Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Perhatikan Edward


__ADS_3

Ketika Edward berada di ruang ganti kebetulan ada panggilan masuk dari nomor asing.


Karena merasa penasaran akan itu membuat Edward segera mengangkatnya.


Ia juga takut jika panggilan itu dari pasien darurat lainnya yang tiba-tiba menelpon.


Setelah di dengar,ada suara laki-laki yang terdengar santai memanggil namanya.


"Halo Edward,masih ingat aku?"


"Siapa kau?, jangan membuang waktuku untuk hal yang tidak penting!,karena aku harus menangani pasien"


"Aku Demian, masih ingat aku kan?"


"Demian?. Cihh,dari mana kau dapat nomerku ini?"


"Tak penting darimana,aku hanya ingin mengatakan sesuatu hal yang penting denganmu"


"Cepat katakan!, jangan terlalu banyak bertele-tele,aku tidak ada waktu untuk melayani mu!"


"Cihh,Aku hanya heran denganmu, bagaimana bisa kau menelantarkan Luna di restoran dan tidak bisa membayar makanannya?"


"Maksudmu?"


"Kebetulan aku bertemu dengannya makan siang tadi di restoran xxx,tapi aku lihat Luna tidak bisa membayar makanannya yang sudah ia pesan bersama nenekmu,apa kau tidak memberinya uang?,pelit sekali!"


"Sembarangan,jangan asal bicara kamu!, bahkan kartu debit ku pun sudah aku serahkan padanya, tidak mungkin Luna tidak bisa membayarnya,kua gila!"


"Terserah kau saja percaya kepadaku atau tidak!, yang jelas tanyakan saja pada istrimu nanti!. Lain kali lebih memperhatikan dia lagi Edward, jangan mempermalukannya di depan umum, terlebih itu istrimu, sungguh memalukan!, haha...Tut"


Demian terlihat tertawa senang dan kemudian mematikan panggilannya di ujung kata.


Sebenarnya Edward merasa tidak percaya dan merasa begitu kesal dengan ucapan Demian tadi.


Namun ia harus segera menangani pasien yang sedang kritis di rumah sakitnya itu.


Jadi ia memutuskan untuk menenangkan dirinya dan kembali bekerja untuk menangani pasiennya.


-------------


Ternyata Edward pulang lebih awal hari ini.


Raut wajahnya terlihat murung dan kesal.


Bahkan senyuman pun sama sekali tidak menyertainya.


Ia terlihat menenteng tas leptopnya dan alat medis lainnya, kemudian menaruhnya begitu saja ke kursi ruangan depan.


Sementara Luna membawa sepiring buah segar untuknya makan sore.


Melihat suaminya yang tiba-tiba pulang juga membuatnya kaget dan heran.


"Sayang, kamu sudah pulang?, kenapa kamu tidak memberitahuku dulu kalau kamu pulang lebih awal?"


Edward masih terdiam.


Raut wajahnya masih tampak masam seperti tadi.

__ADS_1


"Kamu bertemu dengan Demian tadi siang?"


Ehh... darimana ia tahu hal ini?


"Darimana kamu tahu?"


"Bagaimana bisa dia membayari makan siang mu hari ini?, bukankah aku sudah memberimu kartu debit, kenapa sampai ia yang membayarnya, dimana kartu debit mu Luna?"


Baru kali ini dan baru pertama kali juga Edward terlihat marah kepada istrinya itu.


Luna tidak pernah melihat suaminya bersikap seperti ini sebelumnya,ini membuatnya sedikit takut dan nafsu makannya menghilang tiba-tiba untuk memakan buah.


"Maafkan aku sayang,tadi kartunya ketinggalan. Oma juga tidak membawa tasnya,aku benar-benar tidak sengaja,dan aku juga tidak tahu jika Demian juga makan di situ juga"


"Bagaimana bisa ketinggalan?"


"Maafkan aku sayang, aku terlalu ceroboh karena terburu-buru tadi"


"Tapi kenapa kamu harus menerima uang darinya?, kemana supir?, kenapa kamu tidak menyuruh supir saja untuk mengambil uang ke rumah?"


"Jaraknya kan jauh sayang, lagian tidak mungkin juga jika supir harus mengambil uangnya dulu ke rumah"


Sebenarnya siapa yang memberitahu semua ini padanya, apakah Demian sendiri yang memberikannya?.


Tidak mungkin Oma kan!.


"Lalu kenapa kamu tidak menelepon ku lebih dulu untuk membayarnya?,aku bisa langsung transfer kan Luna!"


"Aku takut kamu sibuk,aku juga takut kamu sedang menjalani operasi pasien, nanti kamu malah jadi tidak fokus saat bekerja gimana?"


"Seberapa susahnya transfer Luna, hanya tinggal pencet saja kan!"


Edward masih terdiam, hari ini benar-benar membuatnya kesal.


"Kenapa kamu pulang tiba-tiba marah sekali kepadaku Edward?. Aku kan juga tidak ada niatan untuk menerima uang darinya untuk membayar makanan itu. Lagian bukan hanya aku dan Oma saja yang menerimanya. Tapi semua tamu yang ada di situ juga di bayari Demian, maafkan aku..."Luna terlihat berkaca-kaca melihat suaminya yang begitu marah kepadanya.


"Lain kali jangan melakukan hal ini lagi!,di usahakan jangan lupa dengan uang ataupun kartu kemanapun itu!, terlebih jika harus Demian orangnya!"


"Iya sayang, maafkanlah aku.."


"Kamu tahu kan aku sangat membenci Demian,aku tidak ingin kamu berhubungan lagi dengannya"


"Iya sayang maafkan aku,aku juga tidak ingin seperti itu, maafkan aku yah..aku mohon maafkan aku sayang"


Edward masih terdiam dan hanya menatap istrinya lekat.


Melihat istrinya yang sudah berkaca-kaca juga membuatnya tidak tega.


Terlebih ia juga sedang hamil dan mengandung anaknya.


"Maafkan aku Edward, kenapa kamu diam saja?,kau tidak mau memaafkan ku?, maafkan aku aku mohon.."


"Iya iya sayang baiklah"


"Kenapa kamu menyebalkan sekali hari ini"


"Sudahlah, makanlah buahnya,aku akan membersihkan diri"

__ADS_1


"Tapi kamu maafin aku kan?"


"Iya,asal tidak lagi!,kau paham itu?"


"Iya sayang"


Seumur hidupku aku belum pernah melihat Edward semarah ini, maafkan aku Edward.


-------------


Malam telah larut.


Kali ini Luna terbangun dari tidurnya.


Ini mungkin adalah kebiasaannya setiap malam.


Semenjak kehamilannya itu ia selalu merasa lapar di malam hari. Sementara setiap pagi sampai petang ia tidak pernah merasa lapar ataupun memiliki nafsu makan.


Hanya makan tertentu saja yang dapat ia makan seperti buah-buahan di siang hari.


Edward tampak tertidur pulas di atas ranjang.


Kali ini Luna tidak ingin mengganggunya, karena suaminya sudah capek kerja seharian,jadi biarkan dia istirahat dengan tenang, pikirnya.


"Dimana bubur ayamnya?, kenapa tidak ada?"


Lama Luna mencari di dalam kulkas, namun ia tidak menemukannya.


Hingga ke berisikan mulai terdengar di telinga Edward.


Dia sedang apa malam-malam begini?, pasti dia merasa lapar!


Edward memang merasa ngantuk. Tapi tidak dengan perasaannya yang tidak bisa membiarkan istrinya kelaparan di tengah malam.Terlebih ia sedang mengandung anaknya sekarang. Jadi ia harus siap menanggung segala konsekuensinya.


"Apa yang sedang kamu cari Luna?"


"Hah!. Edward?. Apa aku mengganggu tidurmu?"Luna kaget melihat kehadirannya yang tiba-tiba itu.


"Jangan menanggung beban mu sendirian sayang, mintalah bantuan kepada suamimu selagi aku mampu"


"Aku hanya takut kamu lelah bekerja seharian,aku tidak tahu kenapa setiap malam aku selalu merasa lapar"


"Orang mengandung memiliki banyak konsekuensi dan keinginan yang berbeda-beda sayang, jadi wajar jika kamu seperti ini, bukankah ini ulahku juga?,jadi aku harus bertanggung jawab"


"Hehe.."Luna tersenyum mendengar kata-kata suaminya yang menyentuh hati itu.


"Aku hanya ingin makan bubur ayam,tapi kenapa tidak ada di sini?"


"Oops sorry sayang, sudah aku habiskan"


"Ih.. sayang..."


"Iya sudah aku belikan lagi untukmu 1 porsi yah"


"Jangan ini sudah malam!,kamu jangan keluar lagi nanti kecapean"


"Tidak,aku pesen delivery saja, untungnya buka 24 jam"

__ADS_1


Semua yang di lakukan Edward adalah bentuk kasih sayangnya terhadap istrinya.


Terlebih istrinya yang sedang hamil jadi wajib di muliakan dan di perhatikan lebih.


__ADS_2