Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Kedatangan Edward


__ADS_3

Segala aktivitas kantor yang di lakukan-nya hari ini tidak seperti biasanya yang selalu mulus dan berjalan lancar.


Pikiran Alfian tak berhenti memikirkan tentang keadaan hidupnya yang akan bercerai dengan istri pertamanya itu.


Sungguh ia masih tidak percaya akan ini,ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi saat berkerja di kantor.


"Luna sungguh akan menceraikan ku,dia benar-benar tidak memiliki rasa cinta sama sekali untuk ku lagi,apa yang telah aku lakukan, bagaimana caranya supaya ia tidak jadi menceraikan ku..."


Setiap harinya Alfian tidak memiliki senyuman bahagia seperti dulu lagi, ia selalu memikirkan Luna dan terus memikirkan Luna.


Sampai ia merasa stress dan depresi, terlebih ia juga memiliki istri yang sedang mengandung anak orang,ini yang membuatnya tidak bisa tersenyum lagi apalagi mencintainya.


Walaupun usaha keras Swara selama ini selalu ia tunjukan dan berikan kepadanya.


Namun tetap saja ia tidak memiliki selera untuk melayaninya.


*****


Luna tidak tahu lagi harus pergi kemana


Setelah pergi dari kantornya itu.


Ia tidak ingin kembali ke rumahnya dulu.


Pasti jika kedua orang tuanya mengetahui hal ini mereka juga akan ikut kecewa sama halnya seperti perasaan Luna saat ini.


Kenapa hidupku begitu rumit ya tuhan,


aku hanya ingin melepaskan Alfian jauh-jauh dari kehidupanku,


tapi kenapa rasanya susah sekali untuk mencari dana agar aku bisa menceraikannya secepatnya.


Luna bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.


Mencoba melamar di perusahaan lainpun harus menunggu beberapa waktu lama lagi untuk interview sebelum ia di terima.


Lalu habis itu Ia juga harus berusaha beradaptasi dan perkenalan lagi di lingkungannya yang baru.


Aku tidak boleh menyerah,aku tidak boleh putus asa,aku percaya engkau selalu bersamaku yang Tuhan,


di mana pun Aku berada dan membutuhkan mu, engkau selalu ada untukku,


"Drettt... Ddrrrttt..."Ponsel bergetar, tanda panggilan masuk di ponselnya itu.


"Edward..."


Dia benar-benar ada di saat aku merasa kesepian dan membutuhkannya.


"Halo... Edward.."Panggilan lembut Luna, seraya menintikkan air mata merasa sedih sekaligus senang atas panggilan Edward.


"Luna..,aku kira kau sibuk, aku hanya ingin mengajakmu makan siang nanti,apa kau tidak keberatan?..."


"Edward...,apa aku boleh menemui mu sekarang?,aku tidak ingin pulang, apa kau sedang sangat sibuk di rumah sakit?"Malah bertanya balik, suaranya juga terdengar serak basah.


Hal ini membuat Edward mengerutkan dahinya.


"Kau tidak berkerja?,apa kau menangis?, dimana dirimu sekarang.."


"Tidak,aku sudah kehilangan pekerjaanku"

__ADS_1


"Luna kau dimana?, akan aku jemput"


"Tidak usah Edward,biar aku yang kerumah sakit saja.."


"Serlok alamatnya sekarang!,aku kesana.."


"Tapi.."


"Serlok Luna!"


"Baiklah.."


*****


Di dalam ruangan ini terdapat pemuda tampan yang sedang terdiam di kursi putranya.


Matanya memang menuju ke arah layar leptopnya,tapi tidak dengan pikirannya yang sedang berpikiran ke arah lain.


Wanita itu keras kepala, dia juga sangat pemberani, dia tidak terlihat seperti wanita penggoda.


Apa aku kurang tampan?, ataukah memang ia yang rabun, dia tidak tergoda dengan tawaranku hah,


Justru karena hal ini Tuan Demian jadi kepikiran dengan wanita itu dan merasa penasaran.


Seumur hidupnya ia juga baru pertama kali bertemu dengan wanita yang berani menamparnya seperti Luna.


Sungguh ia tidak menyangka dan merasa tidak terima sendiri akan ini.


Kulitnya yang putih mulus membuat tamparan itu seakan membekas merah di pipinya.


"Jaka sini!"


"Cari tahu wanita ini dan cari dia sampai ketemu!,aku tidak memecatnya,jadi ia harus berkerja kembali disini"Memberikan sebuah daftar riwayat hidup milik Luna kepada lelaki itu.


"Baik Tuan Muda"


Menerima perintah dengan sangat sopan dan segera pergi meninggalkan ruangan ini secepatnya.


Luna memilih untuk berteduh dan duduk di halte bus dekat kantornya.


Menantikan kehadiran seseorang yang akan menjemputnya kemari.


Siapa lagi kalau bukan Edward orang yang sedang di nantikan-nya saat ini.


Selang beberapa menit mobil berhenti tepat di depan wanita yang sedang duduk termenung ini.


Pakaian yang ia kenakan tampak rapi dan cantik karena masih memakai pakaian kantor.


Sementara salah seorang laki-laki langsung turun dari mobil dan menghampirinya.


Dia kan yang tadi,mau apa si dia..


Luna langsung berdiri dan mencoba untuk pergi menghindari orang ini.


Sepertinya ia tampak sedikit takut kepada anak buah dan CEO songong itu.


"Tunggu Nona.."


Apaan si,dia tidak mengikutiku kan..

__ADS_1


Terus berjalan cepat meninggalkan halte ini untuk menghindari lelaki itu yang terlihat menghampirinya.


"Nona tunggu.."Dengan cepat lelaki ini sudah berada tepat di hadapan Luna.


"Ada apa si, kenapa kau mengikutiku?.."Merasa tegang sendiri Luna,ia ingin segera lari darinya sekaligus merasa takut sendiri.


"Maaf Nona, anda harus kembali ke kantor sesuai perintah Tuan muda dan kembali bekerja seperti biasanya.."


"Tidak, maaf,aku sudah di pecat dan aku juga tidak ingin berkerja di kantor itu lagi"


"Tidak bisa,Nona harus kembali ke kantor karena ini perintah Tuan muda.."


"Maaf pak,saya tidak bisa.."


"Tapi Nona,anda harus kembali dan menemuinya saat ini"


"Untuk apa?"


Lelaki itu menarik tangan Luna dengan paksa untuk segera masuk ke dalam mobil agar mau kembali ke kantor lagi.


"Ih.. gak mau..,pak..pak... apaan si pak?"


"Tin..tin.."Suara klakson dengan keras mendengung di telinga keduanya yang sedang gaduh itu.


Seorang lelaki dengan cepat turun dari dalam mobil dan menghampiri keduanya.


"Bughkk..."Pukulan keras langsung ia tunjukkan kepada lelaki brengsek yang mencoba memaksa Luna itu untuk masuk ke dalam mobil.


"Brengsek,beraninya kau mengganggu Luna ku,apa yang kau lakukan hah?"


Sudah mencekik kerah baju kemeja lelaki ini dan menyudutkannya ke samping mobil.


Melihat Luna yang di paksa seperti itu benar-benar membuatnya tidak suka dan marah.


Luna ku,


Kenapa Edward selalu berlebihan begini, seandainya dia tahu kalau aku selalu terbawa perasaan akan perkaranya.


"Edward.."Luna tidak ingin melihat jika akan ada kegaduhan di pinggir jalan seperti ini.


"Maaf,siapa kau?,dan aku hanya menyuruhnya untuk kembali ke kantor untuk bekerja, kenapa anda memukul saya?"Berbicara sengit sambil menatap Edward kembali.


"Kenapa kau harus memaksa seseorang untuk bekerja, bukankah Luna ku sudah di pecat dari kantor busuk mu ini,apa kau juga ingin tahu siapa aku ini hah?,aku adalah calon suaminya, jadi jangan berani-berani menggangunya, apalagi menyentuhnya!,kau paham itu?"Melepaskan cengkeramanya dengan kesal kepada orang ini.


"Ayo Luna,kita pulang.."Menggandeng tangan Luna begitu saja untuk masuk ke dalam mobilnya.


Sementara Luna masih terdiam sambil mengikuti langkah Edward yang menuju ke arah mobilnya.


Edward...,


"Tidak usah berkerja lagi disini,kau tidak perlu capek-capek cari uang,aku yang akan memberikannya untukmu"


Segera membukakan pintu mobil untuk Luna, lalu keduanya pergi meninggalkan tempat ini begitu saja.


Sementara lelaki itu menatap kepergian mobil itu dengan sinis, sambil memegangi pipinya yang terasa sakit saat ini


Sial,aku pasti akan di marahin bos nantinya,mana sakit banget lagi...


Masih memijat-mijat pipinya sendiri dengan lembut karena terasa sakit.

__ADS_1


__ADS_2