pasti sehat dan suatu saat kita pasti akan memiliki anak dari Tuhan"


"Kau yakin itu?.."


"Percayalah sayang.., yang memiliki segala itu Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini,ini hanyalah perkiraan tenaga medis,aku tidak pernah yakin atas itu"


Natria langsung tersenyum sambil meneteskan air matanya menatap Edwin, ia terlihat sedih sekali.


Tapi jika inilah kenyataannya bagaimana?,apa aku harus menyuruhmu menikah lagi?. Aku tidak bisa berbagi cinta dengan yang lain Edwin!,dan aku juga tidak bisa jika kau terus bersamaku lalu tidak memiliki keturunan.


"Hey, kenapa kau masih menangis juga?. Kau tidak percaya padaku". Edwin mengusap lembut pipi Natria yang bercucuran air mata itu.


"Iya aku percaya,aku sangat percaya Edwin. Aammiin, semoga saja seperti itu"Natria langsung tersenyum kembali walaupun ia sama sekali tidak bisa menutupi kesedihannya.


"Aku tidak ingin kau banyak pikiran!. Aku ingin kau rileks dan semangat,ini akan mengganggu sekali kesehatanmu juga,aku tidak ingin itu"


Ya Tuhan, kasihanilah istriku,aku tidak ingin melihatnya terus-terusan sedih begini,aku percaya... aku dan istriku pasti akan memiliki anak di suatu saat nanti.


Ponsel Edwin bergetar tiba-tiba, sepertinya ada panggilan masuk yang sangat penting. Tertera dari nama yang tercantum di layar ponselnya itu.


Edwin segera mengangkatnya lalu berbicara serius dengan orang yang menelponnya itu.


Kemudian setelah selesai dengan urusannya ia terlihat memegang kepalanya sejenak.


"Ada apa sayang?,kau ada acara ke luar kota?"


"Iya sepertinya aku harus pergi ke kota xxx hari ini, karena meeting kemaren tertunda jadi aku harus mengeceknya secara langsung ke sana"


"Berapa hari?"

__ADS_1


"Hanya 2 hari Natria, itupun pasti kurang dari dua hari"


"Iya sudah baiklah, yang penting hati-hati saat bekerja, jangan lupa untuk selalu menghubungiku"


"Pasti.."


-------------


"Sayang kamu mau lari yah?,ikut...!"


"Ngaco!,kamu kan lagi hamil kok mau lari"


"Iya aku mau jalan sehat biar bisa jemur badan juga,kamu yang lari lah Yang.."


Ingat ya bunda, selama masa kehamilan berjemur di bawah sinar matahari sekitar waktu pagi jam 7 hingga menjelang jam 9 pagi itu sangatlah bagus untuk kesehatan.


"Iya udah kalau gitu kita sama-sama jalan,gak mungkin kan aku ninggalin kamu jalan,terus akunya lari.."


"Tapikan aku jalannya lama, entar kamu gatel lagi pengin lari"


"Iya aku ngertiin kamu lah Luna, kamu kan lagi hamil, jadi harus jalan seperti kanjeng ratu..."


"Hehe.. bisa saja kamu yang"


"Sayang..."


"Hmm?"


"Sampai detik ini aku masih selalu memikirkan tentang Natria,apa Natria benar-benar tidak bisa hamil?,aku merasa sedih sekali mendengar hal ini, lalu bagaimana dengan perasaan Natria saat ini, pasti dia merasa sedih sekali"


"Berdoa saja yang terbaik untuk Natria dan Edwin, semoga saja ini hanya perkiraan medis, selama Natria masih memiliki rahim tempat membuahi, pastinya masih ada kesempatan untuk bisa memiliki keturunan kan, segala keajaiban bisa terjadi kapan saja,dan tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini di tangan Tuhan, semuanya bisa saja terjadi"


------------


Tepat hari ini di mana sebulan sudah berlalu begitu cepat.


Perut Luna yang makin membesar itu mengalami kontraksi kandungan di ruang makan di mana rumah mereka berada.


Mungkin saja Luna akan segera melahirkan hari ini.


Edward yang tampak santai memakan buah di piring langsung panik dan mendekati istrinya yang tiba-tiba mules itu.


Padahal keduanya baru saja membahas tentang persalinan dan anak.

__ADS_1


Kaki dan pergelangan kakinya sudah terlihat begitu besar dan membengkak.


Tanpa pikir panjang lagi Edward langsung melarikan istrinya ke rumah sakit berserta supirnya.


Beberapa saat kemudian rasa mules di perutnya pun kembali ia rasakan terus menerus.


Ada raut wajah seseorang lelaki yang tampak berkaca-kaca karena panik bercampur gelisah dan khawatir bersatu padu menjadi satu.


"Kau tidak papa kan sayang?,kau pasti kuat"


Edward sedang mengusap-usap kening istrinya yang bercucuran keringat itu.


Luna terlihat memejamkan matanya sambil menarik napas panjang terus menerus untuk menahan rasa sakit di perutnya.


Sesekali tangan Luna terlihat meremas pergelangan Edward untuk melampiaskan rasa sakit di perutnya itu.


Namun senyuman kembali muncul sesaat dari istrinya untuk Edward sambil meminta minum.


"Aku haus yang.."


"Tunggu sebentar ya sayang"


Setelah di periksa dokter,Luna sudah memasuki pembukaan 4. Itu artinya persalinan sebentar lagi pasti akan segera terjadi.


Para keluarga Edward dan Luna sudah berbondong-bondong datang ke rumah sakit itu termasuk Nadia dan Edwin.


Mereka tampak berkumpul di ruangan VVIP yang bersebelahan dengan kamar persalinan Luna untuk menunggunya.


Mules datang lagi dan lagi. Rasanya tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Ini memang sangatlah sakit.


Hanya seorang ibu yang bisa merasakannya. Bahkan mata Luna kali ini pun terlihat berderaian menahan mulas dan rasa sakitnya itu,ia ingin sekali segera mengeluarkan apa yang sedang ia rasakan sekarang ini.


Beberapa jam telah berlalu, mungkin proses persalinan ini sedikit lama dan panjang. Tapi kali ini tepat pukul setengah 11 malam Luna sudah melewati pembukaan 9. Rekan dokter dan suster pun bergegas untuk menyiapkan peralatan persalinan yang belum lengkap.


Mereka terlihat memakai sarung tangan untuk segera memulai persalinan.


Edward dengan senantiasa menemani istrinya Luna untuk bersalin.


Sementara keluarga keduanya sedang berdoa untuk keselamatan dan menantikan kelahiran cucu pertama mereka itu.


Kini kembali lagi dengan perasaan Natria sekarang. Ia merasa sangat senang ponakannya akan lahir,tapi sebagian hatinya ia juga merasa ingin untuk memiliki anak dan keturunan seperti Luna kakak iparnya.


Terlebih keluarga Edwin dan keluarganya sendiri pun belum tahu jika ia memiliki sakit yang harus menjalani operasi dan ia mengalami kemandulan.

__ADS_1


__ADS_2