
Berjalan menelusuri jalan komplek,Luna benar-benar merasa bosan.
Rasa laparnya kian melanda,ia ingin menghirup udara segar untuk melepaskan rasa kesalnya.
Sementara untuk makan di rumah itu ia tidak memiliki selera sama sekali.
Matanya berdenyut, melihat kesana kemari para penjual kaki lima yang berjejeran setelah keluar dari jalanan komplek.
Terlihat berbagai aneka makanan dan jajanan yang mereka jual.
Melihat salah satu penjual martabak gerobak membuatnya benar-benar teringin mencicipinya karena lapar.
"Bang, persen martabak sepesial-nya satu box yah"
"Iya mba, di tunggu yah.."
Terdapat tempat duduk kayu panjang yang terdapat di dekat grobak milik penjual keliling itu.
Dengan diam Luna duduk dan termenung. Pastilah ia banyak pikiran yang sedang melanda pikirannya itu.
Bahkan matanya terlihat sayu dan memerah, sepertinya kondisi tubuhnya sedang melemah.
Seharusnya wanita hamil sepertinya harus memiliki kehidupan yang tenang dan penuh kedamaian.
Tapi kali ini tidak, ia harus hidup dengan suasana yang gudah di setiap harinya.
"Tin..tin.."Suara klakson mobil menyadarkan Luna yang sedang terdiam termenung itu.
Sebuah mobil berhenti di samping gerobak martabak ini.
"Bang 3 box sepesial yah, seperti biasa.."
"Siap bos..!"
Sepertinya antara penjual dan pelanggan ini mereka sangat dekat dan saling mengenal, terlihat dari lagat penjual yang begitu akrab saat berbicara.
Namun sepertinya ia tidak melihat kehadiran wanita cantik yang ada di sebelah kiri samping grobak yang sedang duduk itu.
kenapa pandangan ku semakin gelap, kenapa semakin tidak jelas begini si,
Menggelengkan kepalanya sesekali untuk menghilangkan rasa pusing ini,namun ia justru merasa semakin pusing dan malah jatuh pingsan.
"Brugh..."Terjatuh pingsan Luna, membuat penjual itu kaget dan spontan menghadap ke arah wanita ini.
"Eh...mba..mba..mba kenapa mba?"Penjual itu terlihat panik sekali, sementara yang berada di dalam mobil ini menjadi penasaran dan memajukan mobilnya sedikit ke depan untuk melihatnya semakin dekat.
"Ada apa si?"Semakin penasaran dan langsung saja turun dari mobil setelah melihat seorang wanita yang pingsan.
"Mba bangun mba?..mba..ini martabaknya,aduh... gimana nih..?"
"Ada apa si?"
"Dia pingsan bos, gimana nih?"
Sepertinya dari gayanya berpakaian ia berasal dari keluarga terpandang.
Melihat baju dress yang cantik yang di kenakan oleh wanita itu membuat kening lelaki itu berkerut.
"Dia orang mana?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu bos.."merasa bingung sekali penjual itu.
"Dia terlihat pucat sekali,ya sudah masukan ke mobilku aku akan membawanya ke rumah sakit"Luna langsung di gotong ke dalam mobil.
"Cepat bikin martabaknya untukku..."
"Iya..iya.."
"Ddrrrttt...ddrrrttt.."Getaran panggilan yang masuk ke ponsel lelaki ini.
"Gawat Tuan Muda..."Segera mengangkat panggilan itu dan mendengarkan ocehan orang yang memanggilnya.
"Siap,baik Tuan Muda, saya akan segera kesana sekarang.."Mengakhiri panggilan
"Argh...,martabak ku..,bang cepet!"Teriaknya tidak sabar dari dalam mobil.
"Baru satu box bos,dua sama punya mba..mba tadi.."
"Ah..ya udah sini,dua box nanti malam aku kembali"
Haha...terlihat terburu-buru sekali ini orang, sepertinya ia habis di marahi di telepon oleh majikanya tadi.
Mobil sudah putar balik memasuki jalan tol, sambil mendengarkan alunan musik yang berdendang.
"Eh.. bukanya seharusnya aku mengantarnya ke rumah sakit, tapi aku malah sudah memasuki jalan tol, gimana nih mana udah jam segini lagi,
mana mungkin aku putar balik,ah..ya sudah lah aku bawa saja dulu, siapa tahu Tuan Muda yang akan memeriksanya..."
Sesampainya di depan gedung pengadilan agama, lelaki ini langsung turun dari mobil untuk menemui majikanya yang sudah selesai berurusan itu.
"Semua urusan sudah selesai Tuan Muda?"
"Tapi Tuan Muda anu..."
"Cepat.."Langsung membuka pintu dan main masuk saja ke dalam mobil.
"hah..!"Tercengang, mendapati seorang wanita yang tergeletak di dalam jok mobilnya,lalu keluar kembali menatap supirnya.
Wajah wanita ini nampak tertutup oleh helaian rambutnya yang panjang.
"Si..siapa dia?"
"Anu..itu sa..saya juga tidak tahu Tuan Muda,aku menemukannya di jalan"
"Ah...kau ini, bagaimana bisa kau menemukanya di jalan lalu memasukannya ke dalam mobilku.."
"Aku tahu Tuan Muda, siapa tahu anda bisa menolong nantinya,jadi aku bawa hehe.."menggarukan kepalanya merasa bingung.
"Argh kau ini,..ya sudah cepat!"masuk kembali ke dalam mobil.
Lalu ia menyentuh kepala wanita ini dengan lembut dan hati-hati untuk berusaha memindahkannya, namun melihat paras wajahnya yang tak asing membuatnya mengerutkan dahinya.
"Luna.."menyelipkan helainya rambutnya ke telinganya,lalu ia duduk dan membaringkan kepalanya kembali di tumpuan kakinya itu.
"Hah.., anda kenal Tuan Muda?"
"Tidak,dia pasienku yang kemaren.."
Cantik juga kalau lagi pingsan...,
__ADS_1
Eh apa yang aku katakan, bagaimana bisa aku memperhatikannya,
"Ambilkan tas medis ku,aku akan memeriksanya"
"Bararti jika ia pasien Anda saya tidak salah kan Tuan Muda,karena telah membawanya kemari, karena ia beneran pasien Anda jadi aku tidak salah!"
"Tetap saja salah!, potong gaji!, dasar merepotkan ku saja.."Menatap sinis supirnya itu dengan kesal yang fokus menyetir.
"Ya ampun.., baiklah.."Tak ada daya untuk melawan.
Ucapan Tuan Muda tidak selamanya serius, walaupun dingin ia masih memiliki hati dan perasaan untuk seseorang.
"Kali ini aku memaafkan mu,awas saja mengulangi kesalahan ini lagi dan main masuk-masukkan orang ke dalam mobil ku,aku pecat kau..!"
"Iya,ampun Tuan Muda,terimakasih banyak juga.."
Ia segera memeriksa Luna dengan alat medis seadanya yang ia bawa.
"Kondisi tubuhnya lemah sekali,detak jantungnya berdetak begitu kencang, sepertinya ia sedang mengalami tekanan darah, suhu tubuhnya juga panas sekali 39 derajat.., Cepat bawa ia ke rumah sakit,kita putar balik, kasian dia sedang hamil, oksigen yang ada di tubuhnya juga berkurang.."
"Tapi pertemuan anda Tuan Muda?"
"Batalkan, sudah tak usah banyak tanya!,ayo putar balik!"
"Siap Tuan Muda.."
Kenapa aku merasa Tuan Muda itu khawatir.
Menuruti Tuan mudanya dan langsung putar balik memotong jalan.
Keduanya langsung melanjutkan perjalanan menuju ke rumah sakit.
Kenapa dia itu selalu sendirian,aku tidak pernah melihatnya bersama suaminya?, sebenarnya dimana suaminya..,
Terdiam menatap wanita pingsan ini,lalu ia mengingat perkataan Edwin yang berteriak waktu di rumah sakit.
'Kak, tapi suaminya menikah lagi,aku yakin sebentar lagi mereka akan bercerai..'
Menggelengkan kepalanya sendiri untuk menghilangkan pikiran buruknya yang terpengaruh dengan perkataan ini.
"Cih, bagaimana bisa Edwin mendo'akan nya begitu jahat,apa dia di terlantarkan oleh suaminya karena menikah lagi.."
"Ah..ini bukan urusanku, kenapa juga aku penasaran"
Tuan muda lagi ngomong apa si, bisa-bisanya dia mengoceh gak jelas...
Terdiam, namun telinga ini merasa penasaran dan terus memasang untuk mendengarkan ocehan Tuan Muda di dalam mobil.
Sesampainya di rumah sakit para perawat berdatangan sambil membawa Barankar dorong untuk Luna.
Luna benar-benar pingsan sangat lama, sepertinya keadaan benar-benar ngedrop dan lemah.
"Sus bawa dia ke ruangan VIP ku,aku akan segera memeriksanya..."
Dokter muda itu langsung memasuki ruangan ganti dan berganti pakaian.
Sementara Edwin yang sibuk menghadap ke layar leptopnya langsung keluar dari ruangan khusus yang mereka miliki di rumah sakit ini.
"Ada apa ini, kenapa ribut sekali.."
__ADS_1