Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Di salahkan


__ADS_3

Pagi ini Luna tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.


Ia memasak di dapur untuk sarapan pagi suaminya.


Mungkin suaminya memang sedang salah paham saat ini,tapi ia terus mencoba untuk mendekatkan diri kepadanya dan menjelaskan pelan-pelan untuk masalah ini nantinya.


Pelayan juga terlihat sibuk membereskan ruangan rumah ini, sesekali ada satu pelayan yang menghampirinya untuk membantu.


"Boleh saya bantu Nona?.."


"Boleh,cuci-in sayur yang ini yah!, nanti taruh saja di meja..."Menunjukan sebuah wadah yang berisi sayur hijau untuk di cuci kepada pelayan tadi.


Nona Luna baik banget, rajin juga,


ia benar-benar tidak seperti Nona Swara yang malas,jam segini saja ia belum bangun.


Selang beberapa menit kemudian Swara datang ke arah dapur.


Mendapati Luna yang sedang memasak membuatnya tertarik untuk bergabung.


"Wah... kau sedang memasak Luna?, aku juga mau dong, ajarin aku memasak buat suamiku...."


suamiku?,


kau hanyalah wanita perebut suami orang,


dia itu milikku bukan milikmu.


"Aku sedang sibuk,di internet kan ada, belajarlah dari situ..!".


Sial, beraninya dia menolak permintaanku


"Oh.. Jadi kau tak mau mengajariku, baiklah aku akan bilang mas Alfian kalau kamu tak mau kita itu saling bantu.."


Wanita ini benar-benar yah,


"Baiklah, aku akan mengajarimu memasak, cuci ayam ini untuk di bumbui"


"Ih...ogah.., jijik tahu gak!, baunya saja aku malas menciumnya, apa lagi mencuci, kau saja yang mencuci!,nanti aku yang akan membumbui,kau tinggal bilang saja apa bumbunya"


"Pemalas..."


"Apa kau bilang?"


"Tak dengar baguslah.."


"Jaga ucapanmu ya Luna,ini adalah rumahku, kau harus belajar menghormati ku..."


"Menghormati wanita Pelakor seperti mu?, sepertinya tidak perlu!, Tapi baiklah Nona...,aku akan menghormatimu sepenuh hati.."Meremas daging ayam yang sedang ia pegang untuk melampiaskan amarahnya ini.


"Ini tinggal di bumbui dan di goreng!"Terseyum sengit menatap wanita Pelakor ini sambil memberinya satu wadah ayam yang sudah di cuci.


"Apa bumbunya..?"


"Di internet kan ada Nona, bukankah aku sudah bilang,apa mau aku ajarin saja?, biar Nona ngulek yah, gimana?.."Sudah geram nih Luna, mungkin jika perempuan lain sudah menjambak dan mencabik-cabik rambutnya.


"Ih.. ogah, Nanti tanganku kasar lagi pegang ulekan,mana yang bumbu racikan kan ada...?"

__ADS_1


Dasar manja...


Tak bisa berkata-kata lagi, Luna langsung mengambilkannya dan memberikan kepada wanita ini dengan diam.


Beberapa menit saatnya menggoreng,Luna benar-benar membiarkan wanita itu untuk memasak Ayam dan menggorengnya sendiri.


Karena ia sendiri sedang sibuk untuk membuat perkedel.


Minyak goreng sudah mulai panas,lalu Swara memasukan ayam yang ada di tangannya itu ke dalam kuali dengan grogi.


Posisi ayam itu juga masih begitu basah, mengakibatkan minyak yang panas itu langsung muncrat-muncrat ke tangannya karena ia sedikit terburu-buru juga saat memasukannya ke dalam kuali.


"Aw.. panas..,ih ini bagaimana si ko muncrat-muncrat.."Berteriak kencang merasa kesakitan


Sementara Luna hanya diam saja tak merespon,ia terlihat tidak peduli dengan teriakannya


"Sakit...huft....huft"Kebetulan melihat suami yang sudah terbangun membuatnya langsung berlari meninggalkan penggorengan itu begitu saja.


"Sayang... sakit, Luna tidak mau mengajariku memasak, ia menyuruhku untuk menggoreng ayam sebanyak itu, lihat tanganku melepuh, sakit...."Berlagak manja, seolah-olah ia benar-benar menyalahkan Luna tentang ini.


Dia menyalahkan ku sekarang, benar-benar keterlaluan,


bukankah dia yang meminta sendiri tadi,


"Luna!,apa yang kau lakukan?,kau menyuruh Swara untuk memasak?"Bertanya kesal menatap istri pertamanya itu,ia terlihat begitu membela dan menyayangi Swara.


"Kau lebih percaya dia dari pada diriku?,kau yakin kalau aku yang menyuruhnya?"Menatap suaminya dalam-dalam, melihat tatapan Luna membuat suami gusar dan tak ingin melihatnya lagi.


"Bersikaplah dengan baik,aku tidak ingin dengar kalau Swara sampai terluka lagi.."


Dia benar-benar membenciku, bahkan ia tidak sedikitpun peduli pada ku yang sedang mengandung anaknya ini,


Sementara Swara merasa begitu bahagia dengan penuh senyuman kemenangan di rangkulan suaminya ini.


Waktu sudah menunjukkan pukul Delapan pagi.


Alfian juga sudah terlihat rapi berganti pakaian kantornya.


Makanan yang enak-enak sudah tersaji di atas meja, masakan Luna tentunya, siapa lagi jika bukan dia, biasanya pelayan,tapi kali ini Luna sudah masak terlebih dahulu.


Kemudian Swara juga terlihat berpenampilan rapi berjalan menuju meja makan, sepertinya ia akan ikut suaminya pergi ke kantor.


Mereka berdua akan sarapan pagi, melihat istri pertamanya yang tidak terlihat membuat mata ini menjalar kemana-mana karena mencari.


"Panggil Luna!, suruh dia sarapan..!"


"Iyah.."


kenapa si dia masih peduli sama Luna, biarin aja dia mati kelaparan, kenapa dia masih peduli coba?, menyebalkan sekali dia ini.


Dengan kesal menuju ke kamar Luna dan main masuk saja, Terlihat Juga Luna yang sedang mengeringkan rambutnya karena habis keramas.


"Apa yang sedang kau lakukan?, cepat keluar!, kita sarapan,aku sudah lapar....,Brakkk"Menutup pintu tanpa menunggu jawaban darinya terlebih dahulu.


Jika tak ingin mengajak ya tak usah mengajak lah, lagian aku bisa kali sarapan sendiri.


"Sabarkan aku ya Tuhan..."

__ADS_1


Sedangkan Luna masih begitu berantakan, bahkan ia masih memakai handuknya dan sibuk mengeringkan rambut.


Sudah beberapa menit mereka menunggu Luna, ia tak muncul juga ke ruang makan.


"Kau sudah memangilnya sayang?, kenapa dia lama sekali?"


ohh berarti kau menunggunya, menyebalkan sekali


"sudah,tapi dia tidak ada di kamar, sepertinya dia sedang mandi, sebaiknya kita makan dulu aja sayang,ini sudah siang,nanti kita telat.."


Langsung menyiapkan makanan untuk suaminya dan dirinya,dan akhirnya karena ucapan Swara yang berbohong membuat keduanya makan terlebih dahulu.


Selesai makan Luna juga belum datang ke meja makan juga, sedangkan waktu sudah begitu siang.


"Sedang apa dia?, kenapa belum datang juga?"sudah berdiri dari duduknya untuk menghampiri istri pertamanya itu.


"Eh.. sayang, kata Papah suruh berangkat sekarang, sudah lah...!, nanti juga dia makan,ayo kita nanti telat...."Mencegah suaminya untuk memanggil wanita itu.


Aku benar-benar melarangmu untuk peduli dengannya Alfian, biarkan dia tidak makan dan tidak betah disini,aku benar-benar merasa muak denganya


"Iya sudah tunggulah aku mau mengambil jam tangan"Pergi meninggalkan ruangan ini.


"Biarin aja dia gak makan sekalian biar tau rasa..."Mengambil piring-piring makanan itu, entah apa yang akan ia lakukan dengan makanan itu.


"Makanan tidak enak..,aku tidak doyan"Dengan teganya Swara membuang makanan-makanan itu ke tong sampah.


Rasain..,


masaklah lagi, jadi capek sekalian,


Langsung berlari menuju ke ruang tengah untuk menunggu suaminya di sana.


Hanya selisih beberapa detik saja Luna muncul dari pintu kamar dan berpapasan dengan suaminya yang baru saja keluar kamar.


"Jangan Lupa makan!,kau harus menjaga anakku yang ada di kandungan mu itu, jangan sampai kau telat makan!,aku begini bukan berarti aku perhatian,aku hanya peduli dengan anakku...."


Mendengar perkataan suaminya ini terasa begitu menyakitkan baginya, namun bagi Swara ini terdengar sangat indah dan membahagiakan.


"Ayo sayang kita berangkat!"


"Iya sayang"


Merangkul tangan suaminya dan terseyum pergi meninggalkan Luna.


Kau pikir aku akan menyerah Swara, wanita sepertimu harus aku hancurkan, mungkin sekarang kau menang,


lihat saja nanti..,


Menuju ke meja makan,ia tidak melihat ada satupun menu makanan yang ada disitu, membuatnya bingung dan bertanya-tanya.


"Kemana semua menu makanan yang aku masak?"Mencari dan melihat piring yang berceceran di atas meja, kebetulan di bawah meja itu tepat sekali tong sampah.


"Siapa yang membuang makanan ku ke tong sampah?, benar-benar keterlaluan.."


Ingin menangis rasanya, Namun Luna berusaha untuk menahannya,jika tidak ia akan merasa lemah sendiri dan pedih hatinya karena menahan rasa sakit.


Baiklah, mungkin sekarang aku tidak boleh diam saja,aku harus melawannya,aku harus bertahan untuk ini,aku harus kuat,

__ADS_1


semua ini bukan untukku, tapi untuk anakku,


__ADS_2